Teknik Perekonomian

Jantung Indonesia berdegup kencang menjelang kenaikan BBM. Riak-riak gejolak mulai terasa dari diskusi santai ala tukang becak di warung kopi sampai Sarasehan Anak Negeri dengan pakar-pakar didalamnya.

Orang yang tidak punya background ilmu ekonomi, mau tidak mau hanya menjadi penonton saja ketika para pakar ekonomi memaparkan analisanya. Analisa yang mereka sampaikan tampak meyakinkan bagiku. Istilah dalam perminyakan mulai dari inflasi, lifting¸ cost recovery, method of decreasing abstraction, putting the flesh on the bones, barel, dsb telah dikeluarkan semua. Tapi apa yang aku ketahui tentang kenaikan BBM, harga minyak dunia atau perekonomian dunia. Pemaparan mereka bukannya membuat ku paham, malah muncul gambaran abstrak dalam kepalaku. Pada akhirnya orang seperti ku hanya mengangguk-anggukan kepala, disaat itulah perbedaan antara kebodohan dan sok mengerti sangat tipis sekali.

“Jika harga BBM naik maka inflasi juga naik” kata seorang pakar dengan kepala botak di tengah. Pakar tersebut terus berhipotesis meninggal kan ku dengan pertanyaan tidak terjawab, Apa itu inflasi? Mengapa harus terjadi inflasi? Mengapa mereka sering mengucapkan kata “inflasi” dibandingkan kata “liberalisasi”? Tampaknya kata “inflasi” memberi momok sendiri bagi para ekonom. Aku mengerti, sama seperti penyebutan “kalkulus” yang terkadang memberi mimpi buruk terutama bagi mahasiswa teknik seperti ku.

***

Berdasar KKBI, inflasi adalah kemerosotan nilai uang (kertas) karena banyaknya dan cepatnya uang (kertas) beredar sehingga menyebabkan naiknya harga barang-barang. Sedangkan dalam buku Ilusi Negara Demokrasi (2009), M Siddiq Al Jawi memberikan ilustrasi yang gamblang tentang inflasi dan hubungannya dengan mata uang islam (dinar dan dirham). Misalkan anda meminjamkan uang kepada teman anda sebesar Rp 100 juta. Teman anda mengembalikan sejumlah Rp 100 juta juga tapi 10 tahun lagi. Samakah nilai Rp 100 juta sekarang dengan Rp 100 juta pada 10 tahun lagi? Jelas tidak sama karena uang kertas rupiah ini akan mengalami depresiasi (penurunan nilai) karena inflasi permanen.

Berbeda dengan mata uang kertas, dinar dan dirham terbukti dalam sejarah sangat kecil inflasinya. Pada masa Rasulullah saw. dengan uang 1 dinar (4,25 gram emas) orang bisa beli seekor kambing dan dengan uang dirham (2,975 gram perak) bisa dibeli seekor ayam. Pada masa sekarang pun, dengan uang 1 dirham orang bisa membeli seekor kambing atau 1 dirham untuk membeli seekor ayam.

Jangankan 10 tahun lagi, uang seribu beberapa bulan saja sudah berbeda nilainya. Semester kemarin dengan uang seribu sudah cukup untuk beli es teh tapi sekarang sudah tidak cukup tuh. Tidak habis pikir lagi, mengapa pemerintah masih menaiki kapal karam kapitalisme padahal sistem ekonomi islam menawarkan kapal pesiar yang terbukti tahan terjangan ombak yang bertubi-tubi. Malah negara-negara Eropa seperti Rusia yang melirik sistem ekonomi islam (perbankan syariah) yang berbasis perdangan riil/nyata dibandingkan sistem ekonomi kapitalisme yang berbasiskan perdagangan uang.

Seharusnya tiap orang melek tentang perekonomian supaya tidak gampang dibohongi atau bersikap latah seperti latahnya pemerintah. Kalau harga minyak dunia naik makan harga BBM ikut-ikutan naik, nah lho lalu apa gunanya negara ini sebagai produsen minyak.

Yah dan aku pun mulai sadar meskipun aku menguasai ilmu perencanaan untuk pengembangan wilayah dan kota atau ilmu untuk membangun gedung pencakar langit tetapi jika tidak adanya pembangunan karena perekonomian yang kolaps dan tidak ditopang oleh sistem ekonomi yang mapan, akhirnya hanya terlahir seorang pengangguran. Mau? []peta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s