Lisan yang Menghujam

“Jika buku yang kita baca tidak membangunkan kita dengan hantaman di kepala, untuk apa kita membaca? … Sebuah buku semestinya menjadi kapak bagi laut beku di dalam diri kita.” ~ Franz Kafka

Kenapa saya dulu belajar menulis? salah satu alasannya adalah saya ingin menghasilkan tulisan yang menghantam. Dari tulisan yang saya baca, beberapa tulisan telah menghantam di kepala. Menghantam disini maksudnya mampu menggoyahkan pemahaman yang sebelumnya saya yakini betul tapi setelah membaca tulisan tersebut saya memikirkan ulang pemahaman saya itu.

Misalkan tentang Islam. Dulu saya beranggapan Islam sekedar agama yang mengatur aspek ritual, atau malah Islam itu ya yasinan karena keislaman saya waktu itu yang tidak lepas dari aktivitas membaca surat Yasin. Tapi setelah membaca “tulisan yang menghantam”, saya menyadari Islam adalah satu-satunya agama yang mengatur segala aspek kehidupan manusia. Tidak sekedar mengatur perihal peribadatan (ibadah mahdah), mulai dari keluar WC sampai hubungan suami istri, mulai cara makan sampai sistem pemerintahan (khilafah), Islam juga telah mengaturnya.

“Tulisan yang menghantam” itu bisa saya jumpai di tulisan kang Divan Semesta, buletin Al Islam saban jumat. “Tulisan yang menghantam” juga saya jumpai di tulisan Emha Ainun Najib. Mungkin kamu sendiri mempunyai penulis favorit yang tergolong menghasilkan “tulisan yang menghantam”, atau tulisan yang membuatmu berpikir dan bergumam “hmm gitu ya, baru tahu..”

Setelah sekian lama belajar menulis, apakah tulisanku sekarang cukup menghantam? Sejujurnya aku sudah tidak peduli lagi tentang tulisan yang menghantam, atau menampar, atau meng- meng- lainnya. Menulis, ya menulis saja. Tulisannya mampu menghantam atau tidak itu efek, bukan tujuan!

Jika diamati banyak latar belakang mengapa seseorang menulis, bisa jadi karena ingin menginformasikan sesuatu, memberitahukan pendapat/opininya, atau menyebarluaskan pemikiran/ideologinya dalam bentuk tulisan, dan banyak alasan lainnya. Cuma sebagian besar penulis tentu berharap tulisannya mampu merubah kondisi pembacanya.

Terkait merubah pemahaman pembaca, saya pikir tidak bisa jika sekedar mengandalkan tulisan. Tidak bisa tidak yaitu dengan melakukan interaksi, diskusi, atau empat mata langsung. Perubahan pemahaman tentang Islam yang saya alami memang bisa berasal dari tulisan yang saya baca, tapi perubahan itu benar-benar terjadi dari efek diskusi yang saya lakukan dengan musrif/mentor saya.

Baginda Rasulullah SAW pun mencontohkan bagaimana merubah masyarakat Quraish yang jahiliyah menjadi masyarakat yang Islami melalui interaksi (dakwah). Masyarakat Yastrib (Madinah) pun menerima dakwah Islam melalui lisan Sahabat Umair bin Abi Waqash ra. yang merupakan utusan langsung Rasulullah SAW.

Yah untuk menghantam pemikiran sekuler-kapitalis yang tengah mencokol di masyarakat, tidak hanya lewat tulisan tapi juga lisan yang menghujam. []peta

2 thoughts on “Lisan yang Menghujam

    • “menghantam” berarti org membaca tulisan / mendengarkan lisan kita ikut berpikir.. efek dari menghantam itu bs dilihat apakah ada perubahan pemikiran / perilaku dri org yang dihantam..
      saya pikir Syayid Quthb trmasuk tokoh yg ‘menghantam’, dilihat dari karya beliau yg sampai saat ini mnjadi rujukan, utk menghantam pemikiran2 yg berlawanan dg islam..
      trimakasih udah berkunjung..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s