in-tellek-tual

Kurang lebih satu minggu lagi, saya akan menempuh suatu fase yang menentukan atas status saya di kampus, apa tetap menjadi seorang mahasiswa atau beralih menjadi pengangguran baru, yaitu menghadapi ujian TA. Berhadapan dengan para dosen penguji, yang tidak lain sudah saya anggap bapak/ibu sendiri.

Dunia kampus adalah dunia yang unik. Disana kamu akan berhadapan dengan semua jenis orang mulai dari tipikal apatis, aktivis, melankolis, sanguinis, sampai koleris. Dari berpaham nasionalis, sosialis, sampai agamis. Atau tipe -is, -is lainnya. Semua terkumpul di satu tempat yang bernama kampus.

Kampus sendiri dipersepsikan tempat berkumpulnya kaum intelektual, padahal minim kontribusi untuk masyarakat. Buktinya sudah berapa ribuan skrispi, thesis dan disertasi yang dihasilkan oleh suatu kampus, apakah berbanding lurus dengan perbaikan kondisi khususnya ekonomi masyarakat. Atau contoh paling mudah coba ambil hasil disertasi seorang doktor, kemudian berikan kepada petani kecil. Bisakah petani itu mengaplikasikan dengan mudah dan praktis rumus-rumus atau teori ciptaan sang doktor untuk menduakalipatkan hasil pertaniannya?

Selama ini saya enjoy saja bisa berlama-lama di kampus, banyak pengalaman dan pelajaran yang bisa dipetik, untuk dijadikan juice penambah stamina intelektualitas.

Diskusi, seminar, kajian strategis, atau perhalaqahan, adalah ‘tempat’ dimana ilmu bertaburan dan berhamburan. Tempat singgah yang cocok menghilangkan haus ilmu bagi para musafir pembelajar.

Rupa-rupanya mahasiswa tua seperti saya mulai tidak disukai oleh pembuat kebijakan. Mungkin bagi mereka, kami adalah beban penyebab bengkaknya anggaran pendidikan. Atau telinga mereka menjadi merah padam ketika kebijakan yang mereka buat sedemikian rupa, entah untuk siapa kebijakan itu dibuat apa untuk masyarakat atau untuk ‘tuan besar’ mereka, ditentang oleh mahasiswa. Maka mulai lahirlah kebijakan semacam otonomi kampus, UKT, menyamakan uang SPP mahasiswa lama dengan mahasiswa baru, disibukkanya mahasiswa dengan banyaknya proker dan aktivitas kampus yang menjauhkan mahasiswa dari peran fungsi mahasiswa itu sendiri, makin dibungkamnya kekritisan mahasiswa dengan tugas kuliah seabrek dan tidak berhubungan dengan studi kasus persoalaan masyrakat. Jadilah mahasiswa makin jauh dari masyarakat, dan menjadi in-tellek-tual baru masyarakat.

Jika benar demikian, mahasiswa tidak diperkenankan lama-lama di kampus, saya senang hati untuk segera minggat. Saya bisa kuliah di universitas kolong langit, tanpa biaya atau tetek bengek persyaratan administasi lainnya. Saya bisa sesuka hati mengambil SKS tanpa perlu persyaratan tertentu, tidak dibatasi dan tanpa bayar. Bahkan saya bisa menjadi mahasiswa seumur hidup, dan baru diwisuda kelak di akhirat nanti dengan gelar SK, Sarjana Kehidupan. []peta

2 thoughts on “in-tellek-tual

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s