Sakit-Sakitan

Karena heran belakangan ini tidak melihat Peta di kampus, maka aku putuskan untuk mengunjungi kost-nya. Sayang makhluk yang dicari malah tidak ada. Cuma tidak lama ada suara motor yang masuk garasi parkiran. Tidak salah lagi suara motor yang klepek-klepek itu pasti punya Peta.

Peta melihat kearahku. Entah kenapa pandangan matanya terasi sayu dan langkah kakinya juga lunglai. Tangan kanannya menjinjing plastik transparan berisi kotak styrofom. “Eh Bhumi. Ngapain?” tanya Peta.

“Gak cuman mampir aja. Seminggu ini kog gak kelihatan di kampus bro? Terus revisi TA kamu gimana, udah beres?”

“Dari kemaren-kemaren aku lagi demam bro. Panas ini badan!” Peta kemudian menyuruhku masuk ke kamarnya. Botol larutan cap kaki tiga berserakan di lantai kamarnya. “Jadi ceritanya kamu bener-bener sakit bro?”

“Ya iyalah. Masa bohongan. Kalau gak sakit, mungkin revisi TA ku sudah beres.”

“Lah kalau sakit kenapa gak istirahat aja bro! Malah keluyuran.”

“Ini lagi beli bubur ayam, sekalian beli obat.”

“Nyuruh teman kamu yang lain napa?”

“Alah cuman sakit panas kayak gini udah minta bantuan. Panas dikit-dikit minta belikan ini. Panas dikit-dikit minta belikan itu. Do It Yourself (DIY), jika kamu masih bisa melakukannya sendiri maka lakukan saja.”

Emang keras kepala ini anak. Peta yang aku kenal memang sering bantu teman-temannya tapi dia sendiri malah suka mengerjakan kerjaanya sendiri apalagi dipandangnya bisa ia kerjakan. Sifatnya bukan bersifat individualistik atau ‘semau gue’ tapi ‘ini gue’.

“Lho gak dihabisin bro buburnya, masih tinggal separo tuh.”

“Udah kenyang! Diterusin nanti aja kalau lapar lagi.”

Peta membuka bungkusan tablet obatnya, isinya ada 4 pil paracetamol. Diambilnya satu. “Udah periksa dokter bro?”

“Belum, tapi mbak ku nyaranin untuk membeli obat ini. Terus berdasar apa yang aku keluhkan, kata mbak ku sepertinya gejala tipes.”

“Hah. Emang mbak mu dokter ya?”

“Bukan, dia perawat-perawatan. Suaminya kan perawat jadi tahu dikitlah tentang dunia medis. Sudah ya, aku mau istirahat dulu.”

Peta langsung membaringkan badannya, samar-samar dia nampak menggigil. Dan tangan kanannya memegang kepalanya. Aku penasaran dengan demamnya jadi aku menggerakkan tanganku menuju dahinya.

“Waduh. Panas bro. Ini harus segera diperiksa ke dokter. Mungkin segera disuntik!”

Peta tidak menghiraukan perkataanku, malah tidur miring membelakangiku. Tidak lama, dari pori-pori kulitnya seperti dari bagian lehernya keluar keringat. Bajunya kemudian tampak basah dibanjiri keringatnya. Tidak tahu apa karena obatnya mulai bereaksi atau efek kata suntik tadi?? []

3 thoughts on “Sakit-Sakitan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s