Madura Dari Kacamata Seorang Profesor (Lanjutan..)

Tulisan ini lanjutan dari tulisanku sebelumnya hasil dari diskusi dengan seorang Profesor di jurusanku. Berhubung aku termasuk tipe orang yang ‘lupa-lupa ingat’ maka baru sekarang aku bisa menyelesaikannya.. (*alah alasan padahal lagi malas nulis)

***

“Harus orang Madura ya Prof”

“Menurut saya sebaiknya begitu. Yang lebih ngerti Madura kan orang Madura sendiri. Saya juga khawatir jika dari luar orang Madura, penerimaan dari orang Madura sendiri kurang!”. Kemudian beliau bertanya kepadaku, “Tokoh nasional yang berasal Madura sekarang siapa saja?”

“Oya ketua Mahkamah Konstitusi Prof, pak Mahmud MD”.

“Setahu saya banyak orang Madura yang menjadi petinggi-petinggi departemen pemerintah. Kemarin ketika ada acara yang dihadiri para guru besar di seluruh kampus, ketuanya berasal dari orang Madura. Pemimpin-pemimpin di Pertamina setahu saya juga orang Madura. Para jendral juga banyak yang dari Madura. Banyak tokoh dari Madura, cuma kembali lagi apakah mereka bersedia mengawal pembangunan di Madura?”

“Hmm kira-kira pemimpin seperti apa Prof yang dibutuhkan rakyat Madura?”

“Butuh seseorang yang lebih dari pak Jokowi! Kalau jakarta itu kan sudah barang jadi, tinggal dibereskan saja masalah banjir atau kemacetannya. Kalau Madura tidak ya, Madura lebih sulit karena yang mau dikembangkan adalah SDM-nya. Mengatur manusia, atau mengubah mindset seseorang itu kan tidak mudah!”

“Lebih dari pak Jokowi ya Prof!”

“Kamu kan masih mahasiswa, coba saja datangi pak Mahmud MD. Kalau mahasiswa itu kan bisa bebas dari aturan-aturan protokoler. Bisa audensi-audensi kemana-mana. Itu enaknya jadi mahasiswa. Coba tanya ke beliau, apa beliau mau menjadi pemimpin Madura. Kalau jawabnya lebih mau mengurus negeri ini, sebaiknya pertanyaanya tidak usah dilanjutkan. Artinya beliau tidak mau! Memang tugas kita untuk memajukan negeri ini tetapi kesejahteraan di daerah kan patut dipikirkan, mendapat porsi lebih, untuk kesejahteraan rakyat di daerah.”

“Iya prof (*aku mengangguk mencoba mengerti di tidak mengertinya)”

“Saya jadi prihatin ya kondisi bangsa kita ini. Banyak pemimpin-pemimpin daerah yang kesandung korupsi atau menerima suap. Jika sampai para pemimpin tertinggi negeri ini mau disuap, habis sudah negeri kita ini”

“Iya prof, efek dari mahalnya pemilu demokrasi.”

Sejenak pak Prof diam. Mengambil nafas dan melanjutkan perkataannya tadi, “Tujuan didirikan negeri ini kan cuman untuk mencapai kemakmuran. Kita itu bernegara kan supaya bisa makmur. Dulu kerajaan-kerajaan di Indonesia itu sudah makmur tanpa menjual SDA-nya. Mereka bisa makmur karena berdagang. Sekarang setelah negeri ini menjadi Republik, malah menjadi tidak karuan. Artinya apa, masyarakat kita belum dewasa untuk berdemokrasi. Dengan demokrasi malah banyak melakukan penyelewengan-penyelewangan. Apa kita mau kembali lagi seperti zaman kekerajaan dipimpin oleh seorang raja, atau seperti zamannya presiden pak Harto!”

“..(* aku hanya mengangguk mencoba mengerti di tidak mengertinya)”

***

Suasananya mulai senyap, mungkin tidak banyak lagi bahan yang bisa dibicarakan. Statement Pak Prof tentang provinsi Madura juga cukup jelas. Madura membutuhkan sosok yang ikhlas bekerja untuk kemajuan pulau Madura, yang di otaknya selalu memikirkan bagaimana untuk memajukan rakyat Madura.

Senang rasanya dapat ilmu baru. Kita tidak perlu menjadi orang besar untuk berpikir besar, dengan bergaul atau berdiskusi dengan orang besar ikut membuat kita berpikir besar. Diskusi itu ingin aku lanjutkan membahas demokrasi di Indonesia, mungkin Pak Prof sudah capek ditanyain maka beliau balik bertanya kepadaku. Dan itu tentang skripsi. “Maaf Prof, mungkin itu dulu. Saya mau pamit pulang” aku segera ngacir karena bab skripsiku masih selesai di ‘bab niat’. []peta

4 thoughts on “Madura Dari Kacamata Seorang Profesor (Lanjutan..)

    • hmm setw saya pak mahmud itu termasuk org yg mau fokus ngurusi negara ketimbang madura.. tpi klo ada ksempatan sya tanyakan lagi, ngomongnya dari hati-hati..🙂

  1. Saya kurang setuju dengan pendapat ini, “Kalau jakarta itu kan sudah barang jadi, tinggal dibereskan saja masalah banjir atau kemacetannya. Kalau Madura tidak ya, Madura lebih sulit karena yang mau dikembangkan adalah SDM-nya. Mengatur manusia, atau mengubah mindset seseorang itu kan tidak mudah!”

    Jakarta itu bukan barang jadi, melainkan produk yang kurang sempurna. Kecuali seseorang melihatkalau barang jadi adalah barang yang seperti jakarta, banyak kemelut yang beragam. Terkadang memperbaiki yang sudah jadi tidak sempurna itu justru susah daripada membangun yang belum terbangun sama sekali. Ibaratkan saja membangun rumah dengan merenovasi rumah. Kalau saya sih tentu mudah yang membuat rumah dengan segala perabot yang masih serba baru. Kuncinya, kalau membuat sesuatu yang baru maka dia harus punya konsep, mau dibangun menjadi apa wilayah atau rumah tersebut. Sedangkan yang sudah jadi, bisakah dia mencari kosep yang lain sehingga akan membentuk wilayah yang lebih baik dari tahun atau generasi sebelumnya.

    • Hmm ‘produk yang kurang sempurna ya’.. yah semoga kemelutnya segera teratasi, dan benar-benar menjadi kota yang ibu kota..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s