Mendadak Nyantri!

“Pingin belajar di pesantren?” salah satu status fb teman ku. Keinginan yang mulia memang, tapi melihat kesibukannya dia yang bergelut dengan kuliah, aku gak yakin apa dia mampu menjadi santri sekaligus mahasiswa, S2 pula.

Dekat kampus ku ada pondok pesantren mahasiswa atau biasa disebut mahad, kebetulan aku mempunyai teman yang nyantri di salah satu mahad sana dan jangan ditanya kemampuan agamanya karena ‘skill’ mereka diatas rata-rata. Sejujurnya aku kagum sekaligus malu dengan teman ku itu. Bagaimana tidak iri, dengan tugas kuliah yang sudah bergejibun dan menumpuk, dia masih mampu melaksanakan tugas-tugas di mahad mulai dari hafal Al-Qur’an, belajar ilmu hadis, fikih, memulai berwirausaha, dan pekerjaan-pekerjaan mandiri lainnya.

Jika engkau bertanya, kenapa aku tidak ikut bergabung saja dengan pondok pesantren mahasiswa tersebut? Yah, aku pengen sekali tapi kompas hidup ku malah menunjuk ke arah lain. Berawal dari perkelananku dengan mas Rohman (nama samaran) seorang mahasiswa Arsitektur (yang kemudian jadi pembimbingku) aku dibuatnya tersesat dijalan yang benar. Dari beliaulah kemudian aku diajak untuk menjadi penghuni rumah kontrakan, bersama-sama dengan dengan beberapa mahasiswa lainnya, yang sama denganku aku pikir mereka juga sebelumnya ‘tersesat’ dan kini ‘tercerahkan’.

Di kontrakan itu lah rasa-rasanya aku mulai menjadi mahasiswa yang ‘nyantri’. Tiap badha magrib ada kultum bergilir (dan ya aku yang newbie ini pun dapat giliran ngisi). Tunduk terhadap aturan kontrakan mulai tidak boleh nonton TV kecuali termasuk list tayangan TV halal, jadwal waktu nge-game, atau harus patuh jadwal kerja bakti bersama. Tiap minggu setidaknya dua jam sekali mengkaji kitab dari syekh An-Nabhani, ulama yang dari Mesir yang dari beliau lah aku memahami akan keideologisan Islam. Minggu malam ada program tahsin dan tahfidz, program yang menjadi batu godam supaya aku memperbaiki bacaan Al Qur’an ku. Dan ramadhan kemarin ada program belajar bahasa Arab, program yang cocok bagi ku yang perlu belajar bahasa arab dari alif kecil atau mulai dari mengenal kalimah isim, fi’il serta huruf. Yah semua itu membuatku serasa di pondok pesantren ditambah rak buku yang penuh dengan buku-buku agama.

Sebenarnya kedua orang tua-ku adalah alumni pesantren maka jadilah aku dan saudaraku yang lain di didik dan dibesarkan berdasar ‘ilmu parenting’ pesantren (anehnya aku tidak pernah disekolahkan di pesantren tapi di sekolah formal). Shalawatan, yasinan, adalah makanan sehari-hari di keluarga ku.

Aku bersyukur mendapat asupan ilmu agama dari kedua orang tua ku dan teman-teman kontrakan saat ini. Meski aku bukan alumni pesantren, aku bertekad menjadi orang yang fasih agama. Tidak perlu sampai menjadi ustad, kiai atau seorang syekh, cukuplah ilmu agamaku nantinya bisa membimbing keluarga ku kelak terutamanya lagi aku ingin menjadi ‘guru spritual’ bagi anak-anakku. []dnk

9 thoughts on “Mendadak Nyantri!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s