Menguji Kemahabesaran Tuhan?

    Tidak terhitung sudah berapa kali dalam sehari dan tiap nafas tubuh seorang hamba sahaya, berdzikir dan menyembah-Nya. Bukan karena Ia butuh untuk disembah tetapi tidak akan tentram seorang hamba sebelum mengingat dan menyembah Sang Kekasih Sejati.

    Sepenggal kalimat di buku Riang Merapi, Divan Semesta, cukup menggambarkan tentang penghambaan ini. Menyembah-Nya merupakan tanda terima kasih seorang manusia, tanda penghambaan, atau tanda penyerahan manusia atas rahasia yang tidak bisa disingkap.

    Allahu Akbar! Allah Maha Besar!

    Dibalik kalimat takbir tersebut, terdapat rahasia yang tidak bisa disingkap! Terkadang aku tidak dapat menggambarkan dengan jelas akan Kemahabesaran Allah. Bermula pada manusia yang menganggap bumi adalah benda raksasa, benda yang menampung ribuan gunung dan lembah, miliaran manusia serta makhluk hidup yang berada didalamnya. Sedangkan matahari meskipun panasnya menyengat, ukurannya tidak lebih sekedar bola basket.

    Manusia lampau terlalu lugu melihat benda ciptaan Tuhan, bulan, matahari dan si raksasa bumi. Betapa takjubnya mereka apabila mengetahui walaupun nampak sebesar bola basket, ukuran diameter matahari 200 kali lebih besar bumi. Kalau mau, matahari bisa saja mengulum ribuan kelereng seukuran bumi.

    Berkembangnya ilmu pengetahuan dan majunya teknologi berbanding lurus dengan bagaimana Allah menampakkan sedikit Kemabesaran-Nya. Manusia membuat teropong untuk menyibak tabir dibalik keindahan taburan bintang di malam hari. Jarak sang bintang 8 tahun cahaya jauhnya dari bumi membuatnya tampak kecil, sekecil pori-pori manusia yang ditenggeri ribuan hewan mikroskopis.

Terlihat bintang-bintang itu ukurannya lebih besar dari matahari. Ada yang 10 kalinya, ada yang 100 kalinya, bahkan 1500 kalinya. Jika diterawang lebih jauh lagi menuju jarak 100 tahun cahaya (cahaya membutuhkan waktu tempuh 100 tahun). Entah apalagi akan ditemui! Belum lagi pada jarak 1000 tahun cahaya, 1 juta cahaya, atau 10 miliar cahaya tahun yaitu jarak terakhir yang dapat diamati oleh manusia.

Jika matahari dan bumi bagai bola basket dan kelereng, bumi menjadi sebuah titik debu yang menempel pada bintang. Dapatkah engkau membayangkannya! Jika engkau tidak bisa, engkau akan sama seperti ku akhirnya menjadi hamba sahaya.

Atau nasib mu akan sama seperti manusia lampau yang tidak mau mengambil hikmah, terperosok dalam lembah kenaifan. “Jika Ia Maha Kuasa, bisakah Ia yang Maha Besar itu menciptakan batu besar, batu yang super besar, hingga Ia tidak bisa mengangkatnya?” [dnk]


Perbandingan Matahari dan Bumi


Perbandingan Matahari dan VY Canis Majoris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s