Madura Dari Kacamata Seorang Profesor

Untung aku mempunyai salah seorang guru besar di jurusanku, guru besar dalam bidang Penginderaan Jaun (Remote Sensing). Meski ketika ikut kuliah beliau terkesan membosankan karena cara mengajar beliau seperti sedang mengajar mahasiswa S3, membuatku seringkali sulit untuk menangkap penjelasan pak Profesor (*alah asalan padahal memang gak mampu). Tapi berbeda rasanya jika diluar kuliah, beliau menunjukkan kelasnya sebagai penyandang gelar Profesor mulai dari cara berpikirnya, logika berpikir atau solusi-solusi yang beliau lontarkan memang kelas Profesor. Seperti perbincanganku dengan beliau membahas tentang wacana pulau Madura menjadi provinsi!

“Prof, madura mau dijadikan provinsi. Bagaimana pendapat profesor” tanyaku. “Ya saya setuju saja”. Jawab beliau.

“Begitu ya prof, padahal wacana itu masih menimbulkan pro kontra. Bagi yang pro, dengan dijadikan madura menjadi provinsi maka hasil dari pengelolaan SDA di madura yang sebelumnya banyak masuk ke kantong kas pemprov jatim, bisa dimaksimalkan untuk pembangunan di madura. Sedangkan bagi yang kontra beranggapan SDM madura belum siap. Bagaimana tanggapan Profesor?”

“Begini, menurut saya jika madura ingin sejahtera bukan karena menjadi provinsi atau tidak! Tidak menjamin nanti setelah madura menjadi provinsi, madura akan sejahtera. Terus dengan menjadi provinsi, serta merta pendapatan dari SDA bisa masuk ke kantong kas madura. Kalau mau, madura sebenarnya bisa sejahtera dengan tidak menjual SDA alamnya. Madura bisa saja makmur tanpa minyak, gas, atau SDA lainnya”

“Kog bisa ya Prof, bagaimana caranya? Kalau mengandalkan pertanian, tanah di madura tidak sesubur Jawa atau kalau tidak mau dikatakan tanah tandus?”

“Bisa saja, lihat saja Bali. Apa mereka makmur dari menjual SDA nya? Apa mereka makmur karena menjual minyak atau gas? Tidak kan. Mereka malah menyewakan SDA-nya. Saya pikir wisata di madura tidak kalah dengan di Bali. Selain pariwisata, di madura kan juga bisa dikembangkan kerajinannya seperti yang ada di Bali. Mulai kuliner, kerajinan tangan, pariwisata, itu kan bisa menjadi modal untuk membangun perekonomian di madura.”

“Oya benar, prof!”

“Nah, menurut saya orang-orang madura itu punya mental berdagang. Saya minggu kemarin berada di Mekkah, saya bertemu dengan orang-orang madura yang menjadi pedagang disana. Jadi orang madura itu sudah punya mental berdagang atau bahasa kita itu jiwa entrepreuner. Tinggal dikembangkan dan difasilitasi saja. Mulai dari diberi pelatihan-pelatihan, market, pelabuhannya diperbaiki, perbank-an juga tersedia. Fasilitas-fasilitas tersebut harus ada karena target marketnya kan tidak hanya lokal tapi internsional. Ngapain capek-capek jika cuma lingkup lokal”, pak profesor kemudian tertawa. “Kalau itu benar-benar terealisasi, madura bisa saja menjadi seperti Singapura”, tegas beliau.

“Hmm nanti yang mendanai fasilitas tersebut siapa Prof?”

“Bisa dari pemerintah pusat atau modal dari luar. Tapi pertanyaan pentingnya adalah siapa kira-kira orang yang mampu mengkoordinir, mengawal, mengembangkan pulau madura?”

“pemerintah daerah prof!”

“Tepatnya kita butuh seorang sosok ya. Seorang tokoh yang mempunyai komitmen, kapabilitas untuk mengawal pembangunan di Madura. Dan orang yang ikhlas untuk mengawal itu semua, bukan karena ingin memperkaya diri. Kira-kira seperti pak Nur lah. Meski beliau lebih banyak di luar Madura, tetapi di kepala beliau itu selalu memikirkan bagaimana caranya madura bisa maju, rakyatnya bisa makmur!”

“Ya benar prof, suramadu kan juga atas jasa beliau”

“Suramadu itu salah satunya. Sekarang ada tidak sosok yang mempunyai komitmen dan kapabilitas untuk memimpin Madura. Dan kalau ujung-ujungnya adanya provinsi Madura hanya untuk memperkaya segelintir orang saja, ya nanti hasilnya sama saja….”

(bersambung, battery laptop mau habis..)

21 thoughts on “Madura Dari Kacamata Seorang Profesor

  1. oh, saya baru tau kalau Madura mau dijadikan provinsi *kuper*
    ini percakapan beneran dengan Prof-nya ya? kok keren sih ada Prof mau diajak ngomongin hal-hal di luar kuliah…

    • yupz, daripada bengong nungguin hujan reda.. saya todong aja beberapa pertanyaan, lagian ini jg ‘tanggungjawab’ beliau jg sbg seorang profesor..
      eits jgn salah lho, menurut pengalaman saya selama ‘kontak’ dg dosen, sepertinya mereka malah seneng klo diajak diskusi.. apalagi berhubungan dg bidang keahlian dosen tsb..

    • kalo sampeyan pulang ke madura, mungkin perubahan mencolok adalah jalan dari bangkalan mnuju perbatasan sampang yang mulus.. #efekpilkada

    • skrang pun meski pantainya belum jdi kyak bali, udah bs mengundang azab.. -_-
      yah nanti klo bener2 mau dibangun, perlu ada aturan yg tegas..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s