Sepupu ku yang…

Beberapa hari lalu meski bukan peserta SBMPTN, aku termasuk yang terkena getah ‘hawa’ kesibukan SBMPTN. Yang belum tahu SMBPTN yaitu Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri pada tahun 2013. Di zamanku namanya SNMPTN, dulunya SPMB, dulunya lagi UMPTN serta dulunya lagi Sipenmaru. Kenapa beda zaman beda nama? Entahlah coba tanyakan pada rumput laut yang bergoyang.

Lalu kenapa aku ikut-ikutan sibuk? Apa aku termasuk pengawas ujian atau malah pembuat soal. Bukan bukan itu. Aku disibukkan dengan kehadiran 2 adik kelas SMA ku yang menginap di kost. Ku anggap mereka sebagai tamu jadi mau tidak mau aku harus memberikan pelayanan terbaik. Kamarku, yang penampakannya lebih parah dari kapal Titanic yang terbelah 2, sudah aku rapikan. Tidak rapi amat tapi cukup lega buat ditempati 3 orang dalam 2 malam. Perlu aku sampaikan juga pelayanan ini tidak termasuk untuk mengajari mereka mengerjakan soal-soal SMBPTN. Bukan tidak mau ngajari, tapi siapa aku yang menganggap keterima SNMPTN karena kuasa Ilahi.

Selain 2 orang adik kelasku, adik sepupu ku juga ikut SMBPTN. Sama dia juga butuh tempat menginap, cuma bedanya dia cewek. Apa dia mau diinapkan di tempatku juga? Oh tidak tidak, mana mungkin. Untungnya aku banyak “girlfriends” alias teman wanita. Jangan negatif
thingking dulu, bukankah semua wanita di jurusanku otomatis adalah teman seperguruan jadi bisa dimintai tolong. Alhamdulillah ada seorang “mbak” yang mau menampung adik ku itu.

Koordinasi keberangkatan dengan kedua adik kelasku tidak ada masalah. Mereka para lelaki bisa berangkat sendiri, tidak ada yang perlu dikawatirkan (malah aku mengkhwatirkan yang dekat-dekat mereka, mengingat mereka masih labil). Masalahnya adalah adik sepupuku, apalagi dia berangkat sendiri. Perjalanan ketika naik angkot tentu beresiko. Mungkin kalian akan menyarankan, “jemput aja”? ide bagus, cuman ikatan kita adalah ikatan sepupu, dia bukan mahramku.

Pertanyaan tersebut juga ditanyakan olehnya, “kak nanti aku naik angkot atau bagaimana?”. “Maaf aku gak bisa jemput”, jawabku. Jawaban yang kemudian ditertawakan oleh mbak kandungku sendiri. Ah biarlah yang penting lepas dari dosa.

Aku mengusulkan plan “A” tapi pada akhirnya dia menggunakan plan “tak terduga” yaitu menerima tawaran temannya, berangkat bareng yang diantar langsung bapaknya pakai mobil.

Ya alhamdulillah selama 2 hari ujian kemarin tidak ada kendala berarti. Melihat kedua adik kelasku yang semangat belajar, rasanya juga menjalar pada semangat belajarku. Sedangkan di kubu adik sepupuku, meski belum sempat berjumpa denganya, 2 hari itu juga tidak ada kendala.

Aku tidak menyangka sebelumnya, adik ku itu ternyata sudah lulus SMA. Menurutku anaknya rada tomboy, menjadi pemain basket tim putri di sekolahnya. Aku akui dia cantik secantik almarhumah ibunya. Ya dia yatim dan keluarganya termasuk keluarga kurang mampu. Meski begitu dia termasuk siswi berprestasi di sekolahnya, langganan ikut ollimpiade. Tidak heran jika dia kemudian milih jurusan Kedokteran. Ok deh, moga diterima dik. Lumayan kan entar ada dokter keluarga! []

5 thoughts on “Sepupu ku yang…

    • aamiin.. makasih doanya, moga “mbak” yg kmaren sukses ngontaknya.πŸ™‚

      #klo keterima insyaAllah lewat bidik misi..πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s