Ketika Ilmu Eksak Tiada Berguna?

    Tulisan ini aku mulai dari perkenalanku dengan seorang bapak, beliau adalah pegawai bank BUMN milik pemerintah. Perkenalanku itu berawal dari “keterpaksaan” ku mengikuti acara launching klinik bisnis @kampus. Kenapa terpaksa, itu karena aku diminta menggantikan temanku yang tidak bisa hadir. Akhirnya aku pun ikut dengan iming-iming dapat makan siang gratis! Ah mahasiswa kere seperti ku akan susah untuk menolak kesempatan yang jarang datang dua kali itu..

    Kembali ke bapak tadi, jadi beliau itu mempromosikan program kewiraswastaan dari bank BUMN tersebut. Akan ada bimbingan, pelatihan dan bantuan kredit modal usaha. Intinya beliau mengatakan, “Bank kami mensuport penuh agar tercipta wirausaha muda sukses berikutnya” begitu kira-kira penutup dari beliau.

    Apa aku tertarik? Sejujurnya aku tidak tertarik. Bukan tidak tertarik untuk menjadi entreuprener muda, tapi aku tidak tertarik pada bantuan kredit yang ditawarkan! Itu saja masalahnya. Malah yang menarik perhatianku adalah ternyata bapak itu adalah sarjana teknik, teknik Mesin tepatnya.

    Bapak ini mengingatkanku akan sosok Iman Supriyono, penulis buku “Guru Goblok Bertemu Murid Goblok”. Seorang alumni teknik Mesin juga yang sekarang beliau berkecimpung di dunia marketing dan konsultan keuangan.

    Unik kedua orang tersebut. Pekerjaan yang mereka geluti sekarang berbanding terbalik dengan pendidikan terapan yang dulu mereka pelajari di bangku kuliah.

    Sebenarnya ada yang lebih keren lagi, seorang tokoh nasional yang pakar dalam bidang Komunikasi Syariah. Ternyata dulunya adalah lulusan Geologi. Coba pikir apa hubungannya antara Komunikasi Syariah dengan bidang kebumian, hmm??

    Kalau belum puas, aku kenalkan tokoh nasional satu lagi. Beliau adalah penulis buku “Ilmu Retorika Untuk Mengguncang Dunia”, bisa tebak bidang apa yang beliau geluti? Kalau kamu jawab pakar Retorika, kurang tepat rasanya. Tepatnya beliau adalah pakar ilmu ekonomi langit, maksudnya ekonomi Islam. Di tiap kesempatan yang membahas perekonomian terutama ekonomi Islam, tidak lengkap rasanya tanpa mengundang beliau, seperti tidak lengkapnya Islam tanpa Syarianya. Apakah beliau dulu adalah sarjana ekonomi? Tidak, malah ust Dwi Condro adalah lulusan jurusan Ilmu Tanah.

    Dari tokoh-tokoh tersebut aku manarik kesimpulan yang terbilang serampangan bahwa bisa jadi kita akan lebih sukses atau menjadi pakar apabila kita beralih pada bidang yang kita minati dibandingkan bidang yang kita pelajari. Seperti kedua tokoh sebelumnya yang minat mempelajari bidang ilmu terapan Islam padahal bidang tersebut tidak “populer” dimata masyarakat. Bahkan orang yang mempelajari bidang yang sama belum tentu bisa menjelaskan segamblang dan se-ideologis ust. Dwi Condro.

    Saat ini aku pun manaruh minat yang sama akan ilmu terapan Islam seperti Ekonomi Islam, Politik Islam, Sistem Pendidikan Islam, dsb. Lantas nantinya aku akan banting setir dari bidang yang aku pelajari sekarang? Bisa jadi, tapi aku pikir ilmu yang aku pelajari sekarang pun bisa berguna untuk masyarakat khususnya umat Muslim atau paling tidak ilmu yang pelajari membantu ku memahami akan wawasan Keislaman.

    Seperti yang dikatakan Ahmad Tohari di salah satu bukunya, bagaimana orang bisa mengambil pelajaran dari umat terdahulu kalau dia tidak mempelajari sejarah dan antroplogi. Bagaimana orang bisa melaksanakan perintah menyantuni para yatim dan fakir miskin bila dia tidak belajar sosiologi. Bagaimana orang bisa mencegah kerusakan di laut maupun di darat bila dia tidak menguasai pengetahuan tentang alam dan lingkungan hidup. Atau bagaimana orang bisa mengetahui arah kiblat yang tepat tanpa mempelajari astronomi geodesy. J

    Ya begitulah! Sebelum aku akhiri tulisan ini, akhirnya dapat juga tuh makan siang gratisnya, Alhamdulillah. Padahal di tengah sistem kapitalis seperti saat ini, not free lunch! Tidak ada makan siang gratis! []peta

8 thoughts on “Ketika Ilmu Eksak Tiada Berguna?

  1. aku ingin kuliah buat cari ilmu, ternyata orang2 cari kuliah buat cari gelar buat cari kerja. ilmu bisa didapat tanpa kuliah. buktinya otodidak bisa. tapi tanpa kuliah tidak ada pengakuan dari komunitas ilmiah dan akademi. jadi gelar yang dicari. tapi seharusnya tidak gelar doang. nanti sarjana ekonomi tapi tidak tahu apa-apa tentang ekonomi. lebih baik tahu ekonomi, ekonomi kapitalisme sekarang plus ekonomi islam. jadi belajar juga. yang jelas aku sekarang mahasiswa tingkat akhir harus selesaiin kuliahnya. kalo kamu, semester berapa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s