Tidak Lulus

Ini adalah surat dari seorang mahasiswa kepada orang tuanya.

 

Ibu dan Ayah tersayang,

    Maaf saya sudah lama tidak menulis surat, tapi sesuatu yang kuisap rupanya mempengaruhi penglihatanku beberapa lama. Masalahnya sudah membaik sekarang. Saat saya berada di ruang gawat darurat, saya bertemu denga lelaki yang baik. Ia memberiku beberapa buah kristal untuk bermeditasi, dan, yah, untuk mempersingkat cerita, keinginan Ayah dan Ibu menjadi kakek dan nenek tercapai. Tak usah cemas. Ia sudah dewasa; dua puluh tahun lebih tua dariku dan memiliki pekerjaan tetap di rumah sakit. Siapa tahu, kami mungkin saja menikah. Saya tahu Ayah dan Ibu ingin menjadi yang pertama tahu.

 

NB: Saya benar-benar tidak menyalahgunakan obat, dan saya tidak masuk sakit, dan saya tidak hamil. Pacar pun saya tidak punya. Tapi saya tidak lulus matematika. Saya cuman ingin Ayah dan Ibu memandang masalah ini dengan perspektif yang benar.

***

    Surat di atas saya petikkan dari buku “Chicken Soup for the College Soul – Kisah Jenaka Dan Menggugah Semangat tentang Masa-Masa Kuliah”. Pertama kali membaca surat tersebut, saya langsung tertawa geli, bagaimana dengan anda? Tapi misalkan paragraf pertama benar adanya, saya tidak begitu kaget. Hal yang biasa di negara barat para pemuda terutama pemudi-nya hamil diluar nikah. Apalagi menjadi pecandu obat-obatan. Darimana saya bisa tahu? bukannya film-film mereka menggambarkannya demikian. Bukan film baratnya namanya kalau tidak ada adegan panasnya. Mungkin anda akan berpikir, itu kan cuman-cuman di film-film saja yang sekedar fantasi, di dunia nyata belum tentu demikian. Baik kalau anda mau bukti, saya panggilkan Alfie Patten, bocah Inggris yang selangkah lebih maju dari saya karena umurnya yang ke-13 sudah menjadi seorang ayah. Masih belum percaya juga saya panggilkan Sean Stewart “The Youngest Father” di usia 12 tahun. Gimana belum percaya juga tatanan sosial di dunia barat sudah amburadul!

    Terlepas dari hal di atas, saya pikir point utama dari surat di atas adalah pemberitahuan kepada kedua orangtuanya kalau dia tidak lulus matakuliah matematika. Lumrah yang namanya orang tua pasti akan marah atau setidaknya dongkol mendengar kabar tersebut. Seakan-akan tidak lulus satu matakuliah, dunia ini akan runtuh. Seolah matakuliah lainnya menjadi bubur. Padahal tidak lah demikian, setidaknya masih ada kesempatan untuk memperbaikinya. Tidak lulus, bukan menjadi alasan tidak mensyukuri kenikmatan lainnya bukan! Tidakkah anda bersyukur anda masih sehat walafiat, tidak menjadi penyalahgunakan obat. Orang tua anda juga masih lengkap untuk selalu mendoakan kesuksesan anda. Dan seperti kata orang bijak, yang penting bukan berapa kali anda gagal tapi bagaimana anda bangkit dari kegagalan tersebut. Yupz lihatlah masalah dengan perspektif yang berbeda dan positif. [dnk]

 

Referensi:

* Canfield, Jack, dkk. 2001. Chicken Soup for the College Soul – Kisah Jenaka Dan Menggugah Semangat tentang Masa-Masa Kuliah. ISBN 979-655-832-7

** Kunjungi, www.petapemikiran.wordpress.com/bukukeren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s