Menjadi Kaya

Seakrab atau sedekat apapun aku dengan teman ku, nyatanya kami masih punya perbedaan. Salah satu nya dalam memandang kekayaan. Suatu ketika aku bertanya kepada teman ku itu, apakah kamu ingin jadi orang kaya? Dia menjawab dengan cukup tegas bahwa dia menolak jadi orang kaya. Alasannya sederhana, dia takut dengan kekayaan yang dia miliki nantinya menjadi batu sandungan bagi dirinya untuk mendapat tiket surga, walaupun hanya tiket kelas ekonomi sekali pun. Uniknya dia menambahkan, dia ingin tinggal di Selandia Baru dan membangun rumah kecil disana bersama keluarganya kelak, di Selandia Baru pemandangan alamnya masih perawan dan sejauh mata memandang kau akan melihat hamparan rumput hijau yang luas (entahlah dia mengaku dapat informasi tersebut setelah melihat dibalik layar pembuatan film “The Lord Of The Rings”).

Aku bisa menangkap maksud dari temen ku itu, sepertinya dia lebih memilih kehidupan sederhana yang tenang dan damai jauh dari hiruk pikuk kebisingan kota besar. Aku tidak bisa menyalahkan teman ku itu. Bagaimana dengan ku? Sejujurnya aku ingin hidup kaya raya bahkan sangat kaya. Bukannya aku serakah, tamak atau gila harta. Hanya saja dengan melimpahnya kekayaan aku bisa membangun sebuah pesantren, sekolah gratis, panti asuhan, TPA, perpustakaan umum, atau lainnya. Bahkan dengan banyaknya uang yang bisa aku miliki, aku akan membantu mengaspal jalan yang sejak lama aku gregetan melihatnya gara-gara lubang jalan yang sudah pantas untuk beralih fungsi menjadi kolam lele itu.

Tentu saja sumber kekayaan tersebut didapat dari jalan halal, bukan dari hasil babi ngepet atau memberi sesajen lengkap dengan kembang tujuh rupa seperti yang ku lihat di film yang gak bertanggung jawab itu. Lalu bagaimana aku menjadi kaya?  Entahlah, untuk sementara aku akan berdoa kepada Allah SWT yang Maha Kaya berkenan memberi sedikit rezeki-Nya kepada ku.

Memang default-nya membangun sekolah, panti atau memperbaiki jalan adalah kewajiban negara. Tetapi tidak menutup kemungkinan bagi warga negara untuk ikut berpatisipasi bukan. Seperti yang aku ketahui ada beberapa tokoh yang menyumbangkan sebagian hartanya untuk pembangunan dan kemajuan masyarakat. Sedangkan untuk para pemimpin negara ini biarlah mereka menumpuk kekayaan buat mereka sendiri dan anak cucu mereka sampai 7 keturunan, karena kekayaan yang mereka kumpulkan hanya untuk membayar kenikmatan dunia yang fana. Sedangkan kenikmatan yang sesungguhnya adalah kenikmatan akhirat kelak lengkap dengan fasilitas VIP yang mungkin tidak bisa kita ditemui di dunia.

Yah kekayaan akan menjadi ranjau atau tidak, tergantung bagaimana kita mengaturnya. Apa dengan mengikuti nafsu atau tunduk kepada aturan main Sang Ilahi. Dan aku pikir kekayaan tidak berarti memiliki harta yang banyak, tetapi seberapa besar kepedulian Anda kepada orang lain.

Maka jadilah KAYA..!! []peta

2 thoughts on “Menjadi Kaya

  1. Setuju dengan semangat untuk kaya agar bermanfaat, dapat menjadi saluran berkah buat banyak orang.
    Intinya hanya sudut pandang, dan yang penting kuasai ilmu agama & manajemen, agar tidak menyimpang dari niat yg mulia itu ketika benar-benar diuji dg kekayaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s