Shaf Baris Pertama

“Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh..” Imam menoleh ke kanan.

“Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh…” Imam kemudian menoleh ke kiri ditambah mengusap wajahnya dengan tangan kanan.

Shalat jamaah dhuhur baru selesai. Makmum yang masbuk masih menambah rakaat shalatnya. Imam sendiri mengimami jamaah untuk berdzikir. Peta yang berada tepat di belakangnya ikut berdzikir. Tasbih terbuat dari kayu-kayu kecil dijentikkan oleh makmum yang berada di sebelah kanan Peta. Samping, kanan, belakangnya juga riuh rendah ikut berdzikir.

Makmun samping kanan kirinya yang berbadan lebih gemuk menjempit Peta. Peta mengubah tempat duduknya agak mundur. Kini dia lebih leluasa bersila dan mengkhusukan diri berdzikir kepada Pemilik Alam Semesta.

Ditolehnya makmum yang berjarak 2 sajadahan dari dirinya. Seorang bapak berkopiah hitam. Bapak itu belum pernah dilihatnya. Sepertinya bukan orang sini, Peta hafal betul warga yang sering shalat berjamaah dimasjid yang atapnya belum jadi itu. Mungkin seorang makmun yang kebetulan lewat.

Bapak itu khusyuk berdzikir. Bibirnya tidak sedikit pun berhenti bergerak kecuali berhenti untuk bernafas. Tidak seperti makmun lainnya yang kepalanya ikut berdzikir menoleh kanan kiri mengikuti irama dzikir. Bapak itu itu badannya tenang, setenang wajahnya yang menenangkan.

Imam mengimamani jamaah berdoa. Para makmum mengamini, termasuk bapak itu. Hanya saja raut mukanya berubah menjadi wajah penuh pengharapan. Matanya terpejam. Kedua telapak tangannya terangkat seperti orang yang meminta-minta. Ya bapak itu memang sedang meminta-minta, meminta kepada Yang Maha Pemberi Rezeki. Meski Imam sudah selesai dengan doanya tetapi bapak itu tidak. Bibirnya sedang berucap. Entah apa yang diucap, menjadi rahasia antara bapak itu dengan Allah Azza Wa Jalla.

Islam adalah agama yang memanusia. Islam tidak mendikotomi umatnya berdasar ras, jabatan atau gelar. Buktinya shaf-shaf shalat di masjid tidak didaftari baris pertama untuk camat, lurah, atau pegawai perangkat kecamatan. Shaf baris kedua untuk para warga kelas bawah. Sedangkan baris ketiga atau paling belakang untuk para pemulung atau tukang-tukang. Islam tidak membeda-bedakan individu umatnya kecuali berdasar siapa yang paling beriman dan bertaqwa.

Keuntungan berada di shaf pertama, Peta bisa menjumpai pemandangan seperti bapak barusan. Sejatinya shaf pertama adalah shaf istimewa. Tidak semua orang bisa berkesempatan berada di shaf pertama tapi semua mukmin mempunyai kesempatan yang sama untuk berada di shaf di pertama.

Shaf pertama biasanya adalah orang-orang yang sebelum adzan berkumandang sudah berada di masjid. Mereka mengisi shaf-shaf depan. Peta hanya beruntung saja bisa dapat di shaf pertama. Dia datang terlambat ketika iqomah baru dikumandangkan. Sebelum para makmum berjejer, Peta menyelinap dan merengsek maju. Menempati posisi kosong di belakang Imam.

Masjid mulai ditinggal jamaahnya satu persatu. Termasuk Peta. Sandal kulitnya telah terpasang. Hanya saja dia menunggu dan mempersilakan tukang penjual bakpao lewat, keluar terlebih dahulu menuju gerbang masjid. Penjual bakpao itu membawa sepeda onthel dengan kotak kaca berisi bakpao. Bakpao-bakpao itu mempunyai tanda warna di atasnya. Bakpao satu dengan lainnya mempunyai warna yang berbeda, membuat orang yang melihatnya setidaknya penasaran dengan rasanya.

Yang lebih membuat penasaran, penjual bakpao itu adalah bapak berkopiah hitam yang berada di shaf pertama tadi. Oh bapak itu pantas berada di shaf pertama. Di samping kesibukannya menjual bakpao kesana-kemari, dia masih menomor satukan Tuhan-nya Yang Maha Memberi Rezeki. Oh bapak itu memang pantas di shaf paling depan daripada camat, bupati, gubenur atau presiden yang datang telat tetapi selalu disediakan sajadah khusus di shaf depan! []

6 thoughts on “Shaf Baris Pertama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s