Hipotesis Merendam Cucian

Banyak bidang yang memerlukan campur tangan seorang pengamat didalamnya. Sebut saja pengamat pendidikan, politik, sosial budaya, pengamat ekonomi, dsb. Fungsi pengamat setidaknya memaparkan analisisnya sebelum ia bisa memberi sebuah kritikan atau saran kepada bidang bersangkutan apalagi bidang tersebut berada di jalur yang tidak semestinya. Tentunya kritik tersebut bersifat membangun dan akan lebih elok lagi jika mampu memberi solusi praktis terhadap masalah yang sedang membelit.

Seorang pengamat dianggap ahli atau pakar pada bidang yang diamati, karena berkecimpung pada bidang yang sama dan sering makan garam pada bidang tersebut sehingga tahu seluk beluk bidang yang dihadapi. Atau biasanya seorang pengamat adalah seseorang yang sebagian besar ilmu yang dipelajarinya terkait bidang tersebut.

Terus apa hubungannya pengamat dengan keberadaan Peta? Apakah Peta termasuk orang yang bisa disebut sebagai “pengamat”? Bisa dibilang seperti itu.

Peta yang akhir-akhir ini domisilinya berada di kamar kontrakan, mobilitasnya pun paling tidak jauh-jauh dari yang namanya kamar mandi, WC, masjid, dan warung tegal.

Yang menarik perhatiannnya adalah ketika melewati lorong antara kamar dan WC, disana terdapat ruang terbuka beratap langit langsung, dan antara kedua dindingnya terkait seutas tali kawat. Penghuni kontrakan menyebut ruangan itu sebagai ruang jemuran. Masalahnya adalah entah ruang itu hanya berfungsi sebagai tempat jemuran saja atau tempat kora-kora piring atau tempat menaruh barang-barang bekas. Peta sendiri menyebut ruangan itu sebagai ruang serba guna.

Di ruang serba guna itu, Peta menjumpai bak yang didalamnya direndam beberapa pakaian dan kolor. Tidak ada yang aneh memang, cuma beberapa lama cuciannya direndam itu yang tidak biasa. Bak itu sudah 2 hari-an dibiarkan menganggur, dan bisa lebih lama lagi tergantung paket cucian yang dipilih, mau cuci kering atau cuci basah.

Sebagai seorang yang baru merintis sebagai seorang pengamat dan jam terbang yang masih minim dalam hal amat-mengamati. Menjadikan realitas lamanya merendam cucian sebagai objek pengamatan adalah langkah kecil untuk langkah besar selanjutnya. Modal dasar sebagai pengamat cucian adalah pengalaman mencuci semenjak duduk di bangku SMP dan rekor sebagai seseorang yang tidak pernah membawa pakainnya di laundry.

“Mi, aku tahu kenapa cucian ini lama rendemnya!” ujar Peta sambil menyetop Bhumi yang sedang melangkah ke WC. Dimulailah Peta mengeluarkan hipotesisnya seperti layaknya seorang ilmuwan berceramah teori, mana yang lebih dulu ayam atau telur?

“Ada banyak alasan kenapa seseorang lama merendam cuciannya bahkan sampai berhari-hari. Mungkin karena alasan sibuk, bisa juga sengaja ditinggal dan berharap ada seseorang yang berbaik hati mencucikan cuciannya.”

Belum berhenti disitu, Peta memperdalam lagi hipotesisnya. “Orang yang sengaja meninggalkan cucianya adalah orang yang berpaham ‘cucilah cucianmu sebelum cucianmu dicuci orang lain’. Yang paling ekstrim dari paham ini ketika pelaku beranggapan dengan meninggalkan cuciannya, cuciannnya bisa bersih dengan sendirinya”

Bhumi yang merasa obrolannya kali ini tiada guna di gunanya, melanjutkan apa yang tadi sempat tertunda. “Tunggu Mi, engkau tahu kesimpulan yang aku dapat. Aku rasa tingkat kemalasan seseorang bisa dilihat dari berapa lama ia merendam cuciannya!”

“Pet, analisismu itu luar biasa tajam setajam silet dua ribuan dapet dua”, ujar Bhumi.

“Itu menunjukkan kepekaanmu kepada lingkungan sosial sekitarmu. Cuma sudahkah kau menganalisis objek kamarmu sendiri. Coba kau jelaskan gunung pakaian kotor di kamar mu itu?” []

foto : ilustrasi

11 thoughts on “Hipotesis Merendam Cucian

  1. ada2 aja bung🙂
    saya jg prnah mnganalisa ttg pkrjaan rumah, sadar ga klo mnyetrika dirasa lbih mlelahkan ktimbang nyuci, ngepel,nyapu bahkan pkrjaan berat lainnya? nah lo ^^

  2. Cucian yang direndam terlalu lama, bisa sangat bau ya mas. Lebih-lebih dari kotornya pakaian yang awalnya hendak dicuci. Hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s