Subsidi Rakyat..

Tidak sulit untuk menemukan Bhumi. Kau bisa menemukannya di kamar kost, kalau tidak ada coba cari di warung cangkruaan. Dia sering berada disana untuk sekedar menyesap kopi, makan gorengan, atau baca koran.

Menurutku alasannya cuman satu, biar bisa baca koran sepuasnya. Cuman menurut penuturan Bhumi, berada di warung cangkruaan kamu bisa mengetahui perilaku mahasiswa (yang biasa cangkruaan rata-rata memang mahasiswa). Berdasar pengamatan Bhumi, para mahasiswa mempunyai energi yang tak terbatas. Bayangkan saja untuk remeh temeh seperti main kartu remi, mahasiswa itu sanggup bermain sampai semalam suntuk (bergadang), bagaimana jika mereka mengerjakan hal yang lebih berguna tentu masih banyak energi yang tersisa.

Seperti kataku tadi, lihat Bhumi sedang duduk di warung cangkruaan dan lihatlah kakinya diangkat ke atas kursi, gaya yang sama jika dia makan di warteg. “Oi Pet,” Bhumi memanggilku, “Kebetulan kamu ada disini, coba baca koran ini!”

Aku mengambil koran itu. Mataku tertuju pada tulisan yang di tunjuk oleh Bhumi. “Baca ini, ditulis oleh penulis yang kamu kagumi!”

Tulisan itu berjudul “Gotong Royong untuk 86,4 Juta Orang Miskin”, ditulis oleh mantan CEO koran ini sendiri yaitu Pak D.I. Aku membacanya dengan seksama, aku pastikan akan ada suatu yang menarik dari tulisan pak DI sama seperti tulisan-tulisan beliau sebelumnya.

“Kamu sudah membacanya?” tanya Bhumi. “Bagaimana menurutmu tentang tulisan itu?”

“Ya aku sudah membacanya. Seperti biasa tulisan beliau menggebu-gebu penuh semangat. Membacanya seperti tersalurkan sebuah semangat baru.” Ujarku pada Bhumi.

“Semangat yang tersalurkan, ya aku setuju denganmu. Cuman kau baca baik-baik, dengan pikiran terbuka, bukankah ada yang janggal dalam tulisan itu.” Kata Bhumi sambil mengangkat dua jarinya memberi tanda kutip ketika dia mengatakan janggal.

Aku tidak mengerti maksud Bhumi. Tulisan tersebut tentang layanan Askes yang berganti nama BPJS Kesehatan. Mulai 1 Januari 2014, kesehatan rakyat miskin dan hampir miskin ditanggung oleh pemerintah. “Maksud kamu gimana Mi, menurutku tidak ada yang janggal.”

“Payah kau ini. Coba kamu baca ini.” Telunjuk Bhumi mengarah pada sebuah pragraf. Tertulis disana, “Baru kali ini terjadi dalam sejarah Republik Indonesia pengobatan untuk seluruh orang miskin dan hampir miskin ditanggung oleh pemerintah.”

“Memang salahnya dimana Mi.”

“Oke aku kasih contoh begini. Misal ada orang tua yang membelikan anaknya mainan. Masa mau kita katakan, “Baru kali ini terjadi dalam sejarah kebapakan, seorang anak dibelikan mainan oleh bapaknya.” Janggal kan.

“Janggal sih, bapak membelikan anaknya mainan sudah hal biasa, malah termasuk kewajiban si bapak.”

“Betul, itu yang aku maksud. Seorang bapak tidak perlu bangga karena sudah memenuhi kebutuhan anak istrinya, karena itu kewajiban. Begitu pula pemerintah tidak perlu bangga telah memberi subsidi pada rakyatnya karena itu juga kewajiban pemerintah kepada rakyatnya.”

“Ow.. Terus subsidi itu bantuan apa bukan, Mi?”

“Jawab aja sendiri!” []

4 thoughts on “Subsidi Rakyat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s