Tukang Dakwah

Dunia anak-anak memang dunia untuk berimajinasi, termasuk saya yang pernah mengalami masa anak-anak. Selampir sarung, di tangan saya bisa berubah menjadi baju ninja atau baju zirah perang. Pedang kayu yang sampai kapan pun tidak akan pernah mengeluarkan sinar, tetapi dengan sedikit imajinasi berubahlah ia layaknya pedang cahaya di film Star Wars (belakangan saya tahu nama pedang itu adalah Lightsaber). Masih banyak lagi imajinasi lainnya ketika saya masih anak-anak, dan imajinasi itu dipengaruhi oleh kesukaan saya menonton televisi.

Zaman itu film yang digandrungi anak-anak, misal seperti Satria Baja Hitam RX, Dragon Ball, Pendekar Rajawali (Yoko dan Bibi Lung), dan masih banyak lainnya. Teman-teman saya sering meniru Tendangan Maut ala Satria Baja Hitam, sayangnya yang menjadi korban adalah saya sendiri karena tendangan itu mengarah kepada saya. Saya tentu tidak tinggal diam, saya membalas mereka dengan jurus Kamehame Son Goku, jurus yang bisa menghancurkan gunung berkeping-keping, tapi entahlah jurus itu tidak pernah mempan kepada mereka.

Waktu itu saya pernah berkeinginan untuk menjadi Satria Baja Hitam, keren rasanya bisa menaiki Belalang Tempur (sepeda motor yang dipakai Satria Baja Hitam). Pernah pula ingin menjadi Macgyver, seorang jagoan yang tidak mempunyai jurus Kamehame seperti Goku atau Belalang Tempur seperti Satria Baja Hitam, tapi seorang jagoan yang jenius dan kreatif. Bermodalkan sebilah pisau, Macgyver sudah bisa membuat Bom atau alat berguna lainnya untuk melawan musuh. Semakin bertambahnya umur, keinginan saya bergeser untuk menjadi anggota DPR. Terispirasi ketika transisi masa reformasi, dimana anggota DPR sering diliput oleh media. Menjadi anggota DPR tampak sebagai orang yang terhormat (sekarang dimata saya mereka tidak ada terhormat-terhormatnya sama sekali).

Saya menyadari keinginan-keinginan saya mulai dari kecil sampai saat ini karena dipengaruhi hal yang menarik minat saya. Terbaru saya ingin menjadi penulis dan menghasilkan buku layaknya J.K Rowling hanya karena betapa kayanya J.K Rowling, padahal pekerjaanya ‘cuman’ menulis. Ketika mengikuti training Islamic LeaderShip Training dimana trainernya adalah Ust Felix Siauw, mata saya terbuka lebar dan saya mengatakan saya ingin seperti ust Felix Siauw, menjadi tukang dakwah.

Saya pernah pula mendengar kajian Ust Dwi Condro yang ‘mengguncang’ pemikiran saya. Seusai kajian, saya membeli buku karya Ust Dwi Condro yang berjudul “Ilmu Retorika Untuk Mengguncang Dunia”, dengan harapan saya bisa beretorika seperti Ust Dwi Condro. Cuman setelah khatam buku itu, saya masih terbata-bata ketika berbicara di depan orang (banyak) bahkan mengguncang pun tidak!

Apakah saya akan mencoba hal lainnya? Bisa jadi. Hanya saja yang terakhir itu tetap harus saya lakukan. Bukan karena perkara minat atau tidak, passion atau tidak, tapi mendakwahkan Islam adalah perkara wajib. []peta

3 thoughts on “Tukang Dakwah

  1. kalau aku sih, aku tidak menyebut tukang dakwah, tapi pejuang dakwah atau petarung Islam. aku berimajinasi aku bertarung melawan masyarakat, terutama ahli maksiat, tokoh sekuler, nasionalis, liberal dan semua pro barat. aku bersejata pedang. pedang itu simbol kata-kata atau ilmu karena peribahasa arab berkata kata-kata itu leih tajam dari pedang.
    bertarung!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s