Wajah-Wajah Bercahaya

Akhirnya peta tidak tahan lagi untuk bertanya kepada pemilik muka bercahaya itu. Seorang pemuda memakai kopiah putih. Baju gamisnya berwarna hijau tua lengkap dengan sarungnya.

“Maaf saudaraku. Dibanding para jamaah lain, engkau aku lihat selalu datang ke masjid lebih awal bahkan sebelum adzan berkumandang dan pulang setelah jamaah paling terakhir pulang. Aku ingin bertanya kepada kepadamu, bagaimana caranya supaya aku rajin sepertimu?”

“Sepertinya engkau salah orang saudaraku. Aku tidak seperti yang engkau sangka. Lebih baik engkau bertanya kepada orang yang lebih berilmu!”

“Tidak! Aku tidak mungkin salah orang. Sekarang aku berhadapan dengan orang yang wajahnya memancarkan cahaya keteduhan.” Sang pemilik wajah bercahaya tetap tidak bergeming menanggapi pertanyaan Bhumi dan bibirnya tetap tidak berhenti berdzikir.

“Baik, begini saja. Engkau lihat, aku punya uang.” Sambil menunjukkan selembar uang berwarna merah kepada sang pemilik wajah bercahaya, tapi orang yang dituju malah menggeleng-gelengkan kepalanya. “Jika engkau mau menjawab pertanyaanku, akan aku infakkan uangku untuk pembangunan masjid ini. Bagaimana engkau setuju?” Bhumi memasukkan lagi uang ke sakunya.

“Jika itu mau mu, baiklah aku akan menjawab pertanyaanmu itupun jika aku mampu menjawabnya. Sekarang apa pertanyaanmu?”

“Aku lihat tiap kali engkau berdoa, engkau terlihat sangat khusyuk bahkan seringkali air mata membasahi wajahmu. Sekiranya bagaimana caranya aku bisa berdoa khusyuk sepertimu?”

“Oh saudaraku. Engkau tidak tahu masa laluku. Dulu aku adalah seorang pejudi dan sering teler karena minum minuman keras.” Sang pemilik wajah bercahaya berhenti. Wajahnya kini berselimut ketakutan. “Aku selalu berdoa kepada Allah SWT, supaya Allah menerima tobatku. Dan entah kenapa semakin aku berharap, dosa-dosa ku yang lalu masih saja menghantuiku. Mungkinkah dosa-dosaku tidak diampuni oleh-Nya!” Sang pemilik wajah bercahaya sekali lagi berhenti. Dari kedua matanya terlihat butiran-butiran air seperti butiran embun di daun talas saat pagi hari.

“Menurutmu apa aku perlu punya pengalaman sepertimu supaya aku kemudian bisa benar-benar bertobat?”

“Jangan saudaraku, jangan berpikiran seperti itu. Engkau tidak tahu kapan malaikat maut akan menjemput. Apa engkau yakin ketika engkau berbuat maksiat, malaikat maut tidak mengambil nyawamu?” Bhumi menunduk. Entah apa yang tengah dipikirkannya.

“Apa engkau masih punya orang tua saudaraku? Tiada hadiah terbaik kecuali saat seorang ibu mendoakan kesuksesan anaknya, dan anaknya mendoakan kedua orangtuanya dengan penuh pengharapan agar kelak orang tuannya digolongkan penghuni surga.”

“Maka kirimkan hadiah terbaik untuk orangtuamu saudaraku!”

“Yah engkau benar saudaraku.”

Bhumi mengambil uang disakunya. Dua lembar uang berwarna merah ada ditangannya. “Uang ini akan aku infakkan untuk pembangunan masjid, tapi atas nama ibuku. Dan uang satunya akan aku berikan kepadamu, anggaplah sebagai sedekah.”

Tapi sang pemilik wajah bercahaya menolak uang itu dan meminta uang itu diinfakkan juga untuk masjid. “Jika itu maumu aku tidak bisa memaksa. Tapi berkenankah engkau memimpin doa yang dipanjatkan kepada orang tuaku. Kali ini aku sangat merindukan mereka.”

Kedua pemuda itu kemudian mengangkat kedua tangannya. Air mata bercucuran termasuk Bhumi. Sekilas seberkas cahaya menyerbak ke penjuru masjid sebelum akhirnya menyeruak ke atas menembus langit. []peta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s