Khilafah Itu Utopis?

Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa ide pendirian Khilafah Islamiyah adalah ide yang utopis, khayal, sedang berimajinasi, atau mimpi di siang bolong. Apakah benar demikian? Tulisan ini bukan bermaksud menjawab utopis tidaknya pendirian Khilafah tapi lebih memfokuskan pada utopis/imajinasi itu sendiri.

Menurut kamus sakti bahasa Indonesia, utopis diartikan bersifat khayal; orang yg memimpikan suatu tata masyarakat dan tata politik yang hanya bagus dalam gambaran, tetapi sulit untuk diwujudkan. Demikian pula imajinasi adalah daya pikir untuk membayangkan (dalam angan-angan).

Menarik mengutip pendapat ilmuwan seperti Albert Eistein yang pernah mengatakan , “imagination is more important than knowledge“. Mengapa Eistein beranggapan seperti itu? Jika kita memperhatikan peradaban modern saat ini, memang tidak bisa lepas dari produk imajinasi manusia. Dulu manusia berimajinasi bisa melakukan telepati yaitu melakukan komunikasi jarak jauh, sekarang imajinasi itu menghasilkan telepon seluler.

Meski tidak mempunyai kemampuan untuk terbang selayaknya burung di angkasa, manusia berimajinasi untuk bisa terbang dan saat ini imajinasi tersebut berbuah pesawat terbang. Masih banyak lagi yang awalnya sekedar imajinasi tapi kemudian atas jerih payah manusia, imajinasi tersebut dapat diwujudkan meski tidak sama persis seperti yang diangan-angankan.

Tidak ada yang salah dengan berimajinasi. Di dunia imajinasi, hal yang tidak logis bisa dilogiskan, yang tidak ada bisa di-ada-kan, bahkan dengan imajinasi kita bisa menciptakan dunia kita sendiri. Memang beda antara berimajinasi dengan tukang khayal bedanya tipis. Diperparah dengan tidak ada daya upaya untuk mewujudan imajinasinya tersebut. Thomas Alva Edison oleh orang-orang awalnya dikatakan tukang khayal disebabkan idenya untuk membuat ‘matahari kecil”, tapi oleh Thomas Alva Edison tidak digubris dan tetap berusaha melakukan percobaan ribuan kali sebelum akhirnya berhasil membuat bola lampu.

Kembali ke persoalan Khilafah, apakah Khilafah merupakan hal yang mustahil diwujudkan? Tidak. Buktinya Rasulullah SAW mampu mendirikannya di Madinah, dilanjutkan oleh para Sahabat (dikenal dengan Khulafur Rasyidin), kemudian Khilafah Islam berlangsung 13 abad lamanya sebelum akhirnya diruntuhkan oleh Kemal Artatuk pada tahun 1924 di Turki.

Katakanlah pendirian kembali Khilafah Islam bersifat khayal atau utopis, apakah mustahil diwujudkan? Tidak juga. Buktinya ide Khilafah yang awalnya disuarakan oleh satu orang, atas daya upaya mereka yang memperjuangkannya dan tentunya izin Allah SWT, saat ini ide Khilafah mulai menggema di seluruh penjuru negeri, tidak hanya negeri-negeri Islam tapi juga negeri barat sana. Jika dukungan ini terus diraih, bukan hal yang mustahil Khilafah Islam bisa diwujudkan.

Jika dikatakan sulit untuk mendirikan Khilafah Islam? Ya memang sulit, tapi kesulitan tersebut bukan alasan untuk tidak memujudkannya.

Apabila mau berpikir terbuka, konsep demokrasi merupakan konsep yang utopis. Konsep demokrasi yaitu dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat sampai saat ini belum benar-benar terwujud. Bagaimana rakyat kecil bisa berkesempatan untuk menjadi wakil rakyat di parlemen, apabila biaya yang dibutuhkan untuk mengikuti pemilu membutuhkan biaya yang sangat besar. Akhirnya yang duduk di parlemen adalah orang yang setidaknya mempunyai modal atau dimodali. Ditambah wakil rakyat tersebut bukan murni pilihan rakyat tapi pilihan partai dimana rakyat ‘dipaksa’ untuk memilih mereka.

Konsep demokrasi sejatinya adalah konsep yang benar-benar utopis atau kalau tidak mau dikatakan mustahil bisa diterapkan di negeri-negeri mayoritas muslim. Konsep demokrasi yaitu rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat, artinya pembuat hukum adalah rakyat (manusia). Konsep ini bertentangan dengan Islam, dimana hak prerogatif membuat hukum hanyalah Allah SWT (inil hukmu illah lillah). Toh pada akhirnya konsep demokrasi dipakai juga oleh negeri-negeri muslim. Hal ini tidak terlepas dari akal-akalan negara-negara barat baik dengan cara softpower (penyebar luasan ide) atau dengan hardpower (melalui militer seperti yang terjadi di Irak ataupun Afghanistan).

Demokrasi yang utopis itu ternyata bisa juga diterapkan, apalagi Syariah Islam dalam konstitusi Khilafah yang sumbernya pada ajaran-ajaran Islam. Pada akhirnya yang utopis menjadi tidak utopis lagi jika benar-benar diupayakan dengan sungguh-sungguh! []peta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s