Ibu Para Mujahidin

Login pertama gagal. Peta mengernyitkan dahi. Media jejaring sosial itu sudah sering kali dia pakai atau malah menjadi rutinitas hidupnya selain membaca koran dan mendengar alunan akustik Depapepe. Tetapi untuk login saja dia bisa salah.

Mungkinkah akun facebook-nya telah dibobol oleh seseorang seperti nasib akun temannya. Temannya yang dia kenal alim dan sopan. Berubah menjadi mucikari menawarkan gadis-gadis muda untuk disantap keperawanannya. Ya temannya itu memposting foto-foto gadis belia nan cantik bin bening. Untung selang beberapa waktu kemudian temannya itu mengkonfirmasi kalau akun facebook-nya telah di hack. Otomatis foto-foto yang muncul di wall-nya itu bukan dia pelakunya dan dia berjanji segera menghapus foto-foto itu. Apakah Peta percaya? Ya Peta menjamin jika temannya itu tidak mungkin melakukannya kecuali temannya itu kesurupan arwah mucikari dan melakukannya tanpa sadar.

Peta mencoba lagi menuliskan pasword akun facebook-nya. Kali ini berhasil. Pojok kiri atas akun facebook muncul bulatan kecil berwarna merah. Peta tidak segera meng-klik-nya. Sejenak dia membaca status teman-temannya baik teman dunia maya atau teman di dunia nyata yang dimayakan. Beraneka ragam bunyi status itu mulai dari yang sedang galau, kejengkelan kepada wasit atas kalahnya kesebelasan favoritnya, sebuah kutipan kata mutiara, publikasi muktamar, atau sekedar menulis “Say good morning” tapi banyak menerima cap jempol.

Sebuah foto menarik perhatiannya. Matanya tertuju pada foto itu. Seorang wanita tua kini menjadi sorotannya. Oh wajah ibu itu tampak teduh tapi tersirat jelas menunjukkan wajah kesedihan. Peta meng-klik foto itu supaya lebih seksama melihatnya. Seorang ibu dengan jilbab berwarna hitam dan memang benar wajah itu wajah kesedihan akan kerinduan.


“Seorang ibu di Suriah tengah merindukan anaknya yang sedang pergi berjihad di medan perang, ia tidak meminta anaknya untuk pulang dari medan jihad untuk menjumpainya namun ia mendatangi anaknya meski mengambil resiko akan tertembak.

Sang ibu menemui anaknya dan memegang erat kedua tangannya dan mendoakan baginya pertolongan dan kemenangan..”

Peta takjub. Matanya terpaku sejenak melihat adegan para ahli surga. Ibu itu boleh saja merindukan anaknya yang tengah bertempur di medan jihad, tetapi anak-anak seorang muslim merindukan sosok ibu seperti beliau. Ibu yang ikhlas melepas anaknya untuk membela agama Allah. Ibu yang tidak kuasa memikirkan keadaan anaknya dan selalu mendoakannya. Ibu yang mampu mengalahkan rasa takut akan tertembak peluru dan bom demi melihat anaknya yang sedang berjihad. Subhanallah betapa mulia dan indah hati seorang ibu. Kasih sayang seorang ibu memang tiada batasnya.

Semoga Allah mengumpulkan mereka kembali dalam kebaikan di dunia dan di surga insya Allah SWT. Amin.. []

*like fanpage Syria Care, dan ‘like’ foto-fotonya sebagai bentuk dukungan bagi para mujahidin..

8 thoughts on “Ibu Para Mujahidin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s