Peduli Marwah

Berita (2012) :

Seorang bapak asal desa Bicorong Lebek Pakong Pamekasan Madura, membawa anaknya yang bernama Marwah usia 3 tahun dan seorang anak perempuannya merantau untuk memperoleh uang guna pengobatan anaknya Marwah yang menderita Hydrocephalus bukan pekerjaan yang bapak kurus ini cari tetapi belas kasihan orang yang lalu lalang di Pasar Srimangunan Sampang dengan membawa Marwah dan di tidurkannya Marwah di Lantai Pasar beralaskan selimut tipis.

Pak Misli sebutannya, bercerita,, Marwah ini sudah mendapatkan operasi 2 kali di RSUD Dr Soetomo atas bantuan dana dari Klebun (Kepala Desa) di tempatnya. Semua biaya operasi ini di tanggung oleh Pemerintah. Saya pun menanyakan apa yang mendasarkan bapak meminta belas kasihan orang? Pak Misli pun berkata ” saya sudah gag punya uang lagi mbak, saya terpakas melakukan seperti ini untuk biaya kontrol anak saya yang bisa mencapai 350rb, pemerintah hanya menanggung biaya operasi sajah untuk biaya kontrol saya harus cari sendiri mbak”  Lanjut nya ” anak saya ini sudah masuk koran mbak, sudah di foto-foto sama wartawan, tapi ya itu wartawan enak dapet uang dari beritanya tapi saya mbak ya tetap saja seperti ini. Jadi saya sudah gag mau berharap lagi dengan wartawan dan pemerintah inilah mbak jalan satu2nya cara mendapatkan uang mbak untuk kontrol anak saya, saya sudah bekerja mbak tetapi tetap saja tidak bisa mencukupi sedangkan istri saya hanya seorang buruh cuci”Bapak Misli ini tinggal di emperan2 toko di pasar sudah 5 hari bapak Marwah ini di Pasar Srimangunan. Bapak asli Jawa Barat dengan mata yang berkaca-kaca dan kata-kata yang berat “saya mbak akan melakukan apa saja demi anak saya mbak, meskipun dengan cara seperti ini mbak, tapi saya tidak meminta2 mbak, saya hanya orang lain tahu kalau saya lagi membutuhkan bantuan demi anak saya, makanya mbak saya bawa anak saya. Dulu saya sudah mbak, ngasi foto serta surat dari klebun (kepala desa) untuk di taruh di warung tapi orang sekarang mbak gag percaya, mbak tau kan sekarang banyak yang minta dengan alasan membangun mesjid jadi percuma mbak, ini mbak salah satu caranya.”

 Terdiam sejenak, aku mencerna semua cerita dari bapak Misli ini,,ingin sekali membantu tapi aku tak bisa aku hanya bisa membantu seadanya saja,, ingin sekali membantu pengobatan Marwah tapi apa daya aku belum bisa,,,

Dalam hal ini Pemerintah Pamekasan sudah membantu untuk operasi Marwah hingga cairan di kepalanya berkurang,, tapi mohon setidaknya Pemerintah Pamekasan khususnya membantu lagi untuk biaya kontrolnya Marwah. Seorang penduduk Pamekasan meminta belas kasihan di Sampang dan mereka duduk di lantai pasar yang dingin, setiap malam tidur di emperan toko, 3 hari sekali pulang ke Pamekasan. Ini adalah salah satu realita kehidupan antara para pejabat yang dengan gampangnya sembuh dari penyakit berat malah bisa2nya berobat ke Luar Negeri dengan kehidupan rakyat yang miskin untuk sekedar pengobatan harus meminta belas kasihan orang lain.

Bagi temen2 yang ingin membantu niy alamat lengkap bapak Misli : DESA BICORONG , LEBEK, PAKONG PAMEKASAN,,kata bapak Misli cari ajah namanya Bapak Misli yang anaknya kepalanya besar,,,



 

Reportase Cari Alamat Marwah (edisi ngaskus) :

Berdasar hasil gathering #7 Regional Keresidenan Madura (RKM) pada tgl 11 mei 2013, yang tidak hanya ajang kumpul-kumpul antar kaskuser asal madura tetapi juga membahas agenda baksos. Ane waktu itu ngusuli untuk membantu pengobatan bapak misli karena anaknya mengidap penyakit hidrocepalus yaitu kepala yang membesar. Sayang tidak banya info yang ane punya jadi untuk pak masuk list daftar target baksos yang akan RKM lakukan.

