Melawan Atheisme

Dari sekian buku yang aku punya, beberapa diantaranya tentang buku-buku pemikiran baik pemikiran Islam atau pemikiran barat. Buku pemikiran Islam misalnya “Fikrul Islam: Bunga Rampai Pemikiran Islam” karya Muhammad Ismail yang menurutku perlu dibaca oleh banyak kaum muslimin.

Ada seseorang yang aku kenal yang juga menyukai tentang pemikiran. Siapa lagi kalau bukan Bhumi. Suatu ketika aku pernah mempergoki dia membaca karya si pembunuh tuhan Nietzsche. Aku kira dia tertarik dengan dunia pemikiran atheis, maka aku bertanya kepadanya tentang dunia ke-atheis-an. Jawaban tak terduga yang aku peroleh.

“Kau tahu Pet, lelucon terbesar abad modern adalah adanya paham atheisme,” kata Bhumi. “Kemungkinan tuhan itu tidak ada adalah 0,000…0001 persen. Artinya sangat tidak mungkin tuhan itu tidak ada.”

Aku tersenyum kecil ketika Bhumi menyebut banyaknya nol itu sambil menghitung dengan jarinya. “Hhhi.. Lalu kenapa mereka menjadi atheis Mi?” tanyaku.

“Setidaknya ada 3 alasan mengapa mereka menjadi atheis. Pertama karena mereka gagal menemukan tuhan. Kedua karena mereka pernah dikecewakan oleh tuhan sehingga akhirnya memilih menjadi atheis,” kata Bhumi lagi, “yang menyedihkan tipe orang yang kedua. Jika dia pernah dikecewakan oleh cinta mungkin dia tidak akan percaya dengan adanya perasaan cinta, begitu seterusnya. Sedangkan tipe orang pertama, mereka bukannya gagal menemukan tuhan, tapi ingkar terhadap tuhan.”

“Apakah mereka memang tidak pernah menemukan tuhan Mi?” tanyaku lagi.

“Inilah kesalahan berpikir para atheis. Mereka tidak bisa membedakan antara suatu imajinasi dengan sesuatu yang dapat diindera,” Bhumi mengambil nafas, “Misalnya mereka menganggap tuhan hanyalah imajinasi manusia seperti halnya sinterklas, batman, suparman, spiderman. Mereka menganggap seperti itu karena tuhan tidak bisa dilihat, padahal sesuatu yang tidak terlihat belum tentu tidak ada. Misal udara apakah bisa kita lihat wujudnya, atau perasaan cinta kita tidak tahu bentuknya seperti apa tapi udara atau perasaan cinta itu bisa kita rasakan keberadaanya bukan! Sedangkan keberadaan Allah SWT, bisa kita indera melalui adanya alam semesta hasil ciptaanNya.”

Aku mengangguk mengamini penjelasan Bhumi. “Bentar Mi, tadi kamu menyebut 3 alasan kenapa seseorang menjadi Atheis. Terus satunya apa?”

“Alasan yang satu lagi sebenarnya kekanak-kanakan, mereka menjadi atheis karena menganggap atheis itu keren, golongan pintar, dan alasan bla-bla lainnya,” Bhumi melanjutkan, “Nyatanya menjadi atheis itu tidak keren-keren amat. Misal tokoh atheis yaitu Nietzsche yang terkenal sebagai pembunuh tuhan, hidupnya sangat menderita. Dia mengalami kehidupan yang sangat pahit dan merasa tidak bahagia dengan nasibnya. Dia menghubungkan keadaaannya yang menyedihkan itu dengan ketidakmampuannya dalam menjalin hubungan dengan kaum wanita. Sebagai seorang doktor ilmu filsafat, dia mendiagnosis keadaan dirinya ini, dan menurutnya pendapatnya, hal ini karena para wanita menganggap dirinya tidak menarik. Artinya dimasa itu mungkin para atheis tidak populer di mata wanita, apalagi di masa sekarang,” kata Bhumi yang sekali lagi membuatku tertawa geli.

“Satu lagi Pet,” ujar Bhumi kepadaku, “Kamu bisa menjadi pintar tanpa membunuh tuhan seperti si Nietzsche itu!” katanya.

“Kira-kira kalau mereka berhasil menemukan tuhan, apakah mereka serta merta berganti teis Mi?” tanyaku kepada Bhumi.

“Aku kira tidak. Mereka sudah menjustifikasi tuhan itu tidak ada. mereka akan bersikeras mempertahankan pendapatnya dan pada akhirnya mereka adalah manusia-manusia berkepala batu,” jawab Bhumi.

Aku mengangguk kepadanya. Terlintas pertanyaan yang dari dulu ingin ku tanyakan kepadanya. “Oya Mi, pertanyaan terakhir dariku. Apakah kau dulu pernah berpikir untuk menjadi seorang atheis?” Untuk pertanyaanku itu, Bhumi hanya tertawa sambil menepuk-nepuk pundakku sepertinya menertawai pertanyaan bodohku tadi. []peta

7 thoughts on “Melawan Atheisme

  1. posting ini dakwah pemikiran melawan atheis. aku setuju. alsan manusia menemukan Tuhan salah satunya adalah karena akal/ rasio mereka menerimanya. tapi alasan manusia mengingkari Tuhan adalah emosi mereka.

  2. Saya gak ngerti, yg dilawan disini atheisme atau Nietzsche? Kalo atheisme, lebih cocok kritik Dawkins atau Sam Harris. Eh, Bhumi itu beneran baca Nietzsche? Dangkal amat pemahamannya. Penuh logical fallacy pula.

    • judul emang gk nyambung ama isi, cuman biar menarik pembaca aj.. dia membaca sabda zarathustra-nya nietzsche, ya memang perlu banyak referensi lgi.. ada saran referensi..🙂

  3. Terimakasiiih atas tulisannya….. kalau bericara dangkal…. seberapa dalam siiih keilmuan kita????? tidak ada apa2nya dengan ilmu yang teah disiapkanNya.. manusia hanya mampu mencari ilmu untuk kemudian menyibak tabir kehidupan dengan segla kapasitasnya sebagia manusia….tpi aku salut dg bahasa yang ringan dan mudah ku fahami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s