Mahasiswa Masa Kini!

Tidak kurang satu bulan ini saya akan melepas status saya sebagai lajang mahasiswa. Status yang awalnya saya banggakan tapi tidak enak juga kalau kelamaan. Setelah berjuang kesana-kesini, melewati berbagai halang rintangan baik menanjak maupun berbukit, menaklukkan penjajah dosen penguji, tibalah saya pada persimpangan jalan. Dan berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, saya dinyatakan lulus. Lebay memang tapi itu yang saya rasakan, yang pernah menjadi mahasiswa semester dua digit pasti ngerti! (*lebay mode on*)

Entah kenapa beberapa hari ini saya teringat dengan masa-masa awal kuliah dulu. Mungkin karena sering melihat mahasiswa baru lewat, dengan ciri khasnya kepala botak dan berpakaian hitam putih berdasi hitam, saya jadi teringat dengan masa-masa itu. Saya yang tidak suka diperintah tapi suka menolong ini, tidak mau diperintah oleh senior untuk push up ketika ospek dulu. Berbeda dengan teman-teman saya yang memilih push up, saya tetap berdiri dengan gagahnya. Tapi saya pun akhirnya push up juga setelah diminta tolong suruh push up!

Teringat dulu bersama teman-teman angkatan bergadang mengerjakan tugas kuliah. Kami paham betul bagaimana mengaplikasikan konsep SKS yang diterapkan di perkuliahan yaitu Sistem Kebut Semalam. Buktinya kami mengerjakan tugas dari awal malam sampai fajar pagi merekah. Hanya saja tugas yang harusnya dikumpulkan pagi itu juga bukannya dikumpulkan malah tersendat dalam file folder ditinggal tidur. Tidak apa-apa setidaknya kami mendapat esensi dari tugas tersebut yaitu kebersamaan! (*jangan ditiru dirumah*)

Ketika awal-awal memilih jurusan, jujur saja saya memilih jurusan yang memiliki prospek lapangan kerja yang cerah. Berbeda dengan temanku yang asli dari Sidoarjo. Ketika ditanya mengapa memilih jurusan geodesy. Dengan mantap dia menjawab, “untuk menghentikan semburan lumpur lapindo”. Dia berharap dengan kuliah di ilmu kebumian dia bisa menemukan cara untuk menghentikan luapan lumpur lapindo Sidoarjo. Cita-cita yang mulia memang dan saya yang mendengar jawaban itu terispirasi untuk melakukan hal yang sama, memanfaatkan kesempatan kuliah untuk memajukan daerah asalku.

Hanya saja dalam proses perkuliahan saya menyadari suatu hal yaitu kuliah hanya kuliah, hanya proses transfer ilmu dari dosen kepada mahasiswanya. Dalam proses perkuliahan sangat minim membahas permasalahan yang sedang dihadapi masyarakat dan bagaimana memberi solusi ditinjau dari bidang yang kami geluti. Proses perkuliahan sekedar dosen menerangkan materi kemudian mahasiswa mencatatnya! Sebuah ilmu yang akan menjadi bekal untuk dunia kerja nantinya. Ya mahasiswa diarahkan untuk menjadi pekerja bukan solution marker atau pemecah masalah.

Sayangnya fenomena tersebut tidak hanya saya jumpai di jurusan saya tapi juga program studi lainnya atau mungkin seluruh perguruan tinggi di seluruh negeri. Jika asumsi ini saya salah maka seharusnya tidak banyak masalah yang menghinggapi negeri ini. Padahal sudah ribuan skripsi yang disusun oleh mahasiswa, apakah ada hasilnya? Atau hanya menjadi pajangan di rak buku perpustakaan!

Negeri ini memiliki Institut Pertanian dan sudah banyak menghasilkan insinyur pertanian, tapi mengapa negeri ini masih impor kedelai. Kedelai yang menjadi bahan pokok pembuatan tahu-tempe. Lauk pauk bagi kalangan menengah kebawah seperti saya.

Negeri ini pula berdiri Institut Teknologi dan sudah melahirkan sarjana-sarjana teknik mumpuni, tapi mengapa barang-barang elektronik masih banyak impor. Parahnya SDA alam ini bukannya dikelola oleh anak bangsa sendiri malah dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing!


Kesimpulan saya berlebihan memang. Faktanya kesemrawutan negeri ini tidak bisa dilimpahkan semuanya kepada mahasiswa. Ada birokrasi, politisi, ekonom, atau teknisi yang ikut terlibat. Sedangkan bagaimana para mahasiswa mengembangkan inovasi atau penelitian-penelitian jika untuk membiayai kehidupan dirinya sebagai anak kost masih susah!

Kesemrawutan negeri ini menjadi tanggung jawab semua warga negara, hanya saja mahasiswa mempunyai porsi khusus karena sudah tersemat dalam jas almamaternya bahwa ia adalah agent of change, agen pendobrak perubahan. Melihat sejarah perubahan besar di negeri ini juga dimulai oleh gembrakan para pemuda bahkan Rasulullah SAW merubah masyarakat jahiliyah juga didukung oleh para pemuda (Sahabat) sedangkan generasi tua malah menjadi penentang utama!

Ya saya ini juga termasuk generasi tua, sudah waktunya punah dari dunia kampus. Digantikan oleh mahasiswa masa kini yang tidak hanya motornya menggunakan BBM, handphone juga terisi BBM! []peta

Nb: *teman saya yang berasal dari sidoarjo itu kini bekerja di perusahaan dengan gaji mapan.

4 thoughts on “Mahasiswa Masa Kini!

  1. real-nya hidup itu memang setelah kuliah (masuk dunia kerja), di situlah seseorang baru benar2 diuji idealisme atau integritasnya. yang dulunya idealis, aktifis, peduli rakyat kecil, setelah kerja belum tentu

  2. Masuk perguruan tinggi dengan niat baik, keluar juga dengan niat baik. Semoga kita mampu mensyukuri nikmat lulus dari perguruan tinggi. Semoga kita dipertemukan Allah dengan orang-orang yang satu visi dan satu misi ingin membangun negeri. Ke mana pun kita pergi, apapun yang kita lakukan, betapa pun itu tidak tampak wah di mata manusia, semoga senantiasa adalah jihad fi sabilillah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s