Maduranese

Meski sama-sama berasal dari satu daerah, satu pulau lagi, tapi logat temenku itu terdengar ‘aneh’ ditelinga. Pulau Madura memang mempunyai empat kabupaten, uniknya tiap kabupaten itu mempunyai logat sendiri-sendiri walau sama-sama berbahasa Madura. Kalau bingung, coba amati orang Jawa. Bahasa Jawa-nya antara orang kediri dengan orang Surabaya, atau orang Jawa Timur dengan orang Jawa Tengah, jelas logatnya berbeda. Bahasa Jawa-nya orang Jawa Tengah katanya lebih halus dan calm (aku tidak begitu bisa membedakan, bagiku mereka sama-sama berbahasa Jawa). Mulai ngeh kan tentang perbedaan logat yang terjadi di Pulau Madura.

Masyarakat Madura memang unik, mulai dari orangnya, bahasa, logat, makanan, sampai leluconnya juga unik. Contohnya misal orang Madura yang dianggap buta warna karena tidak bisa membedakan antara warna biru dan hijau, atau tentang makanan di Madura sana yang terkenal dengan sate lalat, unik bukan. Kapan-kapan saya posting tentang ke-eksotis-an orang Madura yang terkenal cerdas itu.

Kalau di amati blogku ini jarang sekali mengekspose tentang pulau kelahiranku itu, maka dengan tulisan ini sekaligus menandai lahirnya kategori baru di blog ini yang khusus membahas “madura”. Aku harap lebih banyak menyumbang tenaga terutama pemikiran untuk kemajuan masyarakat Madura. Aku cukup senang, mulai banyak tumbuh organisasi-organisasi yang dirintis oleh pemuda Madura sendiri. Bahkan salah satu programnya yaitu Madura Mengajar.

Saat ini sepertinya sumbang pemikiran yang realistis bisa aku lakukan (mau nyumbang uang pembangunan pun dapat darimana coba), tapi jangan salah justru dengan ‘pemikiran’ semua berawal. Bukankah manusia itu ‘bergerak’ karena pemikirannya. Jika pemikirannya salah maka langkahnya pun keliru. Trust me!

Ya mungkin itu saja yang bisa aku tulis. Sebenarnya pengen update blog tapi tidak ada ide yang lewat. Cuman ingat kejadian obrolan tadi pagi, dari sana kepikiran untuk membuat kategori baru di blog karena aku pikir banyak yang bisa dieksplore tentang Pulau Madura. Terakhir supaya tidak kepanjangan seperti pidato Presiden yang panjang, ternyata berawal satu ide dapat memunculkan ide lainnya dan supaya tidak keburu hilang kurunglah ide tersebut dengan menulisnya. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s