Review Buku : Revolusi Dari Rumah Kami

        Ketika me-review buku ini statusku memang masih lajang. Lho bukannya buku ini diperuntukkan bagi mereka yang sudah menikah? Ya benar, tapi tidak ada salahnya dibaca oleh mereka yang masih bujang. Dari buku ini setidaknya aku bisa mengetahui secuil tentang kehidupan rumah tangga, dan bisa aku aplikasikan nantinya jika waktunya telah tiba. Seperti yang tertulis dalam buku ini, “Apa mereka tidak tahu bahwa pernikahan itu tidak hanya untuk sehari dua hari, sebulan dua bulan, setahun dua tahun? Lalu, bagaimana mungkin urusan yang akan dijalani semumur hidup, hanya dipelajari dan dipersiapkan dalam seminggu dua minggu, atau sebulan dua bulan sebelum menikah!”

    Buku Revolusi Dari Rumah Kami adalah karya Abay Abu Hamzah atau sering disapa Ustadz Gaul. Penulis buku lainnya seperti Menggenggam Bara Islam (2009), Melawan Dengan Cinta (2010) dan buku Revolusi Dari Rumah Kami (2010). Disapa ustadz Gaul, barangkali karena aktivitas dakwah kak Abay yang tidak lepas dari seputar kehidupan remaja. Dengan pembawaan dan pendekatan yang khas, kocak namun bersahaja, pantaslah ia telah menjadi ikon tersendiri untuk dakwah remaja di Kalimantan.

    Abay lelaki kelahiran Martapura, Kalimantan Selatan pada tahun 1986. Masih muda memang, tapi jangan salah! Tahun 2005, kak Abay mengikat dirinya dengan seorang wanita muslimah dalam bingkai pernikahan dan hingga kini telah dianugerahi dua orang anak, Muhammad Nawfa Hamzah dan Muhammad Alif al-Fatih.

    Dengan buku Revolusi Dari Rumah Kami, sepertinya kak Abay ingin berbagi dengan para pemuda-pemudi khususnya bagi mereka para pengemban dakwah, tentang kehidupan Rumah Tangga. Tidak hanya membincangkan pernikahan dalam suasana merah jambu, tetapi juga membincangkannya dengan warna merah menyala karena pernikahan adalah tungku yang memanaskan hawa perjuangan. Dengan begitu, Kebangkitan Islam segera tegak dan revolusi itu berawal dari rumah kami!

Dari rumah kami, akan terpancar cahaya ilahi ke seluruh penjuru dunia | Dari rumah kami, tersebar risalah Islam yang kini jatuh ke tangan kita | Dari rumah kami, bermula sebuah revolusi besar yang akan mengguncang bumi | YA, REVOLUSI DARI RUMAH KAMI!

    Berikut beberapa kata bijak dalam buku ini :

  1. Kerusakan suatu generasi tidak lepas dari peran penting tiga komponen: keluarga, masyarakat dan negara. Jika sebuah negara tidak menjadikan aqidah Islam sebagai landasan berdirinya, masyarakat tidak menjadikan Islam sebagai aturannya, pemikiran dan perasaannnya, dan ditambah keluarga yang semakin jauh dari Islam, tunggulah keruntuhan generasi mereka (hal. 10)
  2. Selalu saja, kalimat ‘afwan, saya tidak siap’ yang menjadi senjata untuk menolak pinangan seorang lelaki/wanita shalih (hal. 42)
  3. Kesiapan adalah kedewasaan. Sedang kedewasaan adalah, menjadikan hukum syara’ sebagai ukuran dalam melakukan seala sesuatu (hal. 46)
  4. Pernikahan adalah manajemen ketidakcocokan (hal. 48)
  5. Bohongnya suami untuk membahagiakan isteri boleh (hal. 69)
  6. Melafazkan cinta kepadanya adalah sebentuk penegasan, atau penentraman. Kita hanya ingin membuat pasangan kita yakin dan merasa tenteram (hal. 69)
  7. Cantik adalah terawat dari segala kosmetik yang diharamkan. Ia mencukupkan diri pada yang sunnah. Tidak pernah ia meributkan warna kulitnya yang tidak seputih salju. Tidak pernah ia merisaukan sebutir jerawat kecil yang menghiasi wajahnya. Tidak pernah ia menyesalkan bentuk hidungnya yang tidak semancung perempuan mesir. Tidak pernah ia meratapi bentuk bibirnya, bulu matanya, alisnya, dan lainnya (hal. 75)
  8. Wanita harus bersikap tegas di depan laki-laki, agar tidak muncul keinginan pada lelaki yang ada penyakit di hatinya (hal. 80)
  9. Jika menebarkan cinta dalam keluarga saja tidak bisa, bagaimana kita hendak menebarkan cinta di seluruh penjuru semesta? (hal. 83)
  10. Suami, berpikir dengan diam. Dan memang begitulah tabiat laki-laki secara umum. Sedangkan isteri, berpikir dengan berbicara, dan memang begitulah tabiat perempuan secara umum. Perbedaan ini harus disiasati untuk menghindari masalah yang ditimbulkannya (hal. 95)
  11. Adalah sebuah kemaksiatan, apabila seorang suami tidak cemburu jika isterinya berjalan dengan lelaki lain. Sebab, berjalan denga lelaki lain – yang bukan muhrimnya – adalah kemaksiatan. Membiarkan isteri bermaksiat adalah kemaksiatan juga. Karena itu, cemburulah (hal. 97)
  12. Rumah bukan sekedar sebuah bangunan kecil dengan tiang, lantai, atap, dinding, pintu, jendela. Lebih dari itu, rumah adalah tempat dimana setiap penghuninya saling menempa diri menjadi pribadi luar biasa (hal. 113)

 

Judul : Revolusi Dari Rumah Kami

Penulis : Abay Abu Hamzah

Penerbit : Anomali

Harga : Rp 35.000,-

 

Review by peta

2 thoughts on “Review Buku : Revolusi Dari Rumah Kami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s