Mahasiswa Dan Pergelutannya Dengan Pagi

Sejatinya Peta adalah orang yang malas untuk diajak kerja pagi-pagi.

Dia merasa belum puas sebelum meng-K.O kasur tempat biasa dia ilerin. Tapi ya mau apalagi, mungkin air wudhu sisa shalat shubuh membuat dia terjaga dari mimpinya bertemu dengan naruto yang sedang mengimami shalat berjamaah mulai shikamaru, sasuke, choiji, dan dibelakangnya ada sakura lengkap dengan jilbabnya, yah mungkin efek dari melihat .jpeg naruto versi ramadhan yang di share di facebuk.

Di hari biasanya, Peta milih bersantai-santai bak berjemur di pantai, aslinya dia duduk saja di depan TV melihat berita mulai dari keselisutnya kaki Messi ditekel bek lawan sampai berita menyayat hati seperti seorang kakek terpaksa berurusan dengan jeruji besi gara-gara mencuri kelapa. Di lain pihak sang koruptor yang apabila hasil korupsinya di-uangkan dengan kelapa jadilah sang koruptor mendadak juragan es degan dan kolamnya dibanjiri air kelapa muda. Sang koruptor tadi belum tentu mendapat hukuman atau diadu tempurung kepalanya dengan tempurung kelapa.

Peta merasa punya kewajiban untuk selalu update berita terkini dan termuktahir karena tidak ingin dianggap gaif bin gaptek, gagap informasi dan teknologi,default-nya Peta memang gaptek gara-gara lama di desa yang dheso lebih dheso daripada dheso itu sendiri.

Ditambah status dia sebagai seorang mahasiswa, sebuah status yang konon mempunyai strata sendiri di lapisan masyarakat, mengharuskan dia untuk selalu tahu di tidak menahunya suatu permasalahan yang sedang menimpa masyarakat. Peta sungkan ketika pulang kampung nanti ketika diminta menyelesaikan benang kusut di masyarakatnya, dia tidak bisa memberi ‘molto’ anti kusut. Gara-gara dia mahasiswa, dianggap ilmu nya lebih tinggi beberapa derajat dibanding tukang gali kubur atau tukang cendol keliling.

Sebenarnya menjadi dilema tersendiri bagi Peta, perkuliahan bukan tempat untuk membahas persoalan masyarakat mulai dari a sampai zsin sampai cotangen atau dari alif sampai nun kasrah, di kuliah dia hanya berkutat dengan teori bla-bla-bla karena dosennya pun mengajar dengan cara bla-bla-bla. Peta sendiri tidak yakin apa dengan teori bla-bla-bla yang diajarkan dapat gampang dimengerti oleh bahasa intelektualitas masyarakat kelas bawah, ditambah Peta sendiri tidak fasih mengucap teori bla-bla-bla. Takutnya masyarakat malah mengira Peta mengajak untuk oblada-obladi. Atau malah karena tingkat bahasa nya yang tinggi dan ilmiah, dianggapnya Peta sudah sejajar dengan para Profesor ilmu Kelangitan atau dikira separalel dengan dokter karena tulisan Peta secakar ayamnya resep dokter.

Selama kuliah tidak ada namanya membahas rumus Phytagoras, Kepler atau Mang Ma’ung untuk rekayasa menghentikan semburan lumpur lapindo atau mekanisme paling efektif dan efisien untuk pembayaran ganti rugi korban lumpur lapindo, atau barangkali teknologi yang ampuh untuk memotong korupsi yang tengah menggurita atau teori yang tidak hanya untuk mengatasi banjir tapi juga memanfaatkan kelebihan air tersebut untuk pertanian? Padahal cara, teori atau rumus tersebut lah yang lebih dibutuhkan oleh masyarakat.

Persoalan-persoalan yang menimpa masyarakat sebetulnya bisa dirasakan juga oleh Peta gara-gara warung tegal yang biasa dia sambangi bukannya porsi nasi yang nambah malah porsi harganya yang naik. Peta tentu berharap persoalan yang terjadi tidak dia sendiri yang memikirkan, persoalan yang apabila dilihat dari kacamata agama nampak seperti lingkaran setan itu. Ada kalanya Peta menaruh harapan kepada para mahsiswa-mahasiswa cumlaude, dengan IPK diatas 3,5 dan lulus 3,5 tahun pastinya lebih ngakali dibanding Peta. Malah dia berharap ada mahasiswa yang dapat IPK 4,3 artinya ada mahasiswasupercumlaude karena berhasil membuat pusing dosen serta rektorat yang memberi nilai.

“Alah itu cuma alasan kamu aja Pet, biar menghindar dari tanggung jawab. Pada akhirnya kamu seperti mahasiswa-mahasiswa itu yang ingin cepat lulus dengan IPK tinggi terus mendapat pekerjaan nyaman dengan gaji enak dikantong dan bisa ngelamar anak pak Sekarmaun juragan batubara sana”, tutur Obing teman sekamar tapi punya kasur iler masing-masing. “Kamu tidak inget kata kanjeng Nabi, siapa yang bangun pagi dan hanya memperhatikan masalah dunianya maka orang tersebut tidak berguna sedikit pun di sisi Alloh. Siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum Muslim maka ia tidak termasuk golongan mereka”, tambah Obing sambil memutar obeng sejauh 27 derajat supaya gambar lebih jelas dan tajam.

Peta ingat pernah membaca hadis yang diucapkan Obing barusan, tapi di buku mana dia lupa yang pasti tidak di buku pelajaran agama di sekolah ‘formal’. Hadis tersebut tiba-tiba mengingatkan Peta kalau hubungannya dengan sang Nabi pernah renggang tapi itu dulu. Sekarang sampai mati dia akan menjaga kadar cintanya kepada kekasih Allah SWT itu, atau kalau bisa meningkat – meningkat – dan meningkat, tidak naik turun seperti roller coster.

Benar kata Obing tadi, entah temannya itu baru ‘dilewati’ apa tiba-tiba bicara seperti itu, bukankah Islam mewajibkan setiap pemeluknya untuk bertanggung jawab terhadap segenap umat manusia pada setiap dan waktu dan tempat. Tidak ada tempat untuk bagi orang yang egois atau individualis. Peduli kepada sesama bukanlah perkara sosiologis semata tetapi juga teologis. Peduli akan nasib dan persoalan masyarakat, mendengar keluh kesah mereka, mengindera dan ikut merasakan ‘sakit’ mereka. Baru kemudian mencari problem solving-nya, kalau tidak ketemu ‘kebenaran’ di buku-buku diktat teknik, pasti termuat di kitab suci. Konsep kebenaran itu bukan yang ada di tiap masing-masing kepala manusia tetapi ada di kitab suci. []

4 thoughts on “Mahasiswa Dan Pergelutannya Dengan Pagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s