[Review Buku] Hafalan Shalat Delisa


Kejadian minggu pagi tanggal 26 Desember 2004, menjadi kenangan buruk bagi bangsa Indonesia atau bahkan dunia. Tsunami yang meluluhlantakkan Aceh dan menimbulkan ribuan korban jiwa, menjadi memori pahit bagi siapa saja termasuk diri ku yang saat itu berumur 14 tahun. Bangunan rata dengan tanah hanya menyisakan puing-puing bangunan, mayat-mayat bergelimpangan dimana-mana, gambaran yang aku dapat dari televisi. Setelah beberapa tahun, memori pahit itu terkenang kembali ketika membaca novel “Hafalan Shalat Delisa” karya Tere Liye. Jika dulu melihat berita tsunami di televisi sudah membuat sesak, kali ini aku sedikit banyak mendapat gambaran utuh tentang tsunami di aceh, bagaimana seorang ayah kehilangan anak-anak beserta istrinya atau seorang anak kehilangan saudara-saudaranya dan juga ibunya, dan itu membuat lebih terhentak lagi.

Kisah yang dimulai dengan keharmonisan dan kelucuan tingkah sebuah keluarga bahagia yang terdiri dari ummi Salamah yang perhatian tetapi juga tegas dan abi Usman yang bekerja di perusahaan kapal asing yang baru pulang 3 bulan sekali dengan keempat putrinya, Fathimah si sulung, Aisyah yang jahil, Zahra yang pendiam dan si bungsu Delisa, berusia 6 tahun, tokoh utama kisah ini dan seorang gadis kecil polos dengan rambut curly, mata kehijauan, cerewet, suka bertanya, suka ngeles,suka warna biru, ceria, cerdas, dan yang suka manyun bin ngambek bila main sepak bola ditempatkan diposisi kiper karena dia ingin berada di posisi striker.

Kisah tentang sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana, episode Delisa dalam menundukkan hafalan shalatnya untuk mendapatkan hadiah kalung emas dengan liontin huruf D untuk Delisa dari ummi. Kalung yang sempat hilang dari memorinya, kalung yang akhirnya mempertemukannya kembali dengan umminya meskipun dalam kondisi yang sangat mengejutkan.

Hari itu Delisa sedang bersiap untuk ujian hafalan shalat di sekolah didampingi oleh umminya yang menggenggam kalung hadiah keberhasilannya nanti. Sekarang gilirannya

Allahu Akbar…

Persis ketika Delisa usai ber-takbiratul ihram, 130 km dari Lhok Nga lantai laut retak seketika, bumi menggeliat, mengirimkan pertanda kelam menakutkan.

Ka-bi-ra- wal-ham-du-lil-la-hi- ka-tsi-ro…

Tanah bergetar dahsyat, menjalar merambat menggentarkan seluruh dunia radius ribuan kilometer, air laut seketika tersedot ke dalam rekahan tanah maha luas.

Innashalati, wanusuki, wa-ma-…wa-ma…wa-mah-ya-ya, wa-ma-mati

Gempa dahsyat tidak terbendung, Banda Aceh luluh lantak, Nias lebur, Lok Nga menyusul. Tepat ketika Delisa mengucap wa-ma-ma-ti, lantai sekolah bergetar hebat, genteng berguguran, papan tulis jatuh berdebam. Anak-anak dan orangtua berteriak berhamburan, kepanikan melanda.

La-sya-ri-ka-la-hu-wa-bi..wa-bi..wa-bi-dza-li-ka-u-mir-tu-wa-ana minal mus-li-min…

Bagai dipukul tenaga raksasa, air yang tersedot ke dalam rekahan bumi seketika mendesak keluar menghempas balik menuju pantai. Tingginya tak kurang sepuluh meter, kecepatannya bagai deru pesawat, melibas apa saja.

Al-ham-du-lillahirabbil ‘a-la-min. Ar-rah-man-nir-ra-him. Ma-li-ki-yau-mid-din…
Ih-di-nas-sirotol-mus-ta-qim…

Para nelayan itu berseru panik saat melihat lautan seperti ditinggikan dan ombaknya menelan mereka tanpa daya. Gelombang itu sudah menyapu Banda aceh, rumah bagai sabut disapu air, pepohonan bertumbangan, tiang listrik roboh seperti lidi, mobil terangkat seperti mainan.

Sa-mi’-allahu-li-man-ha-mi-dah…
Gelombang menyentuh tembok sekolah

Rab-ba-na-la-kal-ham-du…
Delisa terpelanting, megap-megap oleh air kotor yang terminum olehnya, tubuhnya terbanting, kepalanya siap menghujam tembok sekolah yang masih tersisa, seketika tubuhnya terlempar kesana kemari, kakinya remuk menghantam pagar besi sekolah, tangannya terantuk batang kelapa dan patah, mukanya dihajar pelepah daun kelapa, giginya tanggal. Delisa tidak merasakan apa-apa lagi. Pingsan.

Tetapi Delisa tetap Delisa…

Semua kesedihan yang melanda, semua kehilangan yang dirasakan, semua kengerian yang telah dialami, semua dilaluinya dengan optimis dalam bingkai pengharapan. Anak ini jelas kehilangan lebih banyak dibandingkan ia. Anak ini jelas kehilangan nama-nama itu. Kehilangan rumah, sekolah, teman-teman, tempat bermain dan segalanya. Tetapi lihatlah, gadis kecil itu menganggap semua kepergian itu dengan sederhana. Benar-benar sederhana. Tidak ada penolakan. Tidak ada pengingkaran (hal. 169)

Yang patut kita renungkan, bisakah kita sendiri bisa setabah dan sesabar Delisa apabila mengalami ujian seberat dia? Meski buku ini agak membosankan karena cara tutur bang Tere yang menurutku datar-datar saja. Setidaknya novel ini memiliki banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan.

Kata-kata favorit:

  1. Memuji itu mudah sekali dilakukan, dan orang yang menerimanya akan riang. Jadi kenapa orang-orang tidak saling memuji dengan tulus saja? (hal. 57)
  2. Raut dan bentuk kesedihan sama di seluruh dunia. Universal! Kesedihan tidak memerlukan perantara bahasa. (hal. 105)
  3. Jangan pernah lihat hadiah dari bentuknya. Lihatlah dari niatnya. InsyaAllah hadiahnya terasa lebih indah (hal. 216)
  4. Orang-orang yang kesulitan melakukan kebaikan itu, mungkin karena hatinya. Hatinya tidak ikhlas, hatinya jauh dari ketulusan (hal. 245)
  5. Cukuplah percaya dengan satu janji-Mu. Maka kehidupan di dunia ini akan terasa jauh lebih indah. Semuanya akan terasa jauh kebih indah. Yakinlah! (hal. 262)

Judul    : Hafalan Shalat Delisa

Penulis : Tere Liye

Penerbit : Republika

Review by peta.

6 thoughts on “[Review Buku] Hafalan Shalat Delisa

  1. Peristiwa Tsunami di masa lalu memang memberikan luka yang mendalam bagi orang-orang yang berada di sana. Sekarang, setelah beberapa tahun dari tsunami itu, ya semoga saja banyak hikmah bisa kita dapatkan. :’)

    Hidup dan mati, tidak pernah ada yg bisa mengira ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s