Bismillah Aja lah!

Melepas dahaga dengan meminum es dele (jenis minuman dari sari kedelai) di bawah naungan pohon yang tidak begitu rindang tetapi cukup melindungi dari teriknya langit Surabaya, merupakan momen “memanjakan diri” yang bisa kamu lakukan untuk melewati siang hari yang menyengat. Aku menikmatinya kecuali harga es delenya yang lebih mahal Rp.500,- dibanding harga es dele yang biasa aku beli.

Kenaikan harga adalah hal yang perlu kamu terbiasa dengannnya. Dulu ketika baru masuk kuliah, harga segelas es teh hanya 500 perak. Di tahun kedua perkuliahan naik menjadi Rp.1000, saat itu aku ‘mogok’ untuk membeli es teh. Sebenarnya bukan mogok tapi terpaksa karena dana bulanan sudah membengkak. Kelamaan aku mulai rutin lagi cangkruaan es teh, aku sudah bisa menerima kenaikan harga dan aku pikir harga segitu ternyata masih murah.

Sekarang harga segelas es teh Rp1500. Awal-awal naik, sama aku kembali ‘mogok’ minum es teh. Baru setelah terbiasa, rutin lagi cangkruaan es teh dan aku rasa harga segitu masih murah. 2 tahun lagi atau tahun-tahun mendatang, harga es teh dan juga kebutuhan pokok lainnya akan terus naik dan aku akan kembali berkomentar, “harga segitu ternyata masih murah.”

Sayang kenikmatan sedot-menyedot es dele mendadak buyar ketika bapak penjual es dele itu kepergok mengucek-kucek gelas yang habis dipakai orang lain tanpa dicuci pakai sabun. Alamak, bersih gak tuh gelas? Gelek!

Jadi teringat ketika makan di warung mak dekat kampus dulu. Sedang enak-enaknya menyantap nasi pecel dengan lauk ayam goreng, tanpa sengaja aku melihat mak penjual nasi pecel itu mencampurkan sachet Marimas ke dalam adonan tepung gorengnya. Ingat Marimas bukan sejenis bumbu masakan tapi buat minuman. Aku menatap lauk ayam gorengku dan berguman , “oh inikah ayam goreng rasa “Marimas’ yang terkenal itu.”

Aku bukannya suka milih-milih makanan, cuman setidaknya makanan itu harus memenuhi syarat halal dan higienis. Ah aku lupa sebagai kaum elit (ekonomi sulit) sepertiku berlaku hukum “jika murah jangan harap bermutu, kalau bermutu jangan harap murah”.

Ya sudahlah, pengalaman gelas yang cuman kucek-kucek, ayam goreng rasa Marimas, mengingatkanku untuk mengucap “bismillah aja lah!” []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s