[Cerpen] Impian Elly

Di luar matahari sudah terlihat sempurna menerangi isi dunia tetapi tidak dengan kamar Elly. Gorden kamarnya yang berwarna hijau penuh dengan gambar pohon bambu, menghalangi cahaya untuk masuk sehingga menggelapkan seisi ruangan. Di balik selimut bergambar tokoh kartun Power Puff Girl itulah terbaring tubuh Elly, seorang gadis yang kesehariannya ceria dan menceriakan orang-orang sekitarnya, siswa berprestasi meski bukan peringkat pertama di kelasnya. Tetapi hari-hari penuh ceria itu berubah 180 derajat ketika Elly dinyatakan tidak diterima di perguruan tinggi. Kini dia memurungkan diri di kamarnya menghindari dunia yang terasa tidak bersahabat lagi kepadanya.

Dalam balik selimut, Elly sudah membuka matanya tetapi pandangan matanya menandakan antara sadar dan tidak sadar, tidur atau terbangun. Suara detak jam yang tidak seberapa menjadi suara yang paling terdengar di kamarnya. Handphone dengan chasing berwarna hijau cerah itu sudah dimatikan, dan tanpa Elly ketahui bahwa semenjak kemarin teman-temannya mencoba menghubunginya dan entah berapa short message yang telah dikirim teman-temannya.

Elly benar-benar terpukul dengan kejadian yang menimpanya. Masuk perguruan tinggi dan menjadi seorang perawat adalah keinginannya. Dia bahkan rela menghabiskan tiap akhir pekannya dengan mengambil les tambahan untuk persiapan ujian masuk universitas. Tapi kali ini dia tidak mendapat apa yang dia inginkan berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan ayah bunda Elly yang bisa memberikan apa yang diminta Elly.

Dunia seakan bersekongkol menjauhinya apalagi memikirkan teman-temannya yang diterima di perguruan tinggi, mungkin akan menjauhinya. Awalnya dia ikut bergembira tetapi apalah arti kegembiraan itu jika dia tidak termasuk orang yang diterima.

Bayangan teman-temannya yang mungkin saat ini tengah bersuka ria merayakan keberhasilan diterima universitas, terlintas dalam angan Elly. Elly makin tenggelam dalam selimutnya, memikirkan teman-temannya yang mungkin tidak mau menemuinya lagi. Elly malu bertemu dengan teman-temanya, ayah bunda, dan kepada Dika.

“(Tok..tok..tok..) El ini bunda. Ayo turun, ada telepon untukmu”. Elly tidak menjawab panggilan bundanya. “El buka dulu pintunya. Temanmu Dika yang nelepon!”. Elly tidak percaya apa yang diucapkan Bundanya barusan dan mengejanya lagi, D.I.K.A., darimana dia tahu no telepon rumah, dan pertanyaan pentingnya untuk apa Dika menelepon.

Elly membuka matanya. Dia berpikir bisa jadi Dika menelepon untuk mengatakan bahwa dia sudah diterima Pendidikan Kedokteran. Tidak, tidak, Dika yang dulu ketua Rohis bukan anak yang suka pamer. Elly menggeleng-gelengkan kepalanya, yang pasti Dika menelepon adalah suatu yang langka dan mungkin tidak terjadi di masa mendatang atau setidaknya dekat-dekat ini. Maka Elly bergegas ke kamar mandi mencuci mukanya, mengambil kerudung dan bercermin memastikan tidak ada halnya aneh pada dirinya kecuali kulitnya yang terlihat pucat karena dari tadi malam belum makan. Elly membuka pintu kamarnya, dilihatnya di depannya masih ada Bunda yang nampak cemas dengan kondisi Elly. Elly mencium pipi Bundanya untuk memberikan tanda bahwa dia tidak apa-apa hanya saja perasaannya yang kini tengah bergelora dan kegairahan itu makin tinggi tiap kaki Elly menuruni anak tangga rumahnya.

Elly lupa kalau lelaki itu hanya meneleponnya bukan berkunjung ke rumahnya seharusnya dia tidak perlu merapikan diri terlebih dahulu. Tapi sepertinya pengecualian jika yang menelepon adalah orang yang berpengaruh untuk mengambil jurusan Keperawatan. Elly gadis yang selalu menampakkan keceriaan tetapi keceriaannya itu tidak pernah ditunjukkannya kepada teman laki-lakinya termasuk juga lelaki di balik ganggang telepon. Elly paham bahwa dunia pergaulan mereka berbeda tetapi Elly berharap dunia yang berbeda itu suatu saat menjadi dunia yang satu padu. Elly siswa berprestasi tapi tidak pernah peringkat satu di kelasnya karena kalah dengan Dika, anehnya Elly menerima saja asal peringkat pertama adalah Dika.

“Halo..” Elly mengangkat ganggang telepon.

“Assalamualaikum” Dika memberi salam.

“Waalaikumussalam.” Jawab Elly.

“Aku sudah mendengar semuanya El dari teman-teman. Kamu jangan terlalu bersedih, teman-teman semua mengkhawatirkan mu. Kamu tidak apa-apa kan?”. Tanya Dika tanpa dijawab langsung oleh Elly. “El aku diterima di Pendidikan Dokter.” Dika menarik nafas kemudian melanjutkan perkataannya, “Tapi kamu tahu kan aku suka membaca buku-buku cerita. Aku punya impian, suatu saat aku akan menjadi novelis terkenal. Karena itu aku sudah memutuskan untuk tidak kuliah di kedokteran. Aku akan mengambil jurusan Sastra sehingga aku bisa fokus mengejar impianku menjadi seorang novelis.”

“Tapi sayang kan. Banyak orang yang menginginkan kuliah di kedokteran tapi kamu malah melepasnya”. Elly memotong.

“Aku tahu itu. Tapi apa menariknya hidup jika kita tidak mencoba meraih impian kita. Kamu tahu, bahan bakar hidup itu adalah impian.”

“Bagaimana kalau kamu gagal, apa engkau tidak menyesal nanti?”

“Aku akan lebih menyesal lagi jika tidak berusaha meraih impianku El. Jika nantinya aku terjatuh atau gagal dalam meraih impianku, itu lebih baik daripada aku tidak pernah mencobanya sama sekali! Kamu juga mempunyai impian kan El?”

Elly tidak menjawab pertanyaan Dika. “El aku harap kamu segera bangkit. Teman-teman membutuhkanmu, kangen canda tawamu dan aku… (tuts..tuts…tuts)”. Telepon terputus bersamaan dengan nolnya pulsa Dika.

Elly masih memegang ganggang teleponnya. Elly tidak tahu apa ucapan terakhir yang ingin disampaikan Dika dan Elly tidak berharap lebih. Elly hanya tersenyum mengingat pertanyaan Dika barusan tentang impiannya. Apa Dika tidak tahu bahwa ada seorang gadis yang memimpikan menjadi pendamping hidupnya. []peta

5 thoughts on “[Cerpen] Impian Elly

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s