Anakmu Bukan Anakmu

Dulu ketika Peta mendadak ‘ngantor’ maka tiap pagi sebelum jam 7 dia sudah berangkat kerja. Sebelum berangkat, seperti biasa dia sempatkan nongkrong di Cankruaan (warung kopi) Cak Lil, sekedar membaca koran Jawa Pos dan memesan segelas teh hangat ditemani tempe goreng sebagai  sarapan paginya. Di depannya lalu lalang anak-anak kecil berseragam menuju sekolah dasar beberapa blok dari tempat Peta duduk. Dilihatnya gadis kecil yang bergandengan tangan dengan seorang Ibu sedang tangan kirinya membawa bekal makanan. Apa yang dilihatnya barusan membersitkan rasa iri, kangen dan kekecewaan pada diri Peta.

Rasa iri karena di kepalanya tidak terlintas memory bahwa Peta pernah menjinjing bekal makanan buatan sang Ibu. Maka timbul kekangenan Peta akan masa itu, ingin sekali-sekali dia kembali ke masa sekolah dasar dulu untuk merekam kembali memory yang mungkin terlupa akan aroma dan  lezatnya masakan sang Ibu serta ucapan maaf atas segala kerepotan dibuat oleh  Peta kecil. Tapi masa itu tidak akan berulang kembali, yang bisa Peta lakukan saat ini adalah menghitung dan mengakumulasikan segala kebaikan yang telah ibunya berikan dan meminta kompensasi terbaik kepada-Nya atau jerih payah ibunya.

Gadis kecil itu beruntung, sangat beruntung karena mempunyai seorang Ibu yang mengekspresikan kasih sayangnya dalam sekotak bekal makanan. Mungkin gadis kecil itu tidak belum merasakan kasih sayang itu tapi suatu saat dia akan merindukan bekal makanan dari malaikat tidak bersayap tersebut.

Keadaan kemudian berbanding terbalik ketika Peta menuju tempat kerja. Di perempatan jalan yang biasa dia lalui ada juga gadis kecil. Bedanya gadis kecil tersebut berpakaian lusuh dan selalu menawarkan koran kepada tiap pengendara yang berhenti ketika traffic light berwarna merah. ‘Semangat kerja’ adik kecil itulah kemudian mampu membangkitkan semangat kerja Peta,  malu rasanya apabila dia bekerja tidak sekeras adik itu bekerja.

Di luar sana rasanya masih banyak anak-anak yang kurang beruntung dimana waktu paginya bukannya dihabiskan untuk mengenyam pendidikan tetapi dipakai bekerja supaya asap dapur orang tuanya masih mengepul. Peta sadar betul anak-anak kurang mampu tersebut seharusnya dipelihara oleh negara tetapi Peta juga tahu di sistem saat ini, anak-anak tersebut adalah korban dari persaingan bebas ala kapitalis.

Di luar sana pula anak-anak juga menerima kekerasan fisik, psikis dan seksual. Pada berita media elektronik ataupun massa engkau akan menjumpai anak-anak yang diperlakukan secara kasar oleh orang tuanya. Seorang bayi akhirnya meninggal karena disekap oleh ibu kandungnya  karena bayinya rewel. Berita lainnya, gadis kecil dibawah umur menjadi korban seksual oleh kakeknya sendiri, atau anak sekecil itu memilih gantung diri karena orang tuanya tidak mampu bayar SPP. Dan masih banyak lagi berita tragis anak-anak yang akan engkau terima tiap harinya seolah-olah engkau berada di negeri ‘Jahiliyah” atau negara perompak dengan masyarakatnya yang tidak bermoral dan bejat.

Di luar negeri sana malah lebih kejam dan tidak beradab lagi. Terkutuklah mereka yang membuat yatim piatu anak-anak Palestina, membuat kaki mereka buntung karena bom ranjau yang dipasang di lapangan sepakbola. Terlaknatlah mereka yang menyembelih anak-anak Syria, membelah perut ibu hamil untuk diambil janinnya karena ketakutan akan munculnya ‘generasi pembebas’.

Peta berduka dalam keheningan. Entah apa ada yang mengerti kecamuk dalam dirinya, kesesakan dalam dadanya. Tidak bisakah manusia menyayangi anak-anak manusia itu secara manusia, apakah manusia sudah begitu rendahnya dibanding binatang dalam memperlukan anak-anaknya. Teringat Peta akan pesan dosennya di Universitas Kehidupan, “Kelak apakah kamu yakin bahwa anakmu adalah anakmu? Bukankah ia sekedar seseorang yang dilewatkan kamu, sebagaimana orang lain dilahirkan lewat bapak dan ibunya? Maka bukankah di mata Allah SWT semua anak adalah sama saja? Jadi sekarang berbaiklah dan bersantunlah kepada anak siapapun yang kau jumpai. Maka anak yang kau anggap anakmu itupun akan memperoleh perlakuan yang sama dari orang yang mengasuhnya.” []

16 thoughts on “Anakmu Bukan Anakmu

    • jdi gini ya –> anakmu bukan anakmu, ia adalah anak jamannya..

      mungkin mksud pakde gibran itu, zaman kita dg anak kita beda jadi beda didikan jg.. hmm

  1. wahhhh..jadi inget anak di rumah, yang selama kukerja…pengasuh yg ngasuh anakkuu…penuh kasih sayang menagsuhnya *jadi cemburu sm pengasuh *dilemma ibu PNS wkwkwkwk

    • saya cuman bisa mengatakan, ‘be carefull”.. kasus meninggalnya seorang bayi krn disekap oleh pembantunya, menurut saya jg faktor kurangnya pengawasan dari orang tua..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s