Akil Mochtar

Berhubung Bhumi tidak mempunyai pekerjaan dan aku sedang menunggu panggilan kerja, maka banyak waktu yang kami habiskan bersama. Tempat nonkrong kami kalau tidak di warung cangkruaan ya di warteg. Seperti pagi tadi, aktivitas sarapan mungkin tidak perlu menghabiskan berpuluh-puluh menit tapi kami melakukannya. Menyita banyak waktu karena selain aktivitas makan memakan, kami juga mendiskusikan apa yang di diskusikan berita koran hari ini. Beruntung kami tidak pernah diusir oleh pemilik warung karena kelamaan di warungnya.

Kami duduk bersebelahan. Aku menatap Bhumi, raut mukanya terlihat serius. Matanya tertuju pada halaman depan koran. Aku mencoba melirik koran itu. Terlihat dengan jelas salah satu judul di halaman depan tersebut tertulis, “Artis Asmirandah Dijadwalkan Menikah Bulan Januari”. Aku tertawa geli membayangkan di benak Bhumi sekarang, pupus sudah harapannya karena janur kuning akan melengkung hihi.

Aku sudah lama mengenal Bhumi. Kebiasaannya aku sudah tahu persis, cuman jangan bertanya kolor yang dipakai Bhumi sekarang berwarna apa? Aku memang tahu, itu pun karena kolor yang dia punya memang warnanya sama. Aku juga tidak akan menanyakan mengapa warna kolornya semua sama, menurutku tidak penting. Sekaligus aku ingin menepis rumor yang beredar di masyarakat luas bahwa aku dan Bhumi terlibat hubungan ‘khusus’. Oh men, aku lelaki normal dan aku pastikan aku tidak mau bermain pedang-pedangan dengannya.

Kebiasaan Bhumi yang aku ketahui, misal setelah membaca halaman depan koran Bhumi tidak langsung membaca halaman berikutnya tapi langsung halaman paling belakang. Ya dia mempunyai kebiasaan membaca koran dari belakang ke depan. Aku pernah bertanya mengenai hal ini kepadanya. Katanya berita yang menarik itu ditaruhnya di halaman depan dan paling belakang koran. Katanya lagi dengan membaca koran dari belakang ke depan, dia bisa mengulang membaca koran itu dari depan ke belakang setelah membaca dari belakang ke depan, mengerti maksudku kan? Anak yang aneh atau lebih tepatnya kasihan. Karena tidak punya uang untuk berlangganan koran maka kami mesti ke warung cangkruaan dulu untuk sekedar membaca koran.

Nasi pecel yang aku pesan sudah diantarkan. Senagaja tidak langsung aku santap. Teorinya semakin cepat makanan kita habis makin cepat pula kita meninggalkan warung artinya koran pun tidak terbaca tuntas. Maka aku memakannya sendok demi sendok, pelan-pelan asal tidak keselek.

Koran yang kami baca adalah koran kebanggaan masyarakat kota ini. Pemiliknya dulu hampir tewas karena mengidap penyakit kanker liver stadium tingkat tingkat tinggi. Tingkat berapa aku tidak tahu, intinya sudah sangat amat parah. Alhamdulillah beliau masih bisa diselamatkan setelah ‘ganti hati’ di rumah sakit China. Kini beliau menjadi pejabat teras di Jakarta sana.

Koran itu terbagi menjadi tiga paket (atau tiga paket menjadi satu koran, entahlah!), terdiri dari bagian Metropolis, Olahraga dan tentu saja Berita Utama. Bhumi membaca bagian Berita Utama, sedangkan aku membaca bagian Olahraga. Hari ini aku cukup senang, di koran dikatakan klub favoritku si “Setan Merah” menang besar, empat gol tanpa balas!

Asyik membaca berita Olahraga, Bhumi menyodorkan koran yang dipegangnya. “Baca ini, semakin hancur negeri kita ini!” ujarnya.

Berita yang dimaksud Bhumi adalah berita perkembangan kasus Akil Mochtar ketua Mahkamah Konstitusi (MK) non-aktif yang terlibat kasus korupsi. Kasus ini memang mencengangkan, bagaimana tidak MK yang mewakili lembaga yudikatif bisa terlibat kasus korupsi. Melengkapi lembaga “trias politika” lainnya yang sebelumnya juga terlibat kasus korupsi yaitu legislatif yang diwakili oleh DPR dan eksekutif oleh pejabat pemerintahan (Bupati). Berdasar survei lembaga anti korupsi, lembaga teratas yang sering terlibat kasus korupsi adalah DPR. Sedangkan adanya dinasti Atut, menggambarkan kepada kita bagaimana pemilihan daerah rawan dengan tindak KKN.

“Pet”, kata Bhumi sambil menoleh dan tertawa sumringah kepadaku, “Mimpi basah itu tanda Akil Baligh. Kalau ketangkap basah itu tanda Akil Mochtar.” []

9 thoughts on “Akil Mochtar

    • barangkali ‘sunnah’nya begitu pak.. yg gak amanah yg dilengserkan..kalau toh di dunia selamat, belum tentu yg di akhirat kelak..

      terimakasih sudah membaca tulisan ‘geje’ ini pak..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s