Jakarta.. uh Jakarta

“Jakarta.. uh Jakarta”, itu adalah komentarku setelah mendengar cerita Bhumi yang selama hari Jumat dan Sabtu kemarin berada di kota supermetropolitan Jakarta. Asal tahu saja dia ke Jakarta untuk mengikuti tes CPNS.

Awalnya Bhumi cerita tentang betapa susahnya dia menjawab soal-soal CPNS terutama bidang kewarganegaraan. Bukan hanya masalah pasal-pasal dalam Undang-Undang saja di blank, tentang kepancasilaan saja dia juga lupa-lupa ingat!

Aku maklum jika ia susah menjawab soal-soal kewarganegaraan, wong dia alumni teknik yang mengurusi bidang pertukangan bukan masalah sosial masyarakat dan bernegara. Terkait tidak hafal Pancasila, aku rasa itu terkait pandangan Bhumi terhadap Pancasila yang dianggapnya sebagai sebagai falsafah negara bukan pandangan hidup bernegara apalagi pandangan hidup individual. Maka membacanya tidak perlu diagung-agungkan sampai perlu mengambil wudhu seperti halnya membaca ayat-ayat kitab suci.

Cerita berlanjut ketika selesai shalat Jumat, Bhumi bertemu dengan orang tua sebut saja namanya pak Otong. Belakangan Bhumi yakin pak Otong ini hanyalah seorang penipu belaka yang tidak benar-benar ikhlas membantunya.

Ceritanya pak Otong ini berkenalan dengan Bhumi. Menurut penuturannya, beliau baru pindah kerja dari Bandung ke daerah Serpong sebagai audit keuangan. Bhumi tidak mempunyai prasangka apapun terhadap beliau ini, melihat penampilannya saja bukan termasuk tipe orang yang mau mengambil tasmu secara paksa. Badannya lebih kecil dari Bhumi dan umurnya kira-kira sudah 50-an. Ketika Bhumi ditanya mau kemana, ia menjawabnya mau segera pulang ke Surabaya naik kereta atau bus, atau ia bisa menerima tawaran Om nya untuk menginap dirumahnya yang tinggal di Jakarta.

Pak Otong ini menyarankan supaya naik kereta saja, lebih aman katanya. Terminal rawan pencurian ketimbang di stasiun. “Pokoknya di Jakarta ini kamu harus selalu waspada!” kata pak Otong kepada Bhumi dengan logat sunda. Bhumi menerima sarannya, lagipula stasiun terdekat yaitu stasiun Gambir berjarak 10 menit-an jalan kaki dari masjid Istiqlal. Dan pak Otong ini bersedia menemani Bhumi pergi ke stasiun Gambir, sekalian pak Otong mau menemui temannya disana.

Di perjalanan menuju stasiun Gambir ini Bhumi dikagetkan dengan cerita pak Otong yang sebenarnya baru tadi pagi kecopetan di terminal. Dompetnya yang berisi uang, KTP, dan ATM-nya dicuri. Pak Otong ini lagi tidak punya uang dan rencananya minta tolong ke temannya yang di Jakarta untuk meminjam uang dan janjian bertemu di stasiun Gambir.

Ketika di stasiun Gambir, tiket Jakarta-Surabaya ternyata sudah habis. Jadwal kereta untuk hari sabtu juga penuh, Bhumi menghubungi Om nya untuk menerima tawaran menginap. Masalah inap-menginap beres, tinggal pak Otong ini yang belum ketemu dengan temannya. Bhumi sudah menyarankan untuk lapor polisi, tapi pak Otong mengatakan beliau sudah melakukannya termasuk ke bank untuk mengambil uang namun tidak bisa karena kartu ATM dan KTP nya ikut raib.

Suatu kejadian tidak tertuga ketika tengah berlalu lalang di stasiun Gambir, ada seorang di stasiun yang tampak mengenali pak Otong dan menyapanya. Hanya saja tiak digubris oleh pak Otong. Kecurigaan timbul di benak Bhumi, bukannya selama ini beliau tinggal di Bandung lalu bagaimana bisa orang yang nongkrong di stasiun itu mengenalnya?

