Jauh Dari Peminta!

Dalam sehari ini saya menjumpai dua peminta, pertama di warung ketika membeli makan untuk sarang (sarapan+makan siang), dan berikutnya ketika malam di warung yang sama cuma pemintanya sudah beda orang. Sama-sama seorang ibu, hanya saja yang siang bersama anaknya (entah anak kandungnya atau bukan) sedangkan yang malam single fighter alias sendirian.

Jika mau dihitung-hitung, dalam keseharian bisa saya jumpai banyak ‘peminta’ mulai dari pengamen, tukang topeng monyet, sumbangan pembangunan masjid, sumbangan untuk panti asuhan, ketika sholat jumat, atau mau ke ATM pun sudah ada penunggunya (baca: peminta sumbangan).

Saya tidak heran jika kemudian banyak peminta, selama negara tidak menjalanankan amanat UUD yaitu anak terlantar atau orang miskin dipelihara oleh negara maka para peminta itu akan ada dengan sendirinya. Atau selama negara tidak memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya maka otomatis para peminta itu akan turun gunung.


Saya sadar diri, sebagai seseorang yang kelasnya sebagai warga biasa maka saya akan sering bersinggungan dengan para peminta-peminta itu yang juga sebagai kelas biasa yang tak biasa. Artinya jarak saya dengan mereka hanya selangkah. Beda jika saya seorang pejabat atau Presiden maka jaraknya bisa beribu-ribu langkah. Bukankah jika ada kunjungan Presiden radius beberapa meter, atau bahkan beberapa kilometer bagi Presiden kelas berat, harus steril termasuk juga steril dari peminta.

Para peminta itu adalah contoh kegagalan pembangunan, dimana-mana yang namanya produk gagal tempatnya dipinggirkan, terpencil, di bawah tanah, atau tempat dimana tidak banyak orang melihat. Mereka adalah ‘aib’ pembangunan maka oleh protokol kepresidenan atau kepejabatan mereka disingkirkan, seminimal-minimalnya tidak dilihat oleh pejabat. Jangan heran jika kemudian pejabat itu mengatakan pembangunan telah berhasil wong tidak jumpai pengemis, tidak ada orang miskin.

Kasihan para pejabat itu hanya melihat kefatamorganaan. Ya sudahlah, faktanya jumlah orang miskin makin menurun karena mereka telah menghadap kepada Penguasa para penguasa. Kepada Penguasa itulah mereka bisa berkeluh kesah, mengadu, atau meminta haknya. Kalau sudah begitu saya tambah kasihan kepada para pejabat itu!

Ada rasa kebersyukuran meski saya tergolong kasta biasa, dekat dengan para peminta. Saya bersyukur meski hidup pas-pasan, biasa lauk tahu-tempe yang dimakan. Tapi diluar sana atau bahkan disekitar kita masih ada yang mengatasi rasa lapar dengan menahan lapar. Dan kebersyukuran itu benar-benar terasa ketika mau berbagi dengan mereka yang papa. Saya bersyukur masih bisa merasakan kebersyukuran tersebut. []peta

Ilustrasi gambar dari sini

4 thoughts on “Jauh Dari Peminta!

  1. miris banget baca nya.. harus nya ketika pejabat yangd atang, gak usah direkayasa gitu yaa. biar mereka liat kalo ternyata di indonesia masih banyak banget peminta-minta :3

  2. Pejabat juga sebenarnya peminta kok. Mereka peminta uang rakyat. Minta sumbangan mulu kerjaan nya : sumbangan simpati, sumbangan dana buat ngebangun kantornya, sumbangan bikin gedung baru, ya pokonya gitudeh~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s