Jadi Pak Dosen!

Seumur-umur selama menjadi mahasiswa, belum pernah aku di undang oleh seorang dosen untuk buka bersama. Meski bukan dosen yang ngajar di jurusanku, tapi tetap saja beliau adalah dosen yang pertama kali ‘mentraktir’ ku makan. Yah aku rasa mahasiswa kere seperti ku, urusan makan gratis adalah hal yang tidak bisa dilewatkan karena bisa jadi tidak lewat-lewat lagi..

Dulu ketika menyandang gelar ‘maba’ aku cukup bangga karena tiap makan di warteg seringkali ditemani dosen muda pemangku mata kuliah Kalkulus, mata kuliah yang konon katanya menjadi momok bagi sebagian mahasiswa (termasuk akunya). Berhubung dosen muda itu adalah teman satu kost, bahkan kamarnya bertetangga denganku makanya jika ke warteg seringkali bareng. Meski belum sempat ditraktir makan, setidaknya dosen matematika yang biasa aku sapaan ‘mas’ itu tidak pelit untuk mengajariku kalkulus (makasih mas Dicky). Setelah aku pindah kost, beliau juga pindah karena mau berkeluarga, belakangan aku baru tahu kalau IPK beliau ketika menempuh S-2 mendapat nilai sempurna, 4.00. Untung gak 4,01 jadi gak membuat stress rektornya kali..!!

Terkait buka bersama, memang aku diundang untuk ikut bergabung. Dosen tersebut adalah kenalanku karena sama-sama satu ‘perguruan pengajian’. Beliau baru aku kenal karena selama beberapa tahun terakhir ini study di Australia untuk menyelesaikan gelar Doktor-nya. Beliau masih muda, sepertinya masih umur 30-an, dan biasa aku sapa dengan panggilan Ustadz (pemahaman Islamnya menurutku udah top markotop).

Acara buka bersama dihadiri beberapa mahasiswa jurusan beliau. Setelah aku berkenalan diantara mereka, ternyata selain menjadi dosen, beliau juga membuat suatu forum atau kelompok mentoring (semacam kajian keislaman) dimana beliau sendiri menjadi mentor-nya. Mahasiswa yang datang buka bersama adalah anak didik beliau, dan ketika aku tanya kenapa mereka mau menjadi anak didik beliau, apa karena status beliau adalah dosen mereka? salah satunya menjawab kalau seneng aja ikut kajian yang dibawa beliau. Lagipula beliau juga tidak pernah memaksa mereka untuk ikut mentoring atau ikut buka bersama.

Ketika buka bersama ada tausiyah yang disampaikan langsung oleh beliau, seputar penerapan Syariah Islam dan kepemimpinan dalam Islam. Aku belum tahu asal beliau darimana, tapi melihat cara berbicaranya yang begitu ‘calm’ sepertinya orang jawa tengah-an.

Yah aku begitu berkesan dengan beliau, bagaimana beliau begitu care atau peduli dengan mahasiswanya. Selain menjadi dosen bagi mahasiswa-nya, beliau juga berusaha menjadi ‘teman’ diskusi terutama seputar keislaman. Sebagaimana yang beliau sampaikan, “kalian jangan hanya memikirkan kuliah saja tetapi coba ikuti perkembangan berita akan kondisi masyarakat. Supaya kalian tidak menjadi mahasiswa kuper!” tegas beliau.

Melihat beliau jadi terbesit keinginan untuk menjadi seorang dosen, dan mencoba meniru yang beliau lakukan. Peduli terhadap mahasiswanya dan berupaya menjadi tempat sharing tidak hanya seputar kampus tapi juga diluar kampus. Yah kalaupun nanti gagal jadi dosen sapa tahu nanti jadi suami dari ibu dosen.. []peta

6 thoughts on “Jadi Pak Dosen!

  1. itu yg diceritakan mas Dicky matematika, ta? kebetulan sy math ITS. terus yg dosen ideologis itu siapa ya? sy ninggalin sby 2008 sepertinya blm ada beliau

    • Yupz mas dicky, pas 2008 beliau masih ngambil S2 di math its, sambil jadi dosen kalkulus..
      dosen metalurgi its, baru meraih gelar doktor dari australia..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s