Kritik, Kenapa Tidak!

    Ketika memperpanjang STNK sepeda motor, saya menemui suatu hal berbeda di lembaga kepolisian. Disana terdapat layanan untuk memberikan saran kritik terhadap kinerja lembaga tersebut. Menurut saya tentu suatu kemajuan ditunjukkan kepolisian, dengan terbukanya menerima kritikan masyarakat dan tentunya untuk perbaikan-perbaikan kedepannya. Hasilnya, tidak sampai 15 menit saya mengurus perpanjang STNK.

    Apa yang salah dengan kritikan? jika anda melakukan hal yang benar, kenapa juga takut untuk di kritik. Sebaliknya apabila anda melakukan kesalahan semestinya anda siap-siap menerima kritikan. Orang besar adalah orang yang mau menerima kritikan dan mulai memperbaiki kesalahannya, betul! Tetapi kritikan tentu ada pada tempatnya. Saya jadi teringat saat PKL dulu. Ketika saya menghadap kepala bagian, kemudian sekretaris beliau masuk. Mungkin mumpung ada orangnya, kepala bagian ini kemudian memberi “masukan” kepada si sekretaris. Berikutnya setelah saya keluar dari ruang pak kepala, saya lihat mbak sektretaris yang senang hati mengantarkan teh hangat kepada para mahasiswa ini, terisak tangis!

    Perhatikan, kritik pada tempatnya Ok! Tapi siaplah kalau anda menerima kritikan. Kejadian lainnya terjadi beberapa hari lalu. Memasuki semester baru, tentu ditanggapi berbeda-beda oleh mahasiswa. Apalagi kalau bukan masalah bayar SPP. Teman saya yang beasiswanya belum cair kemudian meminta surat penundaan SPP ke bagian kemahasiswaan. Dia minta surat penundaan H-7 sebelum terakhir pembayaran SPP. Sayangnya kekecewaan yang dia terima, dia diminta usaha cari pinjaman dulu kalau mentok bisa kembali lagi. H-2 pembayaran SPP, dia kembali lagi ke bagian keuangan untuk minta surat penundaan lagi. Meskipun dibuatkan surat penundaan, bagian keuangan sempat mengatakan semoga saja prosesnya tidak lama karena ini mepet dengan hari terakhir pembayaran SPP. Mendengar hal tersebut, tentu teman saya itu dongkol bukan main!

    Saya pikir itulah gunanya layanan saran kritik, dengan adanya layanan tersebut teman saya bisa mengadu disana dan minimal rasa dongkonya berkurang. Di kampus, saya beberapa kali menjadi panitia kegiatan semacam Training Motivasi, Setiap training pasti ada lembar feedback baik ditujukan kepada trainer atau untuk acara training tersebut. Lembar feedback ini tentu sangat membantu untuk perbaikan acara Training berikutnya. Trainer pun ikut “terbantu” saking banyaknya kritikan.

    Nah, kritik itu baik bukan! Terus bagaimana dengan Dewan Terhormat, apa perlu di kritik? Tidak perlu, langsung sikat hehe.
[] INQILABI LSM-ITS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s