Oke berhubung ane yang wacanakan maka ane bertanggung jawab untuk mencari tahu tentang pak misli. Ane coba kontak temen ane di pamekasan. Temen ane juga tidak punya banyak info tapi Alhamdulillah temen ane mau bantu nyari alamat pak misli. Diputuin besoknya minggu jam 8 pagi ane bakal :ngacir2 nyari alamat pak misli.

minggu, 12 mei 2013

Waktu udah jam 8 pagi tapi ane belum berangkat juga ke rumah temen ane. Ane sms dulu tuh temen ane, sapa tw lagi nungguin. “bentar bro, lagi dsuruh sama umi” sms dikirim. Sms diterima, “Ok bro. Nyantai aja!”. Sipp baru jam 8.30 tet ane ngacir kerumah temen ane.

Sekitar 5 menit ane udah nyampek, di teras keliatan temen ane lagi sibuk dengan lepinya. gak tahunya lagi maen game facebook yang Top Eleven, muke gile dah. Nah berhubung ane udah lama gak ketemu, ane ngobrol banyak tuh sama temen ane :shakehand2 . Bayangin coba, dari SD sampe SMA kita-kita itu selalu satu sekilah makanya deket banget. yang diobrolin pun ngalur-ngidul mulai kejahilan pas jaman putih abu-abu, sampe cerita temen-temen yang lain yang udah :kimpoi dan sekarang punya anak.

Yang membuat ane cukup bangga temen ane tuh Alhamdulillah udah diwisuda (sedangkan ane udah belum gan :matabelo). Lama ngobrolnya sampe ane lupa tujuan ane bertamu ke rumah temen ane itu. Setelah ane jelasin secara singkat dan padat ttg tujuan kita hari ini (temen ane ngangguk saja), maka udah ditentuin tujuan pertama adalah ke alun-alun kota pamekasan, arek lancor. Disana diketahui pak mislih sering kali duduk2 bersama marwah.

Jadilah muter-muter arek lancor, sayang orang yang dicari malah gak ada. Jam HP menunjukkan angka 10.30. masih sesuai rencana akhirnya kami meneruskan perjalanan ke arah utara pamekasan yaitu menuju desa Bicorong, Lebek, Kec Pakong. Alamat yang kami ketahui dimana pak mislih tinggal. Perjalanan seharusnya ditempuh sekitar 20menit-an, cuman ditengah perjalanan hujan turun jadi kami sempat berteduh dulu di langgar (lencak) berukuran 2×2 m di pinggir jalan.

Kami sepakat untuk tidak mencari pak mislih terlebih dahulu, tetapi mencoba lewat pak kelebun (kepala desa). Jam 11.30 ujan mulai reda, kami melanjutkan perjalanan. Rute yang kami tempuh adalah jalanan menajak dimana sebelah jalan adalah tebing curang dan parahnya tidak ada pembatas pinggir jalan (yang sering ke pakong, pasti paham maskud ane).

Setelah nanya-nanya bapak-bapak di warung kopi, ternyata desa bicorong, lebek, itu adalah dua desa (desa bicorong dan lebek), sebelumnya kami pikir lebek termasuk dusun di bicorong.

Kami memilih untuk pergi kepala desa Lebek, cuman kita lagi apes berdasar info dari istri beliau, pak klebun-nya sedang ke Surabaya untuk dinas. Busyet dah, mana kondisi hujan turun lagi maka kami sekalian numpang teduh di rumah pak klebun. Rumah yang menurut kami cukup ‘wah’.

Klebun lebek gak ada maka klebun bicorong yang akan kami datangi. untung rumah beliau ini gak jauh. Jam 12.30 kami sampai di rumah klebun bicorong. Rumah beliau ternyata gak jauh ‘wah’ bahkan lebih ‘wah’ karena ada mobil kijang berwarna putih parkir disana. Untung pak klebun-nya ada, dan kami langsung menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami yaitu mencari pak mislih. Eh kami mesti bersabar lagi, ternyata pak klebun tidak tahu tentang pak mislih dan anaknya. “Desa bicorong ini luas dik, jika ada alamat lengkapnya, dari dusun mana mana maka saya bisa bantu. Saya biasanya nunggu kabar dari warga”.

Arghh info dari klebun juga tidak banyak membantu. akhirnya kami beninisiatif untuk mencari info, langsung dari warga. Pertama kami mendatangi warung kopi dimana ada seorang mbah yang dijaga disitu. Diawali dengan basa-basi, kami menanyakan apakah di desa ini ada warga yg bernama pak mislih punya anak yang kepalanya besar. Ibu itu mengaku tidak pernah mendengar tentantg pak mislih. Gagal maning gagal maning!

Hmm masih belum puas dengan info dari mbah, kami melanjutkan mencari info di warung makan. Ya sekalian kami mengisi perut disana. Gak tahu apa karena menunya yang enak atau perut ane yang lapar sehingga makan di warung itu maknyus bener apalagi ditambah segelas teh anget disuasana mendung, klop dah!

