[Review Buku] Islam Liberal 101


“Tak perlu menjadi da’i untuk mengenali kesesatannya..”

Kalau sampai yang haq dianggap bathil, yang benar dikira salah, yang terang disangka gelap dan yang bingung disebut-sebut telah menjadi petunjuk, maka pastilah ada pemikiran yang dibelokkan sehingga tak mampu membuat penilan yang benar (hal. 18)

Islam liberal adalah kontradiksi. Siapa pun yang mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh dan jujur akan menyadari bahwa Islam tidaklah liberal (bebas), karena Islam itu sendiri menawarkan sebuah sistem nilai yang harus dipatuhi oleh para pemeluknya (hal. 91)

Penamaan “Islam Liberal” itu memang jauh dari tanggung jawab akademis. Karena itu, tak heran jika kontradiksi-kontradiksi yang sangat serius di dalamnya pun diabaikan begitu saja. Selain rancu dari segi peristilahan, Islam liberal ternyata juga rancu dari segi metodologis (hal. 93)

Bolehlah kita menyebut orang-orang semacam ini sebagai penganut ‘agama liberal’, sehingga liberalisme tak usah dikait-kaitkan lagi dengan Islam. Liberalisme itu sendiri pada akhirnya menjadi musuh semua agama, karena ia digunakan untuk melegitimasi (dan mendelegitimasi) agama-agama (hal. 102)

Beberapa cemoohan yang sering kali dilontarkan oleh pengusung paham liberal, misal :

  1. “Berdasar penafsiran siapa?”
  2. “Tidak disebutkan di dalam Al Qur’an”
  3. “Agama tidak mengurusi seksualitas manusia”

Atau cemoohan seperti masyarakat itu semakin sekuler makin baik, semakin beragama malah makin munafik. Padahal bagi kita, orang Muslim, munafik itu artinya pura-pura beriman. Pura-pura Muslim (termasuk liberalis) adalah salah satu wajah kemunafikan.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini :

  1. “..kesombongan itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR Muslim, hal. 15)
  2. Manusia yang sudah terjangkit penyakit sombong sudah tak perlu lagi disesatkan oleh Iblis, karena ia bisa menyestkan dirinya sendiri. Bahkan, ia menjadi tangan-tangan kpercayaan Iblis yang siap sedia membantu menyesatkan orang lain sekitarnya (hal. 19)
  3. Islam adalah musuh dari setiap penjajahan (hal. 81)
  4. Telah terjadi kehilangan ‘adab, sehingga yang kecil meremehkan yang besar, yang tidak berkompeten mencemooh yang ahli di bidangnya, dan pada akhirnya semua orang sok mengerti dan masing-masing ingin diakui sebagai ahli (hal. 140)
  5. Yang mereka cari memang bukan kebenaran, melainkan pembenaran (hal. 147)

Yang saya suka dari buku ini adalah bahasanya yang sederhana, lugas, dan sistemastis. Pembahasan dimulai dari asal mula tersebarnya ‘virus liberal” sampai munculnya Islam liberal di Indonesia. Hanya saja untuk logika-logika menghantam pemikiran para kaum liberal saya lebih suka baca essy kang Divan Semesta. Jadi setelah membaca buku ini akan tambah klop dengan membaca buku I’m Muslim, Don’t Panic-nya Divan Semesta. Btw, buku ini perlu dibaca oleh siapa pun sebagai imunisasi dari virus liberal. []peta

Judul : Islam Liberal 101

Penulis : Akmal Sjafril

Penerbit : Indie Publishing

22 thoughts on “[Review Buku] Islam Liberal 101

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s