Gadis Kecil Bertopi Bundar

Sepeda motor Bhumi membelah jalanan Surabaya. Meliuk-liuk melewati tidak hanya satu-dua mobil tapi beberapa mobil. Bukannya kenapa, sayup-sayup dari kejauhan didengarnya adzan magrib. Sialnya, pas di perempatan lampu lalu lintas. Lampu baru saja berwarna merah.

Mobil-mobil di depan mulai melambat. Bhumi mencoba meringsek masuk diantara celah-celah mobil. Dilihatnya barisan bermotor berbaris rapat sehingga tidak mungkin motornya dibawa maju lagi. Kecuali dia membunyikan klakson, meminta mereka untuk menyingkir. Tentu dengan resiko dilempari helm dari pengendara motor lainnya. Oh tidak, mana berani dia!

Dikepung kendaraan bermotor di segala penjuru. Kondisi yang ideal terbentuknya kabut lokal berselimut asap. Bhumi terbatuk. Ditutup mulut dan hidungnya dengan telapak tangan. Hasil percampuran asap knalpot mulai dari motor butut sampai mobil yang paling gress, sekilas menghasilkan lukisan asbtrak.

Dibalik kabut asap yang mulai menghilang terbang ditiup angin. Mondar-mandir seorang gadis cilik bercelana pendek selutut. Terlepas adik itu masih anak-anak, tapi celananya jauh lebih sopan dibanding mbak-mbaknya yang memakai celana pendek sampai (maaf) paha.

Kulitnya coklat gelap. Termasuk wajahnya yang menandakan wajah itu kebal akan asap. Rambutnya hitam panjang sebahu tapi kusut. Ditutupi topi bundar model safari berwarna biru gelap dan atasnya berwarna putih.


Beberapa eksemplar koran didekapnya. Ditawarkan satu-persatu koran kepada pengendara motor. Sayang mungkin headline koran tersebut yang tidak menjual sehingga tidak ada satu pun pengendara yang mau mengurangi beban dekapan si gadis kecil.

“Ah ini kan sudah sore, bahkan menjelang malam. Mana ada orang yang mau membaca koran yang sudah basi.” Cibir Bhumi.

Gadis kecil masih menawarkan korannya kepada pengendara motor yang kali ini berada di depan Bhumi. Dilihatnya gadis kecil itu merengek seperti merengeknya anak kecil minta dibelikan boneka. Cuma gadis kecil yang satu ini merengek supaya korannya dibeli.

“Masa pembeli dipaksa untuk membeli”. Bhumi awalnya merasa aneh sebelum akhirnya dia mendengar gadis kecil itu mengatakan, “ayo pak beli pak.
Biar dang muleh! (supaya cepat pulang!)”.

“Huh jika menunggu koran itu habis, mungkin baru larut malam adik itu bisa pulang.”

Bhumi merogohnya sakunya. Didapatnya selembar uang bergambar Pangeran Antasari. Jadi sebelum gadis kecil itu gantian menawarkan koran kepada Bhumi, dia menyerahkan sang pangeran itu kepada gadis kecil bertopi bundar.

“Ini ambil aja..” Ujar Bhumi. Tapi si calon penerima malah geleng-geleng kepala. “Gak mau.. ” dengan rengekan khas anak kecil.

“masnya beli koran saya saja.”

Bhumi bingung. “Adik kecil ini diberi uang malah gak mau. Jika dia mau mengambil uang ini, dia bisa untung 2 kali. Dapat uang dan korannya masih utuh untuk dijual ke orang lain” Batin Bhumi.

Entah kenapa Bhumi menggerakkan tangannnya ke saku kanannya. Diambil selembar uang. Kali ini bergambar Pangeran Dipenogoro. “Yowes tak tuku korane (Ya sudah aku beli korannya).”

Koran ‘basi’ itu berpindah tangan ke Bhumi. “Bentar kembaliannya mas.” Sambil merogoh tas pinggangnya.

“Gak usah. Ambil aja dik. Kalau yang ini kamu mau kan!”

Gadis kecil tidak menjawab. Sejurus kemudian meninggalkan Bhumi dan beralih kepada pengendara lainnya.

Lampu lalu lintas itu berganti hijau. Meski bukan lampu baru, warna hijau lampu itu terlihat sangat cerah. Mungkin dipengaruhi suasana batin Bhumi yang baru saja mengalami pencerahan.

Adik itu tidak mau menerima pemberian uang karena dia bukan pengemis. Dia menjemput rezeki dengan lembaran koran bukan tadahan tangan. Menyambut rezeki dengan keringat sendiri.

“Adik itu lebih tangguh, dibandingkan mereka-mereka yang mencari uang dengan memalak orang. Adik itu lebih perkasa, dibanding mereka-mereka yang menerima gaji dari rakyat tapi tidak melayani rakyat. Oh adik itu lebih handal dibanding diriku yang tiap bulannya menunggu kiriman.” []peta

Foto: ilustrasi

4 thoughts on “Gadis Kecil Bertopi Bundar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s