Alarm kewaspadaan Bhumi berbunyi. Bhumi menyadari ada suatu yang janggal, ia memilih untuk tidak menghiraukan perkataan pak Otong itu lagi. Mungkin pak Otong menyadari perubahan sikap Bhumi. Tidak lama, ia kemudian pamit meninggalkannya.

Nah itu cerita dari Bhumi, ketika aku tanya apakah waktu itu dia punya niatan membantu pak Otong itu? Bhumi hanya mengangguk. Sudah kuduga. Jangankan kepada manusia, melihat kucing kelaparan saja dia sudah tidak tega. Untung Bhumi selamat dari penipuan. Kejadian tersebut memberikan pelajaran bagiku untuk lebih berhati-hati terutama kepada orang yang baru dikenal.

“Pet, seandainya bapak itu benar adalah penipu dan aku berhasil ditipunya dengan memberikan sejumlah uang,” kata Bhumi kemudian mengambil nafas, “Tidak hanya aku yang akan menjadi korbannya, tetapi orang-orang baik diluar sana yang tulus ikhlas ingin membantu juga ikut menjadi korban.”

Aku tidak mengerti maksud Bhumi, “maksudmu gimana Mi?”. “Maksudku penipuan yang dilakukan bapak itu tidak hanya melukai si korban tapi orang-orang baik luar sana ikut menjadi korban secara tidak langsung. Mereka-mereka itu jika berbuat baik pasti dicurigai atas kebaikannya. Pasti ada udang di balik batu. Terutama bagi seseorang yang pernah menjadi korban penipuan, mereka pasti trauma!”

“Karena itu Pet, kita tidak boleh kalah oleh si penipu itu. Jika dia begitu percaya dirinya ngomong sana sini tapi tujuan hanya menipu, maka kita harus lebih percaya diri dan all out membantu seseorang. Kita membantu karena kita sesama manusia, bukan hewan yang saling sikat saling sikut jika ada maunya. Bahkan baginda Rasul SAW menyebut bukan bagian dari umatnya yang tidak memikirkan persoalan sesama muslim.”

Aku mengangguk, mencerna perkataan Bhumi barusan. Ingin aku katakan, di peradaban modern seperti sekarang ini penipuan adalah hal biasa. Di peradaban modern berlaku hukum rimba, terkamlah sebelum diterkam oleh lainnya. Tidak tahukah Bhumi, ketika dia ke Jakarta ada berita menggemparkan sendi-sendi kehidupan berbangsa bernegara. Bagaimana ketua Mahkamah Konstitusi yang agung itu tetangkap tangan melakukan tindak korupsi. Dan yah ia baru saja menerapkan hukum, korupsilah sebelum dikorupsi. []peta

9 thoughts on “Jakarta.. uh Jakarta

  1. jakarta oh jakarta. kapan ya bisa tenteram jalan di jakarta tanpa atkut kecopetan di bus.. *korban sering liat copet di metromini, kopaja, bus* -___-“

  2. Suka banget sama kalimat ini “Kita membantu karena kita sesama manusia, bukan hewan yang saling sikat saling sikut jika ada maunya”.
    Kalo ke Jakarta berarti welcome to the jungle ya, harus siap dg semua konsekuensi-nya, menipu atau ditipu. Hmmm, semoga nurani dan nilai agama masih tetap ada di dada, agar jalan kita tidak belok kemana-mana, tetap lurus saja.

  3. Tahun kmrn aq membawa ibuku berobat ke Jkt, parah kami dibawa supir taksi nyasar…katanya sih masih baru belum hafal jalan, akhirnya singgah di pos polisi, ganti taksi samapi juga ke penginapan. Ada lagi dalam perjalanan lain juga naik taksi sepertinya supirnya baikan, setelah kami balik dari Jkt mlh menghub. minta bantu anaknya sakit…wahh orang Jkt pandai sangat cari peluang rejeki…hanya saja sistem menjebak mereka. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s