Merokoklah?


Di bawah atap langit. Di seberang jalan gang kecil, tempat biasanya mondar mandirnya tikus celurut, tengah berkumpul segerombolan anak yang aku perkirakan mereka adalah pelajar SMP. Yang membuat tidak biasa, mereka nonkrong sambil merokok. Ok, anak SMP merokok itu pemandangan biasa. Hanya saja jangan dibiasakan anak usia dini sudah merokok!

Munafik jika aku tidak pernah bersentuhan dengan namanya rokok. Sama, aku pun pertama kali mencoba merokok ketika usia tingkat SMP. Sayang percobaan pertama kali itu gagal karena aku dibuat batuk. Beruntung aku batuk, coba jika merokok itu nikmat mungkin aku akan ketagihan dan merokok lagi di kesempatan berikutnya.

Dulu bapakku perokok kelas berat. Aku mengatakan demikian karena kelas teri membeli rokoknya paling satu bungkus. Kalau bapakku tidak, beliau jika pulang ke rumah membawa 1 pack rokok (1 pack = 10 bungkus rokok). Aku mencoba merokok pun karena ‘termotivasi’ bapak yang juga perokok. Cuman suatu ketika, bapak pernah sakit dan semenjak itu aku tidak pernah melihat bapak merokok lagi!

Godaan untuk merokok tentu akan selalu hadir, apalagi ketika kuliah jauh dari orang tua dan ditambah teman-teman mahasiswa adalah perokok. Tiap kali berkumpul dengan mereka, katanya sebagai bentuk kesetiakawanan, mereka menawarkanku sebatang rokok. Tapi aku teringat dengan trauma pertama kali mencoba merokok dan meingat bapak yang sakit cukup parah karena aktif merokok, membuatku mempunyai alasan kuat untuk menolak tawaran mereka.

Mungkin kita yang bukan merokok aktif, merasa heran dengan mereka yang perokok. Apa nikmatnya ‘menelan’ asap? Aku rasa hanya perokok dan Tuhan si perokok yang tahu.

Aku tidak bermaksud untuk melarang merokok. Berdasar pemahamanku, merokok hukumnya mubah (boleh). Cuman ada saja orang yang memanfaatkan ke-mubah-an merokok. Sudah tahu di ruang ber-AC dilarang merokok, tetap saja merokok. Di angkutan umum dimana di dalamnya ada anak-anak, masih ada saja yang merokok. Aku sebut mereka adalah perokok lebay!

Pernah pula aku mendengar, jika melarang perokok untuk merokok sama saja melarang orang untuk makan nasi. Nah ini termasuk juga perokok lebay. Kamu bisa makan jagung sebagai pengganti nasi, atau makan roti atau apalah yang mengenyangkan. Kamu bisa mengganti rokok dengan makan permen karet misalnya!

Banyak alasan mengapa orang merokok. Bagi anak-anak muda, mungkin merokok itu keren. My life my adventure, merokok adalah sebuah petualangan katanya. Sedangkan bagi kaum tua, merokok merupakan kebiasaan yang terbentuk di masa muda. Tidak bisa dikatakan merokok itu mencintrakan kejantanan karena merokok sendiri penyebab impotensi. Kamu bisa mengatakan merokok itu keren tapi jika kamu mati karena ketagihan merokok, itu tidak keren! []peta

Gambar dari sini.

7 thoughts on “Merokoklah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s