Sebenar-benar Taqwa

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar
takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali Imran : 102)

Sebenar-benar taqwa (حَقَّ تُقَاتِهِhaqqa tuqo tihi), menarik membaca ayat ini. Mengapa Allah SWT menyebut dengan “sebenar-benar taqwa” dibanding menyebut dengan kata “taqwa sebenarnya”!

Menurut hemat saya dua kata tersebut mempunyai pengertian yang berbeda. Yang pertama mempunyai artian bahwa orang-orang beriman yaitu orang islam, diminta untuk terus berusaha bertaqwa kepada Allah SWT. Artinya kita diminta untuk mencoba terus menerus bertaqwa kepada Allah SWT. Ini disebabkan kadar ketaqwaan itu tidak bisa dinilai atau diukur. Kita tidak tahu seberapa taqwa kah kita, hanya Allah SWT lah yang mengetahui!

Sedangkan pengerti kedua, ‘dengan taqwa sebenarnya’, mempunyai pengertian bahwa orang islam diminta bertaqwa sesuai dengan patokan taqwa. Artinya taqwa itu sudah ada standard atau patokannya. Meski teladan dalam hal ketaqwaan adalah Baginda Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabatnya, tapi tetap saja kita tidak mengetahui seberapa ‘standard’ ketaqwaan dari Rasulullah SAW. Selain jarak zaman Rasulullah dengan kita terlampu jauh, dan juga masalah ketaqwaan ini memang urusannya langsung dengan Allah SWT.

Misalkan pada ayat ke 102 tersebut diganti dengan ‘taqwa sebenarnya’ maka akan menjadi kesulitan tersendiri bagi kita karena kita tidak tahu ‘nilai’ taqwa itu sampai seberapa? Kalaupun kita mencoba berpatokan kepada Baginda Rasul, rasa-rasanya menjadi kesulitan juga bagi kita karena Rasulullah adalah manusia istimewa karena ke-maksum-annya. Sedangkan kita adalah manusia biasa, bukan nabi!

Alhamdulillah, Allahu Akbar! Kita patut bersyukur karena ayat diatas sudah pas dilihat dari ukuran kita sebagai manusia (Subhanallah, Engkau Maha Mengetahui). Cuman kita tidak bisa berleha-leha, justru itu tantangannya yaitu bagaimana kita secara kontinyu, tiap detik, tiap langkah kita untuk terus-menerus bertaqwa kepadaNya.

Apalagi kita hidup di zaman ‘edan’, dimana-mana kita bisa berpapasan atau dikepung dengan hal yang mungkin menggadaikan keimanan kita. Banyak contoh, satu contoh dari ribuan contoh itu misal tentang Riba. Kita mengetahui, karena sering banyak disebut di pengajian, bahwa riba itu haram. Tapi dengan entengnya kita mengambil bunga (riba) di bank. Meski bunga nya kecil atau seperkian persen saja tapi tetap saja itu terhitung Riba. Astaghfirullah!

Jadi tantangannya adalah bagaimana kita terus meng-upgrade ketaqwaan kita. Kapan kita berhenti? Ya sampai hembusan nafas terakhir. Berat dong! Memang berat, kalau mudah dapetnya panci, keranjang, gelas cantik (#ingatAgustusan). Surga itu tidak murah, tempat bagi mereka yang terus menjaga ketaqwaannya.

Tadi aku menyebut bahwa ‘nilai’ ketaqwaan itu tidak bisa di ukur, tapi bukan berarti kita tidak bisa ‘melihat’ orang bertaqwa itu seperti apa? Ciri-ciri orang bertaqwa salah satunya adalah senantiasa terikat dengan syariatNya. Tiap perilaku, pemikiran atau segala aktivitasnya selalu bersandarkan kepada syariatNya, apakah halal atau haram, atau jika dia berbuat begini atau begitu akankah mendapat ridhaNya. Nah sudahkan kita bercirikan orang bertaqwa? []

*Oya saya sudah search di Al Qur’an digital. Memang tidak ada terjemahan yang menyebut dengan kata “takwa sebenarnya”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s