Bacalah Kitab!

Tidak banyak bisa aku jumpai teman satu angkatanku di kampus, baik yang satu jurusan atau beda jurusan. Banyak dari mereka sudah lulus, dan mungkin sekarang sudah sibuk dengan kerjaannya masing-masing. Bagaimana denganku? Masih tertatih berusaha, doakan saja. Setidaknya sekarang aku cukup puas dengan banyaknya waktu yang bisa aku habiskan bergelut dengan buku-buku.

Selepas shalat ashar ditemani teduhnya sore hari di serambi masjid kampus, aku sedang membaca buku ketika temanku itu menghampiriku. Jaket putih yang dia kenakan adalah saksi bahwa dia dulu pernah aktif di organisasi kerohanian Islam di jurusannya. Kami bersalaman. Sejenak saling memberikan senyuman terbaik yang kami punyai, barangkali kesempatan ini tidak datang lagi di kemudian hari.

Dia menanyakan buku yang aku baca. Mungkin cover buku yang aku pegang menarik perhatiannya, gambar seorang samurai memegang pedang panjang. “Oh Musashi” ucapnya. Buku yang aku baca memang sebuah novel karangan Eiji Yoshikawa berjudul Musashi. “Aku pernah mendengar tentang novel ini. Sepertinya bagus.” tambahnya. “Aku belum selesai membacanya. Sampai sejauh ini novel Eiji Yoshikawa ini membuatku penarasan untuk mengetahui kisah perjalanan Musashi sampai akhir. Kamu tahu meski novel ini novel fiktif tapi tokoh Musashi memang ada dan latar setting ceritanya juga sesuai dengan zaman itu.”

“Memang latar zaman para era siapa, Meiji, atau Edogawa?” dia bertanya. “Aku tidak tahu pasti, berdasar tahunnya berlatar tahun 1700-an. Ketika kekuasaan Tokugawa.” jawabku. “Oh kalau tahun 1700, itu masuk zaman Khilafah Ustmaniyah.” tambahnya. Aku menganguk, mengiyakan pendapatnya tadi.

“Tahun 1453 adalah tahun ditaklukkannya kota Konstantinopel. Baru beberapa tahun kemudian era khilafah Ustmaniyah dimulai”.

“Iya setelah era khilafah Abbasiyah mulai mengalami kemerosotan, imbas serangan pasukan barbar Mongol di Bagdad. Lambat laun kekuasaan Islam bergeser kepada suku Saljuk. Suku yang menjadi cikal bakal lahirnya bani Ustmaniyah atau bangsa Turki sekarang.” Dia bernafas sejenak, “Cuma bagaimana terjadinya peralihan antara bani Abbasiyah ke bani Ustmaniyah, tidak banyak informasi yang aku dapat.”

Kali ini aku tidak bisa bantu menjawab. Ketidaktahuanku itu membuatku sadar akan sangatnya sedikit sejarah yang aku ketahui tentang sejarah Islam. Dengan membaca novel Musashi sedikit banyak aku mengetahui sejarah jepang, tapi bagaimana dengan sejarah Islam. Sebuah pengetahuan yang cukup penting, selain terkandung pelajaran didalamnya, tetapi sejarah Islam termasuk kekayaan khazanah Islam itu sendiri yang tidak boleh dilupakan.

Kemudian temanku itu merogoh tasnya, dia mengambil buku dengan sampul hardcover berwarna hijau. Sebuah kitab ‘Ushul Fiqih’. Melihat ketebalan bukunya, sudah menciutkan nyaliku untuk meminjamnya. Katanya dia ingin segera meng-khatam kitab itu supaya bisa segera membaca kitab ‘Fiqih’. “Sebenarnya kita mempelajari Fiqih dulu atau Ushul Fiqih terlebih dahulu?” tanyanya. Aku ragu menjawabnya. Hanya jawaban diplomatis yang aku lontarkan, “Jika kamu ingin banyak tahu tentang ilmu Fiqih, ya sebaiknya kamu membaca kitab Fiqih dulu. Tapi jika ingin memperdalam Fiqih, terlebih dahulu sudah paham Ushul Fiqih” jawabku dan mendapat anggukan darinya.

Aku memperhatikan ketika dia membaca kitab itu, penuh konsentrasi. Jika dibandingkan dengan buku yang aku pegang, sungguh tidak ada apa-apanya. Aku jadi malu dan marah terhadap diriku sendiri atas kenyataan jarangnya aku membaca kitab keislaman. Lalu apa dalil atau sumber hujjah yang akan aku sampaikan ketika menyampaikan tentang Islam. Apa aku akan mengatakan, “berdasar novel Eiji Yoshikawa”, “menurut Tere Liye”, atau “Emha menyatakan”, apakah itu yang akan menjadi sumber! Tidak, semestinya berdasar kitab para ulama yang diakui keilmuannya semacam Ibnu Katsir, Ibu Taymiyah, Said Qutb, Taqyuddin an-Nabhani, Hamka, dan ulama-ulama lainnya.

Yah sebaiknya aku mempelajari dan memperdalami kitab-kitab, bukan untuk tujuan menjadi ulama yang nantinya disegani, setidaknya untuk memperkokoh bangunan keilmuanku. []peta

3 thoughts on “Bacalah Kitab!

  1. Halo peta..menarik membaca tulisan ini.
    Saya juga sedang tertarik mencari tau tentang sejarah islam khususnya sejarah islam di Eropa.

    Buku yang sedang saya baca saat ini The Greatess of Al. Andulusia. Walaupun baca itu sulit dimengerti dengan kata-kata yang cukup aneh, tapi saya jadi sedikit mengerti ttg keyakinan saya..

    Thanks for share..

    • Waw, sepertinya buku yg tebel.. mungkin krn buku terjemahan jadi sulit dimengerti ditidak mengertinya..

      Terimakasih udah berkunjung, klo cari buku yg ringan tapi cetar membahana cobain “Muhammad Al Fatih”-nya ust Felix Siauw.. buku ttg penaklukan kota konstaninopel (turki), tapi sejarah islam di eropanya sedikit..🙂

      • Bener banget..tebelnya kelewatan..dan bener emang karena terjemahan, makanya saya bingung..

        Wah terimakasih atas rekomendasinya. Siap berburu ke toko buku..thanks..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s