Bersuka Cita Dengan Kematian

Seandainya tatanan yang mengatur kehidupan kita semua ini berlaku semestinya, berdasar aturan-aturan syariah-Nya aku rasa aku akan betah menumpang teduh di dunia yaitu ketika dunia penuh keadilan, cinta kasih, dimana-mana dijumpai orang khusyuk beribadah kepada-Nya, dunia yang jauh dari sifat materialistik individualistik. Mungkin dunia seperti ini cuma ada dalam anganku, tapi dunia itu adalah gambaran yang aku baca dari Kitab Suci. Kalaupun dunia ideal tersebut saat ini belum ada atau malah jauh dari kata ideal apakah aku terlalu naif terlalu percaya kepada Kitab Suci? Atau manusia sudah melebihi kapasitasnya sebagai manusia, sanggup membuat ‘syariah’ baru untuk mengatur kehidupannya sendiri?

Dengan bertambahnya usia, manusia akan semakin sakit baik sakit jasmani atau rohani. Sakit jasmani karena sudah berapa makanan modern yang manusia konsumsi mulai yang mengandung sakarin, siklamat, sodium nitrit, zat pewarna sintetis, atau MSG. Sedang sakit rohani karena dampak tuntutan zaman untuk terus sekuler. Bidang kerohanian dipersempit dan kalau perlu keimanan dikikis habis. Jika sakit jasmani menyebabkan manusia ketidakberdayaan dan ketergantungan akan barang konsumsi, maka sakit rohani menyebabkan ‘inflasi’. Kehidupan moral masyarakat 10 tahun yang lalu dengan masa sekarang atau dimasa mendatang mengalami perubahan nilai. Jika dulu masih dianggap ‘bangsat’, sekarang ‘bejat’ maka entahlah kedepannya disebut apa? Jika dulu seks sesama jenis adalah bentuk kebangsatan, hari ini dianggap perbuatan bejat maka esok hari barangkali sah-sah saja asal sakinah mawaddah warahmah dan sah menurut ‘KUA’.

Sialnya aku hidup di zaman seperti itu, hukum yang compang camping antara koruptor yang mencuri uang negara (baca: rakyat) sampai miliaran rupiah dengan pencuri kelas teri maling sandal ketika jumatan. Keberpihakan keadilan kepada orang kaya dan mempunyai jabatan. Zaman ketika tiap lapisan masyarakat mengalami keputus-asaan karena desakan ekonomi, muncul para Caleg yang tidak pernah putus asa untuk dipilih. Atau zaman dimana icon pemuka agamanya dihujat maka mulut dan tangan para pengikutnya ikut berteriak lantang, tapi bungkam ketika Nabi Sang Kekasih Allah SWT dilecehkan.

Aku tidak ingin hidup di zaman seperti itu, tidak ada jaminan akidah ku akan terus kokoh dan tidak jebol oleh peradaban hedonis modern. Aku tidak ingin mati membusuk terbaring di ranjang empuk karena digerogoti penyakit.

Menunggu suatu saat kesempatan itu tiba yaitu ketika para Panglima negeri ini berani mengambil keputusan untuk melaksanakan tugas pokok seorang prajurit temour, bukan menjadi kepanjangan tangan ketika bencana alam tiba atau sekedar simulasi perang tetapi benar-benar perang gerilya!

Menghapuskan segala bentuk penjajahan dan ikut serta menjaga perdamaian dunia adalah amanat yang dipikul oleh tentara. Jika kalian tidak sanggup karena terbentur aturan birokrat maka rekrut dan latih lah kami mengangkat AK-47, melempar bom bolotov, ajari kami taktik perang. Kami para pemuda yang muak melihat saudara-saudari nya di negeri sana dihadiahi berondongan butir peluru atau dihujani bom fosfor dan bom cluster yang membuat yatim piatu anak-anak Plestina.

Kami tidak sanggup jika nanti ditanya oleh-Nya, “kau pergunakan untuk apa masa muda mu?” atau “dimana dirimu ketika saudara mu menjerit pertolongan?” sungguh kami tidak sanggup.

Plestina memanggil, Suriah memanggil, jika kesempatan itu ada aku ingin berhadapan dengan tank-tank musuh sampai aku mati karenanya. Tangan, kepala, kaki, tubuh ini menjadi serpihan-serpihan daging berceceran dalam radius 2 meter. Saat itu aku akan bersuka cita karena mati dalam kesyahidan! []peta

4 thoughts on “Bersuka Cita Dengan Kematian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s