Bunuh TV Mu?

Pemegang remote TV ibarat pemimpin daerah, jika pemimpin daerah ada yang seenaknya nikah cerai maka pemegang remote dengan leluasanya gonta-ganti channel satu-persatu dari angka terkecil sampai terbesar. Tapi pada akhirnya balik ke tontonan pertama seperti yang dilakukan Peta, Obing, dan temannya Almarie. Setelah pencet sana pencet sini mengganti saluran TV akhirnya mereka menonton lagi kegilaan kawanan kambing Shaun The Seep. Tontonan yang jauh menghibur dibanding drama ‘Misteri Ilahi’ yang penuh dengan bau klenik memunculkan sosok semacam gendoruwo, kuntilanak, babi ngepet, pocong ngesot, adegan bangkit dari kubur, atau drama tentang kesesatan lainnya yang membuat penonton ikut tersesat karenanya.

Peta sendiri tidak habis pikir, program televisi yang dia lihat banyak menawarkan tayangan tidak bermutu dan tidak mendidik. Sinetron misalnya, padahal cerita di sinetron itu cenderung tidak masuk akal, alur cerita nya terlalu dibuat-buat dan mudah ditebak. Kalau tidak tentang percintaan ala remaja yang tiada ujung sampai tujuh turunan, pilihan lainnya bisa tentang kekejaman ‘ibu tiri’ kepada anaknya. Tidak salah jika Obing kemudian mengumpat, “asu, acara sampah!”.

“Ha..ha..ha.. demi alasan hiburan, masyarakat tetap saja menonton acara sampah itu” balas Almarie sambil mengambil remote dari tangan Obing takut dilempar ke muka TV. “Justru itu aku tambah khawatir. Gara-gara tayangan gak mutu, masyarakat kita malah teracuni otaknya. Lihat saja tidak sedikit dari masyarakat kita yang ingin kaya secara instan, kalau perlu tidak usah kerja langsung punya rumah punya mobil.”

“Kataku sinetron itu mengajarkan hidup hedonis, mana ada pemain sinetron memakai baju dan penampilannya yang tidak eye catching dari ujung rambut sampai mata kaki.” Tutur Almarie. “Masyarakat akhirnya niru-niru, lebih mengedepankan ‘model’ dari pada ‘modal’, lebih mendewakan penampilan daripada keterampilan. Akhirnya individu-individu masyarakat kita adalah individu bertopeng, bangga di balik penampilan tapi isinya kosong.”

Obing menambahkan, “Apa yang kamu bilang itu persis sama yang dialami korban iklan. Coba kamu tanya pada lelaki, cewek idaman kamu yang kayak gimana? Nanti jawabnya gak jauh-jauh dari kulitnya putih, rambutnya hitam panjang dan lurus, tinggi, dan bodynya langsing. Nah dia itu yang namanya korban iklan. Iklan-iklan di TV itu 90% bohong.”

“Ngomongin yang instan-instan. Sekarang marak acara pencarian bakat untuk menjadi bintang secara instan”, Almarie bertutur, “Kasihan mereka, mereka ingin menjadi artis ternama dengan sekejap, padahal mie instan saja untuk memasaknya tidak langsung instan. Masih perlu mendidihkan air, meniriskan mie, menambahkan bumbu dan bawang goreng. Sama halnya jalan untuk menjadi bintang, perlu proses dan penempaan!”

“Alah itu urusan mereka.” Obing mulai membentak, “Demi ikut audisi, mereka rela antri berjam-jam hanya untuk mengkumandangkan suara mereka padahal ada yang suaranya mirip Anggun lagi serak-serak basah. Tapi mereka yang masih muda-mudi itu ketika diajak untuk diskusi mencari solusi atas permasalahan rakyat, hanya segilintir orang yang datang. Kutu kampret!”

Peta yang mendengar obrolan Obing dan Almarie itu tersenyum kecut. Peta ingat ketika mengikuti diskusi perihal kenaikan BBM oleh BEM kampus, mahasiswa yang datang bisa dihitung dengan jari. Artinya tidak sampai 1% dari total mahasiswa yang hadir dalam forum diskusi, padahal diskusi tersebut terkait hajat hidup orang banyak.