Ketika bayar, kami sekalian bertanya ke yang punya warung. pernah denger tentang pak mislih yang punya anak kepalanya besar gak. ibu yang ditanya keliatan berpikir dalam-dalam. “gak tahu mas, saya belum denger. coba sampeyan tanya langsung ke pak klebun!” :hammer

Gatot dah, gagal total alias nihil. Kami gak tahu alamat pak misli dan kabar terakhir kondisi marwah. Akhirnya jam13.30 kami memutuskan untuk pulang ke rumah. Perjalanan pulang kami harus hati-hati dengan jalan yg licin dan curam securam perasaan kami!

Senin, 13 mei 13

Hari ini ane berencana mau balik ke sby. Sekitar jam 2-an . Ane kira ane bakal balik dengan tangan kosong tentang pak misli. Gak tahunya ane mendapat info dari agan faizy (kaskuser pamekasan), kalau pak misli tinggalnya di sumenep. Untuk lebih jelasnya maka ane ajak temuan agan faizy, jam2 di arek lancor. Sekalian ane balik ke sby.

Selesai packing2 (kayak bawa banyak barang aja), pamitan ama emak dan bapak ane sekaligus mohon doa supaya TA ane cepet kelar. Aamiin.

Posisi ane udah di arek lancor, agan faizy belum datang katanya masih beli bensin Pertamax :ngakak . Ane jadi inget kejadian 3 bulan yang lalu ketika melewati jalan arek lancor, sama waktu itu untuk balik ke sby, ane melihat seorang Ibu menggendong anak. Anaknya begitu mencolok karena mempunyai ukuran kepala yang besar.

Waktu itu ane tidak berhenti untuk menolong ibu itu. Kalaupun ane berhenti ane juga tidak bisa menolong banyak. Jika sekedar memberi uang, tentu tidak seberapa dibanding mungkin kebutuhan operasi anaknya itu.. Apapun alasannya, ane merasa bersalah karena tidak berhenti dan mengulurkan sedikit bantuan. Yang paling membuat ane nyesek mungkin ibu ini sering duduk di arek lancor, sudah berapa ribuan kendaraan yang lalu lalang melewati ibu dan anak kepala besar itu tapi juga tidak ada pula yang peduli.

Dalam perjalanan pulang ke sby waktu itu, ane jadi inget berita tahun 2012 lalu tentang seorang bapak rela mengemis sampai luar kabupaten untuk mengobati anaknya yang berpenyakit hipocepalus (kepala besar). Kemudian muncul gerakan peduli marwah (anak yang berkepala besar itu namanya marwah, sedangkan bapaknya namanya pak misli). Adanya pemberitaan dan koordinasi bantuan untuk marwah, ane kira kondisi marwah saat ini sudah sembuh. Tapi faktanya tidak! ibu yang menggendong anak kepala besar itu ane yakin anak itu adalah marwah. Dan kondisi sama seperti dulu.

“agan revolter?”

“ya, kamu agan faiziy.” Tanya ane. Ini pertamax ane bertemu dengan kaskuser pamekasan, ternyata seorang hacker lagi. Setelah perkenalan, dan ngobrol tentang pencarian alamat pak misli di desa bicorong, ane langsung tanya ke agan Faizy apa ada info tentang pak misli?

Info yg ane dapet dari agan faizy, pak Misli sekarang tinggal di Sumenep. Cuma pak misli jarang ada di rumahnya, beliau sering keluar kabupaten pergi ke pasar-pasar atau alun-alun kota buat cari sumbangan untuk anaknya marwah. Dan rumah yang ditinggali pak misli adalah rumah pak klebun, pak misli cuman numpang. Info ini agan faiziy dapat dari kenalannnya, mas yono yang juga sebagai ketua Kami Peduli Mereka (KPM). KPM pernah memberi bantuan kepada pak Misli. Dari agan faizy juga di dapat info bahwa marwah butuh dioperasi, dananya butuh 65juta.

Dirasa info tentang Marwah sudah cukup. Maka ane mau ngelanjutin perjalanan ke sby. Untuk agan faizy, ane minta habis sekolah coba sempatin lewat arek lancor. Sapa tahu pak misli atau ibunya sedang duduk-duduk di arek lancor. Sekalian tanya langsung ke beliaunya tentang kondisi terkini marwah!

Jam 14.45 kami akhirnya bubar. ane ngelanjutin perjalanan ke sby dengan motor bebek ane..

Sekian reportasenya mohon maaf kalau ada salah kata. Jadi ane kembalikan ke forum RKM terkait apabila mau ngadakan baksos untuk membantu Marwah.. :matabelo

Update 2 Juni :


Foto marwah (foto diambil dari salah satu kaskuser)

One thought on “Peduli Marwah

  1. wah, wartawannya korupsi ini. harus ditindak. kasihan Pak Misl dan Marwah. aku jadi nggak pingin punya anak kalo liat kondisi orang miskin kayak gini. susah ngobatin anak kalo gak punya duit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s