[Cerpen] Aminah

Umi Aminah melangkah pelan dan berhati-hati. Dilihatnya kanan-kiri puing-puing bangunan rata dengan tanah. Melihat kondisi tidak ada yang mencurigakan, Umi Aminah meneruskan perjalanannya. Dua hari yang lalu kota Moadamiyeh, baratdaya kota Damaskus, digempur oleh serangan jet tempur pasukan Basyar Assad. Rudal dan roket ditembakkan oleh pesawat udara militer Assad tersebut untuk mencegah para mujahidin terus mendekati wilayah ibu kota Syria.

Umi Aminah dan ratusan warga lainnya mengungsi di bangunan yang masih utuh. Sekarang dia keluar pengungsian untuk mencari makanan bagi gadis kecilnya, Aminah. Bibir Aminah membiru dan kedua telapak tangannya pucat. Beberapa kali keluar suara dari perut Aminah. Umi Aminah sendiri dilanda kelaparan, matanya berkunang-kunang. Tidak tega melihat anaknya dililit kelaparan, instingnya mengatakan untuk mencari bantuan, setidaknya dia bisa mendapat sepotong roti untuk Aminah.

Cuaca dingin dan batu-batu reruntuhan gedung, menyulitkan langkah kaki Umi Aminah. Dia teringat tadi malam ketika Aminah menanyakan Abinya. “Mi, apa Aminah akan bertemu lagi dengan Abi?” tanya Aminah. “InsyaAlloh nak, Abi pasti dilindungi malaikat karena Abi memerangi musuh Allah.” Mendengar jawaban Uminya, senyum Aminah mengembang. Aminah membayangkan dirinya tidak lama lagi akan bertemu dan bermain dengan Abinya.

Kabar terakhir dari sang suami, Umi Aminah sebenarnya tidak tahu. Pesan terakhir yang dia ingat adalah setelah rezim Assad tumbang, dia akan segera kembali untuk menemui mereka berdua.

“Mi, mengapa mereka memerangi kita?” tanya Aminah sambil mendekap tubuh hangat Uminya. “Umi tidak tahu nak!”. Jawab Umi dan terkejut dengan pertanyaan Aminah. “Apa mereka tidak takut Mi! Padahal membunuh seorang muslim itu adalah perbuatan yang sangat dimurkai oleh Allah!”. Umi Aminah sekali lagi tertegun dengan ucapan anaknya, “Kau benar nak”.

“Tapi apa Allah tidak lebih murka lagi Mi ? Disaat kita diperangi, mengapa tidak ada orang-orang yang menolong kita. Mereka berdiam diri saja Mi” Tanya Aminah pada Uminya. Umi Aminah tidak segera menjawab. Dibelainya rambut Aminah dan kecupan sayang mendarat di keningnya. Aminah baru berumur 4 tahun, di usia tersebut anak-anak seharusnya berada di taman kanak-kanak, bermain dan belajar. Tetapi sebaliknya, Aminah dan anak-anak Syria yang berada di wilayah konflik, sudah terbiasa dengan suara tembakan, bom meledak dan melihat mayat dengan kondisi mengenaskan.

Sebelum serangan roket militer Assad dua hari lalu, Aminah sedang bermain dengan teman sebayanya. Ketika roket meluluhlantakkan bangunan di kota itu, Aminah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana keadaan para korban. Darah kental mengalir, mayat digotong dengan kondisi tidak utuh dan disejajarkan dengan mayat-mayat lainnya, serta pemandangan memilukan ketika seorang Ibu menjerit memanggil nama anaknya.

Rambut Aminah masih dibelainya. Ia memeluk tubuh Aminah yang terasa dingin. “Nak kita tidak mengharapkan pertolongan kepada siapa-siapa. Cukuplah Allah sebaik-baik penolong dan membalas makar musuh”. Ujar Umi Aminah kepada anaknya yang mulai tertidur.

Lamunan Umi Aminah terhenti ketika dia mendengar suara pesawat militer. Dia segera bersembunyi di balik reruntuhan gedung. Tidak salah lagi, pesawat itu adalah milik militer Assad. Kejadiannya begitu cepat. Pesawat tiba-tiba menjatuhkan rudal disusul kemudian terdengar suara ledakan. Suaranya menggelegar di kuping Umi Aminah dan memecah kesunyian kota Moadamiyeh. Umi Aminah terjatuh, sekujur tubuhnya kaku. Asap berwarna hitam gelap mengepul tinggi-tinggi di langit Syam.

Asap terlihat jelas dari tempat Umi Aminah. Tubuhnya masih tegang. Sesaat kesadarannya pulih dan secepat kilat berlari menuju tempat ledakan. Mendengar suara ledakan dan melihat runtuhnya bangunan adalah hal biasa baginya. Tetapi ledakan rudal tersebut ikut juga meremukkan relung hati Umi Aminah. Langkah kakinya dipercepat berpacu dengan degupan jantungnya. Orang-orang terlihat mengerumuni bangunan yang tengah porak-poranda, disanalah Aminah tertidur.

Teriakan histeris keluar dari mulut Umi Aminah, dilihatnya potongan tubuh manusia berserakan, otak berhamburan dari kepala mayat, dan ada ratusan pengungsi yang tertimbun termasuk juga tubuh kecil Aminah. Beton-beton kecil disingkirkannya, tangannya terus menggali, derain air mata tak tertahankan lagi bersamaan dengan jeritan-jeritan keras memanggil Aminah anaknya. Demikian kerasnya sehingga menggoyahkan keseimbangan tubuh beserta kesadaran dirinya. Tubuhnya tersungkur diatas reruntuhan, sayup-sayup terdengar suara memanggil namanya, “Umi.. Umi.. tidak usah menangis, Aminah sekarang bahagia bersama Abi”. []peta

6 thoughts on “[Cerpen] Aminah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s