“Pet, kamu setuju dengan aku kan?” tanya Obing. “TV adalah sampah. Kamu juga jangan keseringan menonton berita! Kamu tahu sendiri, beberapa pemilik stasiun TV adalah orang partai. Termasuk partai pemenang pemilu kemarin. Kamu tidak akan menemukan kritikan dari stasiun TV tersebut karena berita-berita otomatis ikut terkontrol sesuai pesanan penguasa istana.” Bentak Obing.

“Kalau sudah begini, lebih baik kita mati-kan saja TV ini!”.

Peta terkejut mendengarnya, bukan terkejut karena nasib TV yang di ujung tanduk tapi sudut pandang seorang Obing terhadap media. Peta mencoba memahami kekesalan Obing, sosok yang dikenal Peta memang suka memprovokasi orang lain itu. Barangkali Obing saking kesalnya dengan pemberitaan TV cenderung menutupi kebenaran dan tidak berimbang.

Tidak pernah dia jumpai saluran TV yang memberitakan tentang perjuangan rakyat Plestina mengusir penjajah zionis Israel, malah terkesan media membentuk opini bahwa para pejuang Plestina lah yang merongrong eksistensi negara Israel. Begitu pula tidak dijumpainya pemberitaan atau gambar yang menunjukkan anak-anak Plestina di usia mereka sudah memegang senjata, atau bocah Syria sana yang berteriak lantang untuk tumbangnya rezim Assad dan diganti negara berasaskan Syariah. Kontras dengan bocah-bocah di negeri yang sibuk main Play Station, bola atau demam K-Pop. Tidak salah Gil Scott-Heron pernah berujar, “The revolution will not be televised”.

“Bing, aku tahu kamu di pagi hari sering cangkruk di warung Cak Lil.” Tutur Peta, “Kamu cangkruk bukan karena makan gorengan sebagai pengganjal perut mu saja, tapi di warung itu kamu bisa membaca koran sepuasnya. Kamu pernah mengatakan, jika buku adalah jendela dunia maka koran adalah serambi dunia. Dengan membaca koran, kita mengetahui peristiwa yang terjadi di belahan dunia lainnya. Dari membaca koran kamu mendapat banyak artikel-artikel bergizi yang bisa kamu santap.” Peta berhenti sejenak dan mengalihkan pandanganya kepada Obing. “Kamu tahu koran yang kamu baca tiap paginya itu pemiliknya adalah seorang menteri alias suruhan pemerintah. Dengan begitu apakah engkau akan berhenti juga untuk membaca koran!” Peta mengambil nafas, “Selama alarm otakmu masih kamu biarkan menyala, carilah informasi dan pengetahuan baru dari media. Sedangkan berita yang kamu anggap sampah itu lebih baik dibuang jauh-jauh.”

Obrolan peta terhenti setelah mendengar suara embek di layar kaca TV karena kawanan kambing Shaun The Seep mulai nongol. Barangkali yang disepakati oleh Peta, Obing dan Almarie adalah sepakat menangkap kambing-kambing itu untuk dijadikan sate kambing. []

34 thoughts on “Bunuh TV Mu?

  1. Setuju, saya nggak pernah ngonsumsi TV lokal. Paling-paling setel saluran berita sama acara pengetahuan, selain itu, mending browsing di internet B)

  2. he he he… cara tuturnya kereeen…
    aku juga mualessss, n hampir ga pernah ngikuti senetron. ngliat sak klebatan doank pas pembantuku nyetel tipi. liat debat juga males.
    sukanya aku kaya2 discovery channel soal ilmu pengetahuan gitu…

    salam kenal yah, dulu aku tinggal di hero city juga, but now pindah ke krian (just inpo he he..)

  3. Sepakat, bunuh TV-mu*. Hati-hati dengan subliminal message yang menyihirmu untuk mengikuti perintahnya tanpa sadar.

    *kecuali acara sepakbola dan berita atau laporan investigasi.

  4. Hahahaa! mau komen banyak ahhh😀 #permisi
    1. Ending-nya bikin ngekek
    2. Tulisan yang bermutu. Like this dah! Semoga jadi banyak yang tersadar.
    3. Tulisan ‘Plestina’ tolong diralat Palestina ya biar

  5. Ow em ji, tv sucks. Admit that. Tipiwan punya Bakrie (Who on earth would vote Golkar?), metro tipi punya Surya Paloh (Ya ya ya, Nasdem itu nasionalis banget). Sinetron? InfoTAIment? Fuck that shit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s