Lapar Yang Amat Sangat!

    Meski aku lapar yang amat sangat, tapi tujuan puasa bukanlah untuk membalas dendam ketika waktu berbuka puasa tiba. Maka aku mencoba untuk menahan godaan segala hidangan yang ada di depanku, aku bisa saja memilih ayam kecap yang tampak lezat itu atau memilih ayam crispy yang hmmz nyam-nyam.. Tapi seperti yang aku katakan, puasa tidak hanya menahan godaan dari terbitnya matahari sampai terbenamnya matahari, puasa juga menahan “nafsu” untuk tidak makan berlebih ketika berbuka.

    Nasi dengan lauk pauk perkedel kentang dan tahu goreng, lebih dari cukup untuk menemani waktu berbuka ku. Gara-gara kecerobohanku hanya bersahur dengan air putih karena ketika aku bangun suara adzan subuh telah terdengar. Hasilnya semenjak pagi perutku sudah keruyuk-keruyuk dan rasanya ada yang melilit seperti lilitan ular pada dahan kayu yang ku lihat di channel National Graphic.

    Oh Gusti mungkin inilah yang dirasakan ibu pengemis yang aku temui kemarin, dia yang menggendong anaknya terlihat pucat pasi dengan bibir yang kering kerontang. Syukurlah sejurus kemudian ibu pengemis tadi terlihat menyuapi anaknya, hanya saja aku tidak habis pikir mengapa ibu itu memilih makan di depan teras rumah, di pinggir jalan. Padahal dua blok ke kanan, disana ada warung makan. Meski baju ibu itu sangat lusuh, dia juga manusia yang membutuhkan kenyaman menyantap makanan. Yang tidak aku ketahui pula, ibu itu sedang sarapan atau makan siang ya atau barangkali sarapan siang. Yah aku akui Ibu itu berbeda dengan ku, aku masih bisa makan kapan saja tapi ibu itu akan makan setelah koin di botol Aqua yang dipegangnya sudah cukup untuk dibarter dengan nasi bungkus.

    Jika di negeri ini masih dijumpai orang dengan perut melilit amat sangat dan mata yang berkunang-kunang karena rasa lapar yang tidak tertahan, itu adalah sebuah penghinaan dan musibah karena konon katanya sebatang kayu pun mudah tumbuh di negeri zamrud khatulistiwa ini. Ah musibah terbesar bukanlah bencana kelaparan tetapi mulai mengerasnya hati manusia seperti batu, tidak hanya ketidakpedulian antar sesama manusia tetapi juga penghargaan kepada sisa makanan yang terbuang percuma. []peta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s