Mahalnya Kesederhanaan

Penggalan realitas hidup bisa engkau nikmati kapan dan dimana saja, termasuk juga dalam acara resepsi pernikahan.

Aku hanya duduk terdiam dan mataku menyaksikan kesibukan para pembantu itu membereskan piring-piring kotor dari para tamu undangan yang menaruhnya di pojok lantai atau atas meja. Seakan perut mereka belum puas sebelum terisi penuh, mereka melahap menu makanan lainnya sedangkan bibir mereka masih basah dengan minyak sisa makanan. Tempat duduk yang terbatas atau memang sengaja ditiadakan, mempermudah para tamu undangan secara estafet bergiliran dari meja satu ke meja lainnya.

Dengan bergerombol para tamu itu berbincang-bincang, entahlah apa yang mereka perbincangkan. Bisa jadi mereka membicangkan kedua mempelai yang semenjak sedari tadi tersenyum bahagia padahal dalam hatinya deg-degan akan menghadapi malam pertama atau mereka memperbincangkan lezatnya menu masakan apabila mereka ingin mencobanya lagi bisa didapatkan di restauran atau hotel berbintang. Dan suasana resepsi semakin semarak dengan penampilan tembang pilihan dari band undangan. Suara penyanyi wanita yang mendayu-dayu sepertinya sukses mengembalikan memory masa lalu beberapa tamu akan perjumpaan dengan pujaan hatinya.

Detak jantung kedua mempelai semakin berdegup kencang seirama dentingan keyboard yang mengiringi dengan para penyanyi bersenandung. Sayang suara penyanyi sudah serak karena sedari tadi mnghibur, entah didengarkan atau tidak karena tamu undangannya yang lebih menikmati makanannya. Lagipula semua lagu pilihan sudah didengarkan dan perut para tamu sudah terisi penuh bahkan pancuran yang isinya coklat cair tidak mampu lagi menarik minat anak-anak yang ikut hadir. Sedang kedua mempelai sibuk berfoto dengan teman atau para kolega atau pimpinan perusahaan tempat bekerja, dipotret langsung oleh fotografer profesional lengkap dengan lampu bliz-nya.

Malam makin larut dan degup kedua mempelai semakin kencang, terlihat jelas para tamu undangan tersenyum puas. Mereka mulai meninggalkan gedung resepsi satu-persatu dan tidak lupa menukarkan kupon yang sebelumnya diberikan dengan souvernir sebagai persembahan terakhir dari kedua mempelai. Foto pra-wedding yang sebelumnya terhalangi hilir mudik tamu, sekarang mulai terlihat jelas.

Kedua mempelai telah meninggalkan gedung resepsi dijemput Sedan mewah dengan aksesoris bungan di depannya. Gedung mulai sepi tapi tidak dengan aktifitas di dalamnya, para pembantu masih sibuk membereskan piring-piring kotor yang berserakan di atas meja, di pojok gedung. Piring-piring itu bila diperhatikan seksama masih ada sisa makanan atau daging tapi tidak termakan. Masakan atau kue cake yang tersisa akan dibagi-bagikan kepada para pembantu tetapi masih lebih banyak yang dibuang percuma.

Aku tidak tahu apakah untuk awal hidup yang baru mesti dengan mengadakan acara yang glamour. Sayangnya lagi para pemimpin negeri ini justru menjadi teladan yang baik tentang kemewahan. Apakah mereka tahu, di luar sana di perempatan rambu lalu-lintas, empang jalan, di jembatan penyembrangan, atau depan masjid, terdapat orang-orang pinggiran yang mengais receh demi receh untuk sesuap nasi, untuk menyambung hidup. Padahal di acara resepsi pernikahan, sesuap nasi dengan mudah dihamburkan dan dibuang.

Ah di zaman dimana uang menjadi berhala baru, kesederhanaan akan menjadi barang yang mahal! []peta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s