Persekongkolan Keluarga


“Keluarga mu licik poll Pet, haha” Kata Bhumi mengomentari cerita Peta.

“Uasyem, kamu pikir keluarga ku keluarga apaan?” Timpal Peta.

“Sabar bro, tapi benar kan omonganku. Tanpa kamu tahu, ternyata keluarga mu sudah bersekokongkol! Dan mereka sukses”

“Ah gak juga, yang penting aku sekarang tahu modus operasinya”

“Percuma, toh kamu tahu nya juga akhir-akhir ini. Sedangkan kamu sendiri mau lulus” Jawab Bhumi. Jawaban terakhir itu cukup membuat Peta terdiam.

Selama ini biaya kuliah Peta ditanggung oleh keluarganya. Jadilah tiap bulan ia menunggu kiriman. Apakah pas? Bukan ‘pas’ tapi ‘nge-pas’ yang di akhir bulan bulan bisa ‘dipas-pasin’. Cuman bukan mahasiswa teknik namanya kalau kehabiasan uang. Di semester akhir Peta bisa ikut proyek, artinya ada tambahan uang bulanan. Cuman seteknik-tekniknya mahasiswa teknik, toh akhirnya kehabisan uang juga. Apalagi Peta seringkali kumat kalau sudah beli buku. Mumpung masih ada duit katanya.

Siang itu diterpa oleh semilirnya kipas angin, Peta cerita ke Bhumi. Ia heran kenapa orang tuanya bisa tahu kalau sedang tidak punya uang. Padahal tiap kali nelfon ketika ditanya apa kekurangan uang biasanya dengan santai Peta menjawab tidak, meski uang bulanannya memang benar sudah habis.

Lalu bagaimana orang tuanya bisa tahu? Mungkin sebagai orang tua, orang tua Peta punya firasat kalau anaknya sedang kesusahan? Bisa jadi. Tapi dalam kasus Peta, masalah keuangannya bisa bocor karena mbaknya yang mengadu.

Selain orang tua Peta yang menghubunginya, mbaknya termasuk orang yang cerewet menanyakan kabarnya. Untuk mbak nya yang satu itu, Peta tidak bisa bohong. Percuma juga bohong, mbaknya yang sekarang tengah berbadan dua dan pernah merasakan kehidupan kampus, tahu betul luar dalam ‘nikmat’ nya jadi anak kost.

Beberapa hari lalu ketika orang tua Peta nelfon menanyakan kondisi keuangannya, Peta kali ini menjawab masih punya. “Lho kata mbak mu lagi gak punya uang?” tanya Aba. “InsyaAllah ada Ba. Gaji proyekan mau turun”. Dari obrolan tersebut Peta tersadarkan kongkalikong keluarganya.

Teka-teki telah terkuak. Mungkin tidak hanya masalah keuangan yang dibocorkan tapi obrolan dengan mbaknya bisa jadi dicopy paste-kan ke orang tuanya.

“Pet, Pet. Mampus dah. Mungkin IP kamu yang naik turun juga diobrolin. Ckck” Sambung Bhumi dengan galak tawanya. “Tapi ada bagusnya juga Pet. Kamu obrolin juga tentang aktivitas kamu yang tidak hanya kuliah tapi juga ikut ngaji kan!” tanya Bhumi yang dijawab dengan anggukan Peta.

“Ah masa bodo. Mau licik kek, mau bersekongkol kek. Apapun kesalahan orang tua, tugas sebagai seorang anak untuk memaafkan dan mengingatkan” Tutur Peta. “Gak usah banyak omong deh, utang kamu bulan kemaren udah bayar belum??”. []peta

Gambar ilustrasi dari sini

10 thoughts on “Persekongkolan Keluarga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s