V’day dan Bisnis Parno!

        Orang Indonesia memang kreatif dan pandai menangkap peluang bisnis. Misalnya saja ketika perayaan Tahun Baru kemaren, terdapat beberapa pengrajin yang memanfaatkan momen tersebut untuk membuat terompet yang beraneka macam dan menarik. Tidak ketinggalan di bulan Februari juga demikian. Bulan Februari identik dengan Valentine day, meskipun budaya ini bukan budaya asli Indonesia bahkan berasal dari budaya Nasrani toh perayaan ini juga ramai di negeri mayoritas muslim ini.

    Lantas jika banyak orang yang merayakan Tahun Baru dan Valentine Day, apakah kemudian merayakannya diperbolehkan? Sayangnya tidak demikian, Baginda Rasulullah SAW pernah mengingatkan, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka”. Anda sudah Gede, saya tidak perlu menjelaskan maksud hadist tersebut bukan. Orang yang terkena virus V’day biasanya sudah dianggap abege, anak baru gede!

    Tetapi tetap saja tiap tahunnya pada tanggal 14 Februari tidak sedikit orang yang merayakan V’day, dengan saling bertukar hadiah berupa bunga merah atau coklat, mengenakan pakaian berwarna merah, saling mengucapkan selamat. Beberapa toko secara khusus bahkan membuat produk bertemakan ‘hati’ mulai boneka, coklat berbentuk hati, dsb. Sebuah market di Bandung malah patut diacungi jempol tengah, mungkin karena coklat mengandung zat Phenyletilamine atau zat untuk membangkitakan Libido, maka market tersebut memberikan promo beli coklat dapat kondom. Jadi pas klop, tinggal luups!

    Jika kamu bertanya buat apa kondom tersebut? Rasa-rasanya tidak mungkin dibuat balon yang berbentuk hati. Berdasar survey 54% remaja bandung pernah hubungan seks, jadi penggunaaan kondom tersebut terkuak bukan! Para pemilik toko yaitu kaum kapitalis sepertinya tidak peduli atau malah tidak mau tahu, bisnisnya boleh atau tidak, halal atau haram. Bagi mereka persoalan ini nomor sekian, yang penting menguntungkan meskipun ini bisnis parno.

Memang pada dasarnya perekonomian negeri ini sudah parno. Tidak percaya, Prof Fahmi Amhar pernah menyatakan ekonomi Indonesia adalah ekonomi mesum. Menurut survei, di Indonesia terdapat 300.000 PSK. Rata-rata tiap PSK melayani 30 tamu dalam sebulan, kalau begitu ada sekitar 9 juta pelanggan PSK! Kalau setahun pelanggan 10x jajan di PSK, berarti ada perzinahan komersil sebanyak 90 juta kali setahun. Jika tiap tamu membayar Rp. 100.000 per kali jajan. Omzet dari ekonomi mesum = 90 Juta x Rp 100.000 = Rp 9 T.

    Akhirnya saya patut bersyukur karena Allah SWT masih bersabar atas kelakuan hamba-hamba-Nya. Bayangkan saja saya sekarang berada di pusat parno terbesar di negeri ini bahkan se-Asia Tenggara. Bisa saja Surabaya disapu Tsunami (meskipun secara geografis, Sby lebih aman dibandingkan Aceh). Untuk itu jangan kaget sekaget-kagetnnya apabila hal tersebut terjadi. Sebelum hal itu terjadi, saya sarankan agar teman-teman sekalian untuk “kaget” terlebih dahulu… Saya persilakan! [dnk]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s