Bunga Bank Dan Dendeng Kering

(lanjutan notes Lavigne dan Jilbab)

 

“Silakan duduk, maaf dengan bapak siapa?” tanya Customer Service (CS) bank. Customer service yang berseragam biru tua ini berambut pendek, kulitnya putih bersih, kira-kira usianya 26 tahun.

“Nama saya Thomas Djamaluddin tapi panggil saja Udin” jawab udin mantap

“Ya pak udin. apa yang bisa saya bantu”? tanya CS bank kemudian.

“Begini saya mau menutup akun bank saya” jawab udin terus menyerahkan buku tabungannya.

“Maaf pak tidak bisa… bank kami telah bekerja sama dengan universitas bapak. Peraturannya selama mahasiswa bersangkutan belum lulus maka akun bank tidak bisa ditutup.”

“Lho itu urusan bank ini dengan pihak universitas, saya No urusan. Urusan saya bagaimana akun bank saya ini ditutup segera.” udin mulai sewot.

“Maaf pak tetap gak bisa..!”

“Hmmz..” (udin berpikir, sambil menyingkirkan lalat di dahinya). “Ok gini aja, item bunga di akun bank saya dihapus saja bagaimana.. Kan enak tuh, bank ini dapat untung?”

“Itu juga gak bisa pak! Itu sudah sistem bank kami dan saya sendiri tidak tahu bagaimana menghapus item bunganya..”

“Kalo gitu gimana kalau akun bank beserta isinya, saya kasih ke mbak. Anggap saja hadiah ultah mbak atau apalah gitu”

“Wah saya tidak bisa menerimanya pak, itu melanggar kode etik. Ulang tahun saya sudah lewat lagian di rekening bapaknya ini cuman gopeng” sambil menyerahkan buku tabungan Udin.

Tapi Udin malah membalikkan lagi buku tabunganya kepada CS.

“Memangnya bapak kenapa ingin akunnnya ditutup?” tanya mbak CS.

“Oya mbak agamanya islam kan”

“Ya agama saya islam, terus kenapa!”

“Kalau islam sering baca Al Qur’an dong?”

“Ya saya sering baca Al Qur’an, ya terus kenapa” mbak CS mulai sewot.

“Baca Qur’an udah, kalau terjemahannya sudah baca belum?”

“Terjemahannya saya jarang baca!”

“Nah itu dia, mbak CS sih gak baca terjemahannya jadi gak tahu kalau memakan uang Riba (bunga bank) itu haram!”

“tapi bunganya kan kecil kan pak”

“Ya tetap aja mbak, besar atau kecil tetap aja berdosa. Dosa terkecil dari makan uang riba itu seperti berzina dengan ibu kandung sendiri. Mbak mau saya berzina dengan ibu kandung saya sendiri.” Udin pun mulai ngalir ngidul. “Wah mbak saya jadi gak kebayang sanksi yang akan diperoleh orang yang sering makan dari uang riba dan nominal ribanya sangat besar. Mbak bisa bayangin gak? mungkin dia bakal dicelup di minyak panas di neraka sana. Dijadikan dendeng kering ama petugas neraka. Hiii..”

 

Biar gak tambah lama mendengar ngalur ngidulnya Udin, mbak CS memanggil Security bank. Dan meminta Udin untuk pergi karena banyak clien yang antri.

“Sebaiknya bapak segera keluar!” perintah security.

“Ya saya juga mau keluar kog.. saya dari tadi juga kebelet pipis. Udah ya, Daa!”

 

***

Ketika Udin keluar dari Bank, ternyata mbak Rocker yang sebelumnya mengobrol dengan Udin ada di luar sedang menunggu Udin keluar dari bank. Mbak rocker itu kemudian menghampiri Udin.

“Maaf mas saya mau nanya?” tanya mbak rocker.

“Tanya apa mbak. Kalau nanya bagaimana caranya pake jilbab, saya gak tahu mbak. Saya kan pria macho” jawab Udin sambil sok memperbaiki kerah bajunya.

“Bukan mas saya mau nanya, beli Al Qur’an itu dimana ya??”

(tepok jidat) emang benar, kiamat makin dekat.. []peta

 

NB:

Perhatian semua adegan dalam tulisan ini adalah fiktif belaka. Adanya kesamaan baik tempat kejadian, peristiwa, nama dan sebagainya adalah murni kreatifitas ngawur dari penulis, sedangkan yang pasti adalah Al Qur’an. (www.petapemikiran.wordpress.com)

3 thoughts on “Bunga Bank Dan Dendeng Kering

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s