Teka-Teki Terbunuhnya TV Tunner

Dalam Islam dikenal jika seseorang berniat baik maka dia mendapat pahala kebaikan dari niatnya itu sendiri meski dia belum melakukan apa yang diniatkan. Sedangkan berniat buruk maka dia tidak mendapat dosa meski belum melakukannya.

Kalau mau jujur dari dulu Peta punya niatan buruk terutama kepada teman-teman kontrakannya. Bukan niat mencuri karena dia tahu mahasiswa seperti teman-temannya itu ‘tidak punya apa-apa’ untuk dicuri. Bukan niat untuk mencelakakan temannya. Mana berani dia, mengganggu kucing tetangga saja dia tidak berani. Apalagi benih kasih sayang kepada teman kontrakannya itu sudah lama tertanam pada dirinya. Lah kalau masih sayang, kenapa juga dia punya niat buruk?

Begini Peta punya niat buruk untuk merusak TV tunner yang berada di ruang tengah kontrakan. Tapi mana tega dia merusaknya, TV tersebut adalah pusat hiburan dan informasi bagi penghuni rumah kontrakan. Kalau sekedar hiburan dan informasi, It’s Okay. Tapi lambat laun TV itu mulai menyita porsi waktu. Hiburan semestinya untuk akhir pekan saja, kelewat sampai hari-hari biasa.

Diakui atau tidak TV mampu bertransformasi menjadi barang ‘primer’, keberadaanya harus ada padahal tidak harus ada mulai di rumah, kantor, rumah sakit, bank, warung tegal, bahkan handphone pun perlu dilengkapi TV. Manusia menjadi bergantung kepada TV, contohnya saja ibu-ibu berani menitipkan anaknya kepada TV lewat tontonan Naruto, Shinchan, Idola Cilik, Nickelodeon, atau acara TV lainnya. Jangan kaget kiranya sang ibu jika ditemui anak-anaknya menjadi ‘makhluk asing’ yang suka ngomong “loe, gue, end” atau “cius, miapah”.

TV bukan tempat sampah tetapi acara di dalamnya penuh dengan acara sampah. Bahkan sampah bisa lebih baik daripada acara sampah TV, jika sampah masih bisa di recycle maka acara sampah hanya menyebabkan parasit di otak manusia.

Tidak dinyana, tidak ada hujan cuma meteor jatuh, beberapa hari lalu TV kontrakan menerima ajalnya. Di duga TV itu mati karena sendirinya, tidak ada bekas kekerasan fisik, diracun atau dipreteli onderdilnya. Meski bukan Peta pelakunya, bisa dikatakan Peta turut andil terhadap meninggal sang TV. Barangkali niat buruknya menjadi doa yang dimustajabahi oleh sang Khalik untuk mencabut ‘ruh’ TV tunner.

Sudah beberapa hari suasana kontrakan sepi dari suara speaker TV. Bukan hal yang patut disesali, justru waktu kosong yang biasa dipakai untuk menonton TV teralih kepada hal yang lebih bermanfaat seperti membaca buku, makan, tidur, berak (sama saja kali ya), atau ketika bangun malam bukan karena ingin menonton sepakbola tapi murni untuk menghadap-Nya.

Yah hidup terasa lebih lapang jika tidak ada TV. And if you don’t have enough time, stop watching TV. []

6 thoughts on “Teka-Teki Terbunuhnya TV Tunner

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s