Mencari Suara Tuhan!

Vox Populi Vox Dei, suara rakyat adalah suara tuhan. Entah siapa pertama kali yang mengucapkan kata tersebut, tapi dari 4 kata tersebut itulah kemudian menjadi cikal bakal sistem politik modern saat ini yaitu demokrasi. Demokrasi sendiri berasal dari bahasa Latin: demos (rakyat) dan kratos (pemerintahan). Secara teoritik, berdasarkan kesepakatan umum, demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat; sebagaimana dinyatakan oleh mantan Presiden As Abraham Lincoln. Jadi inti atau substansi demokrasi adalah kedaulatan rakyat.

Sedangkan ‘suara rakyat adalah suara tuhan’ diartikan suara rakyat harus dihargai sebagai penyampai kehendak Ilahi. Dalam konteks parlementer – karena dianggap mewadahi dan mewakili kepentingan rakyat – lebih pada upaya legitimasi yang dilekatkan pada suara rakyat adalah yang seharusnya dimenangkan. Pertanyaannya apakah benar ‘suara rakyat adalah suara tuhan’? tidak pasti karena belum jelas apakah ‘suara’ yang diperjuangkan dan dianggap merepresentasikan kepentingan rakyat tersebut sejalan dengan nilai-nilai keluhuran ilahiah (ketuhanan) ataukah malah sebaliknya mereduksinya. Adanya perzinahan legal (lokalisasi), diterimanya bunga bank (riba), adalah contoh kepentingan rakyat yang bertolak belakang dengan syariat (hukum Allah). Dan jika justru rakyatnya yang (kebanyakan) hidupnya jauh dari nilai ketuhanan, apakah masih dapat kita anggap suaranya juga adalah suara tuhan??

Kemudian ada yang mengatakan suara rakyat adalah suara pertimbangan dalam proporsi kemaslahatan umat, bukan suara tuhan. Menilik sistem demokrasi modern saat ini dimana kedaulatan ada di tangan rakyat melalui wakil-wakil yang dipilih di parlemen. Diklaim bahwa segala kebijakan atau keputusan hukum yang dibuat selalu didasarkan pada prinsip suara mayoritas rakyat atau kemaslahatan umat. Namun sayangnya dikarenakan parlemen/DPR dikuasai oleh segelintir elit politik, para pemilik modal, atau kedua-keduanya, suara mayoritas yang dihasilkan hanyalah mencerminkan suara mereka yang sesungguhnya minoritas, tidak mencerminkan suara mayoritas rakyat, atau untuk kemaslahatan umat. Lahirnya UU Migas, UU Listrik, UU SDA, UU Penanaman Modal, UU BHP, privatisasi BUMN, dll jelas lebih berpihak pada pemilik modal dan merugikan mayoritas rakyat. Jadi ‘suara rakyat’ dalam parlementer tidak mewakili kemaslahatan umat tetapi justru segelintir orang saja.

Suara rakyat tidak pasti mewakili suara Tuhan, suara Tuhan terwakilkan dalam kitab suci-Nya, dan suara kitab suci (Al Qur’an) untuk rahmatan lil ‘alamin. []peta

11 thoughts on “Mencari Suara Tuhan!

  1. Seingat saya, Mas Peta pernah menerbitkan tulisan dengan tema yang mirip dengan ini. Meski dalam beberapa hal tidak sejalan dengan pendapat saya, tapi menurut saya, tulisan yang ini lebih pas, lebih kena sasaran ketimbang tulisan yang dahulu. Like it….😉

  2. one doesn’t simply,
    make our country be an Islamic Republic based on syariah..😀

  3. Anda bisa berkomentar seperti ini karena Demokrasi…
    Tetapi komentar anda malah menyudutkan Demokrasi…
    Apakah dengan “NEGARA” yang anda impikan masih dapat sebebas ini?
    Atau malah terkekang layaknya kehidupan di timur tengah atau di negara komunis?
    Saya cinta Indonesia, karena Indonesia berbeda dengan negara lain, berbeda pula pola pikirnya, Demokrasi Pancasila salah satunya…

  4. slogan “suara rakyat suara tuhan” menurut saya berkaitan dengan filsafat hegel yang mengatakan di dalam dunia ada roh dunia. roh itu bersuara dalam mayoritas suara manusia dan sejarah manusia. filsafat itu filsafat romantisme.
    demokrasi berasal dari situ. demokrasi kenyataannya tidak bagus juga.. Plato sendiri mengecamnya. winston churcill dan mengecamnya. cuma Winston churcill tidak tahu ada khilafah sehingga menganggap demokrasi itu sistem politik yang terbaik di antara yang sekian sistem yang buruk yang pernah ada.

    • yupz, tdk perlu menjadi HT utk menolak demokrasi.. bahkan ‘ulama’ barat saja mengecam seperti yg smpyn sebut diatas..🙂

  5. Saya tidak ingin sinis dengan pandangan politik seseorang. Belum bisa dipastikan, kemana sejarah akan mengarah. Boleh jadi khilafah dianggap sebagai solusi bagi sekelompok orang, boleh jadi pula tidak.

    • yupz, saya hanya berharap jk khilafah tegak atau bisa jadi solusi lain yg bener2 menjadi solusi tuntas atas permasalahan kaum muslim saat ini bisa terselesaikan, dan solusi tersebut muncul dari kelompok tertentu..saya harap kelompok yg lain bs legowo nerima.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s