Review Buku: Riang Merapi

Novel Riang Merapi adalah novel pemikiran karya Divan Semesta. Disebut novel pemikiran, barangkali dengan membacanya anda akan di ajak untuk bertamasya pikiran, dan dalam perjalanannya akan dijumpai pemikiran mulai dari eksistensialis, atheis, posmodernisme, hermeneutika.. Paham pemikiran yang sesungguhnya apabila coba kita masuki bisa menjadi bomerang untuk keimanan kita sendiri. Tidak percaya coba simak yang berikut ini, “Untuk apa agama, sementara yang menumpahkan darah di dunia, yang berperilaku amoral adalah orang-orang yang mengaku memiliki agama!”

Ya tamasya pikiran dalam novel ini bisa jadi mempertaruhkan keimanan kita, tamasya yang memusingkan dan membuat pening dalam hening, setidakya itu yang kurasakan.. Bagaimana tidak, kamu akan dicecoki oleh pertanyaan yang mungkin tidak kita bayangkan sebelumnya, semisal “Tuhan itu maha kuasa, maha Pencipta. Bisakah Tuhan yang maha Kuasa dan Pencipta itu menciptakan suatu benda yang sangat besar.. sehingga tuhan tidak mampu untuk mengangkatnya?”

Membaca novel ini kamu akan me-recycle tentang agama, apa benar agama itu berasal Tuhan? Bukankah agama itu kebudayaan, hasil cipta rasa dan karsa dari manusia. Dan pada akhirnya mungkin kamu akan seperti filsuf gila Nietzsche yang mengatakan “Tuhan sudah mati, dan kitalah yang membunuhnya”

Apakah novel ini se-seram itu? Sebenarnya itu pada awal-awalnya saja. Awalnya novel ini akan mencoba membadai otak para pembacanya dan kalau bisa sampai membuat sesak!! Dan tanpa kamu sadari, kamu akan mempertanyakan tentang eksistensimu sebagai manusia dan tujuan hidup mu sebagai manusia. Jika tidak menuntaskannya, kamu bakal menjadi manusia yang hidupnya setengah-setengah! Manusia yang tidak mengetahui tujuan hidupnya di dunia untuk apa.

Conclusion, novel ini memberitahukan kepada kita akan pentingnya pentingnya struktur keimanan. Sedangkan keimanan yang terstruktur hanya didapat dari jawaban atas pertanyaan mendasar manusia yaitu darimana manusia berasal, untuk apa tujuan hidup di dunia, dan akan kemana setelah mati?

Jika kamu memahami struktur keimanan, kamu akan mengetahui mana pertanyaan dan ungkapan yang mengalihkan. Manusia boleh kesulitan untuk memberi jawaban mengenai pertanyaan ketuhanan. Orang boleh membuat bingung manusia lainnya tentang keberadaan Tuhan dengan aneka pertanyaan, tetapi apakah hanya dengan pertanyaan itu, dengan akrobatik kata itu Tuhan lantas jadi tak ada sementara bukti pencipta-Nya, bukti keberadaan-Nya merentang di keajaiban dan keagungan alam semesta!

Selain berpapasan dengan berbagai pemikiran, membaca novel ini akan dijumpai pula tentang pembelajaran akan kerasnya kehidupan, kerasnya pergulatan spiritual, persahabatan yang demikiran lekat (seperti persahabatan antara Riang Merapi dan Taryan), juga bagaimana manusia menghadapi kematian dengan berbagai kondisi (bukankah kematian itu adalah pasti!), menyambut kematian dengan sikap elegan dan ksatria atau mati sebagai pecundang!

Berikut kata-kata favorit dalam novel ini dan dapat kita kontemplasikan :

  1. Jika di dunia, manusia hanya hidup untuk dirinya, hanya untuk kepuasannya dan kesombongannya saja.. Lantas mengapa manusia dianggap sebagai makhluk yang paling mulia melebihi kemuliaan emas? (hal. 28)
  2. Jangan pernah menyesali apa yang pernah kau perbuat! Jangan pernah mengandai-andai, mengulur angan-angan mengenai suatu kesalahan di masa lampau! Penyesalan tidak akan berfungsi jika tidak menjadikan peristiwa masa lalu sebagai pembelajaran! Penyesalan hanya untuk sekali! Setelah itu tatap masa depan! Jangan pernah melihat ke belakang! (hal. 46)
  3. Kau bisa mempercayai penggambaran mahluk yang menyeramkan seandainya kau melihat atau menyentuh mahluk itu dengan tanganmu sendiri (hal. 50)
  4. Aku tidak tahu! Tetapi yang kutahu alam semesta itu teratur. Dan apa pun alasannya keteraturan selalu ada yang menciptakan (hal. 62)
  5. Kasur empuk, fasilitas yang nyaman dan memikat memang bukan jaminan kebahagiaan. Letak kebahagiaan kemungkinan besar ada di dalam pikiran (hal. 112)
  6. Nurani itu bukan alat berpikir. Alat berpikir itu otak! (hal. 125)
  7. Waktu tidaklah berubah, yang berubah hanyalah pemaknaan manusia terhadap kejadian yang ada di hadapannya (hal. 212)
  8. Ketakutan memang alamiah, tetapi jika ketakutan bisa dikemudikan, seorang lelaki bertubuh kecil bisa menjelma jadi raksasa di hadapan orang yang memiliki kaki, tangan dan tubuh yang kokoh! Jiwalah yang menjadi penentu keberanian! Kau tak akan bisa menakut-nakuti, kau tak akan bisa membuat orang lain segan, kau tak akan bisa menjadikan lawanmu berpikir belasan kali, jika jiwamu kau kerdilkan! Letak keberanian ada disana.. Di otakmu! Di pikiranmu! (hal. 244)
  9. Manusia tidak bisa dipaksa untuk mengambil sebuah keyakinan. Keyakinan adalah kesadaran, bukan proses pemerkosaan, bukan penggagahan kesadaran (hal. 285)
  10. Manusia yang dikepung kebingungan, kegelisahan, dan tidak mampu menyingkap rahasia yang teramat gelap seharusnya menjadikan dirinya sadar bahwa ia memerlukan sandaran dan seharusnya sandaran itu merupakan sesuatu yang berkuasa terhadap dirinya. Kita menyebutnya Tuhan (hal. 303)
  11. Memang bentuk Tuhan untuk saat ini tak bisa dilihat. Tapi, keberadaannya dapat manusia rasakan melalui perasaan dan dibuktikan keberadaan-Nya melalui pikiran (hal. 303)
  12. Kegelisahan dan kegilaan adalah konsekuensi negatif pencarian makna yang kita lakukan, tetapi, jika kita berbicara tentang konsekuensi positif kegelisahan makan kita akan mendapat segarnya saripati kehidupan (hal. 324)

 

Judul : Riang Merapi

Penulis : Divan Semesta

Penerbit : Anomali

Harga : Rp 83.000,-

 

Review by peta

2 thoughts on “Review Buku: Riang Merapi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s